Berefleksi (dengan perubahan)

Perkaranya bukan saja bagaimana mengutarakan isi hati sendiri tapi bagaimana membawa pembaca turut ke dalamnya... hmm~
Respons
Make them as your eyes-Haryanto

Tentang Menulis
"Kalo loe mau jadi penulis, GUE DUKUNG."-Yorivan
"Mai, loe jgn sampe gar-gara nulis, kuliah loe jadi berantakan, title itu penting."-Shieron

Kurasa aku bukan Minke, seorang tokoh dalam buku Bumi Manusia karangan Pramoedya Ananta Toer. Ia seorang Jawa yang gemar menulis dalam Bahasa Belanda, ia agungkan negeri orang. Aku menikmati karyaku dalam bahasa ibuku, yang kucintai secara mendalam. Beberapa orang bisa katakan hal tersebut pembelaan. Namun kurasai tiap aliran rasa dalam huruf per huruf yang kulahirkan lewat buah pikiranku. Kuhargai dan kusayangi. Namun siapa sangka? Seorang temanku, Min Hau Ong namanya, ingin membaca dan bahasa yang dikuasai dengan cukup baik oleh kami tentu saja Inggris. Entahlah. Kurasa, aku belum siap. Lebih lagi, mungkin ego ku belum berani meruntuhkan idealisme yang telah dibangunnya semula.

***

Sewaktu iseng secara random kubuka-buka foto temanku. Kudapati temannya sudah menulis buku ke-6. Bukan cerita memang, kumpulan status Facebook. Tapi tetap saja, buku ke-6. Kubaca lagi lambat-lambat, tak salah, angka enam. Dan aku? Satu pun belum. Hhh :(

Hari ini, secara tak langsung aku diingatkan. Waktu itu tengah chatting saja dengan Felic. Kusampaikan, "Maap lah, bahasa gw jelek." Dibalasnya, "Bahasa loe jelek, gw apa?" Kukatakan, "Super jelek?" Sahutnya, "Udah gak layak lagi kali dianggap bahasa." Kubilang, "Jangan terlalu merendah lah." Lalu, "Ketepa lu."

Cukup terhentak membacanya, bisa-bisanya masuk lagi telingaku, soal merendah itu. Gemar dibilangnya. Harapanku adalah ia bilang terlalu berlebihan dirinya sendiri ketika menyatakan orang yang dua tiga kali bicara denganku saja sudah mengerti (dan jelas ia tak masuk dalam daftar orang itu). Tapi ternyata tidak. Apa iya begitu kental? Maksudku, sungguh, aku tak pernah berencana demikian atau bahkan dibuat demikian. Hanya saja itu yang kurasa. Merasa bukan apa-apa, bukan siapa-siapa. Bukankah di atas langit masih ada langit? Lebih lagi, buku kursus sahabatku bertuliskan kalimat yang cukup menggelitik, "Orang bodoh merasa dirinya pintar. Orang pintar merasa ada yang lebih pintar."

Seniorku, Felic maksudku, bilang ia merasa menghabiskan recess week ini dengan satu kata : sia-sia. Ibarat disambar petir di siang hari bolong, kalimat-kalimatnya bak menyatakan yang ada di pikiranku. (Atau bahkan kalian mungkin mengkategorikan kerjaanku sekarang ini, menulis maksudnya, dalam hal yang menyia-nyiakan recess juga?) Baiklah, setidaknya aku punya penyangkalan. Sebabnya yaitu punya cukup kegiatan berkesan bersama anak-anak Sanur. Bayangkan! Tak semudah itu mengajak Tiff keluar jalan! Okta dan Ika saja menyerah sudah. Perlu cara me-lobby tersendiri baginya dengan serangkaian hal-hal yang ia tak mau semisal menonton, kembali lewat pukul lima petang, tempat ramai, dan lain lupa (=dll). Beberapa jam ber-skype dengan sahabatku, Shieron, sambil tertawa dan bertukar cerita. Juga dengan keluarga, ah, sudah lama rasanya tak kurasakan suasana seperti itu.

Jadi, aku tak mau menyesal. Tidak guna juga.
Meski kuakui, belajarku tak sebanyak-banyaknya.

Yang penting sekarang, bukanlah soal setengah mati meratapi hal yang telah terjadi.
Telah lewat dan tak kan kembali.
Melainkan bagaimana kita memperbaiki sisa hari.

SEMANGAT SEMUANYA!!!
PASTI BISA!!!

---

"Harus optimis, Mai"-Yorivan Iliadi.
*dalam hati -> "Tapi juga harus realistis lah."*

0 comments :