Putri Kecil dan Pangerannya
Seorang putri kecil bermain di taman. Riang.
Senyum manis mampir di wajahnya. Pipinya merah gembung.
Ia main di ayunan dengan sulur tumbuhan merambat.
Tubuhnya berhias gauun terusan sederhana gambar bunga. Berenda.
Taman itu tadinya ramai. Sayang siang sudah.
Karibnya pergi berpisah-pisah. Putri itu juga.
Pindah ke taman yang lebih indah. Pertama-tama.
Cuma sulit juga. Tak terbiasa.
Pelan-pelan ia belajar. Mau juga, tangguh.
Bertekad tanpa suara. Buat orang, selalu.
Kadang keringat turun ke ujung rambutnya yang terurai. Lelah.
Dan di waktu petang, senja di kaki langit, ia tunggu waktu pulang.
Sendiri.
Atau mungkin yang lain? Ah, pangerannya.
Waktu itu sang pangeran lewat. Sekelebat melihat.
Tidak ada yang tahu. Cuma ia seorang, ya dia sendiri.
Ditanyakan tentang putri dari kawan yang dikenalnya.
Diurungkanlah niat. Tapi sesaat, tak kuat.
Pangeran muncul tiba-tiba. Mengajak putri tertawa.
Semuanya. Mainnya. Keluhnya. Sedihnya. Candanya.
Lama-lama tiap hari ada saja.
Tak mungkin hari putri tanpa pangeran.
Tak bisa malam pangeran tanpa putri.
Jatuh cinta namanya. Masih kecil katanya.
Sama-sama nakal.
Sama-sama tulus.
Diboyongnya putri berjumpa permaisuri. Tanpa ia tahu.
Mana mau? Bukan putri kerajaan.
Putri patah arang. Mau pergi.
Pangeran tak peduli. Ditantangnya permaisuri sendiri.
Mereka berkeras hati.
Mereka satu hati.
Jadi? Jadi ada yang namanya berpisah juga.
Pisah tempat saja. Bukan apa-apa.
Hanya jauhnya alang kepalang. Wah.
Dibelah samudera. Dibentengi beda benua.
Satu alasan. Masa depan.
Air mata bikin basah tanah yang mereka lalui.
Cemburu memecah tengkar. Biasa, kata tetua, disebut bumbu.
Pangeran berkelit putri cantik baik hati.
Banyak disuka. Disayang pula.
Dilarangnya ini itu. Tak berlaku buat sendiri.
Habis itu reda juga ujungnya.
Sekarang, di bulan merah jambu.
Sepi menghampiri putri, tak mau pergi.
Ia sampai jatuh sakit. Karena rindu.
Disihir dia jadi uring-uringan. Aduh.
Obat penenangnya ya sang pangeran itu. Seorang.
Sudah dibilang juga. Berulang.
Oleh sebab yang telah pergi dan tak dirasai lagi.
Masing-masing jadi lebih merasa berarti.
Seperti kata pepatah. Lagi.
Lalu seperti - lagi - semua kisah yang dilukiskan para pujangga.
Pada akhirnya,
Mereka berdua hidup bahagia selamanya.
-Untuk kekasihku, Christofer Andrew Limas-
NB : Smoga kamu diterima di Utrecht Universiteit ya, say :)
2 comments :
gila ya, jiwa sastra lu berkembang makin bagus. I LOVE THIS POETRY.
meaningful :)
awet2 ya kalian,
shieron
huah..
g nyangka loe tw2 muncul di sini..
hohoho :)
makasih ya, Shie, dukungannya^^
perhaps "I need ur memory" bt ng-list apa2 aja yg udah kita lewatin semasa SMA..
bt apa? bt gw tulis tntu sj..
gw g mo mengundur deadline lg, hahaha
luv u
.mai
Post a Comment