Penyalahgunaan Normakah?
Sekarang ini, sudah tidak zaman cowok-cowok cuma jual tampang. Mesti jual karisma dan bakat juga.
Love is like Math. It has to be tested.-Ku Cheng Yeaw
Belakangan ini, aku mendapati lecturer Multivariable Calculus-ku cukup terampil dalam memberikan kata-kata di akhir lecturer-nya. Antara memberi selamat libur dalam rangka Chinese New Year dan aatau memberi semangat dalam menghadapi mid term test. Kubagikan hal tersebut pada sejumlah orang via Facebook. Hasilnya?
Beberapa anak Sanur seangkatanku yang tak sengaja kembali reuni kecil lewat lempar melempar komentar jadi membicarakn dosen kami. Vinia berkata, "EH MAI DI SINI GURU FISIKA GUE YG GANTENGNYA GAK KARU2an . KAYA ARTIS. ganteng abis. naik mobil sport lagi, hape iphone, anjing st. bernanrd, guru basket juga--> badan bagus!" Lia bilang, "gila.....enak abis....kalo gw...ud kyk sampah...mana medok lg...kirimin satu donk....hahaha." Kutunjukkan mana yang namanya Ku Cheng Yeaw dan mana yang menurutku lebih tampan, Ng Kah Loon tentu saja. Selanjutnya, hal yang dikatakan "virus" oleh seniorku itu menyebar hingga Indonesia, Jerman, dan NTU. Yup, NKL mendapatkan tiga fans baru.
Perbincangan ini mengingatkanku bahwa tipe cowok anak-anak Sanur didefinisikan oleh sebuah majalah remaja dengan "kayak guru mereka". Kurasa persoalannya bukan demikian. Itu hanya soal kami lebih punya tendensi mengapresiasi dan mengagumi guru-guru kami dengan kata-kata enteng seperti "Ganteng banget seh!" (yang sebenarnya merujuk pada cara mengajarnya) atau "Keren gitu" (yang sebenarnya mengacu pada piawainya menjawab soal) serta kemudian berujung ke gemar diajar.
Kalau mau jujur, jelas ada suatu beda dengan dominansi pengungkapan remaja-remaja putri yang notabene menggandrungi sejumlah band papan atas, penyanyi, artis, model, pula selebriti lainnya.
--------
Istri dari seorang guru Fisika SMA-ku pun adalah alumni Sanur. Lebih lagi, kabar burung yang terakhir ini soal siswi punya hubungan khusus dengan seorang karyawan. Di sinilah titik awalnya. Ada yang merespon dengan "That is really not...good." Aku tidak memberikan pembenaran atas diriku sendiri bahwa aku ini sedemikian lumrah sehingga tak ikut cukup dibuat kaget mendengar kabar tersebut. Hanya saja, menurutku, respon di atas sedemikian negatifnya.
Lalu otakku bekerja menganalisanya (yang dikenal oleh beberapa seniorku di sini dengan kata "protes"). Di bagian manakah "not good"-nya? Maksudku, sungguh, penyalahgunaan normakah? Bisa kau jelaskan padaku? Sebab aku belum bisa melihat sisi kontranya dengan alasan yang berbasis. Baiklah, jika "tidak wajar" atau "tidak pantas" itu berbasis, hal yang kukatakan sebelumnya jelas tidak lagi valid.
Hanya saja kutegaskan di sini. Bukankah ia tidak merugikan kepentingan orang lain? Baiklah, sebut bahwa orang tuanya malu dipergunjingkan. Tapi apa yang salah dengan cinta? Apa persoalan yang mendalam dalan konteks ini? Aku benar-benar berada dalam ruang penuh tanda tanya. Terlebih, soal pergunjingan itu bukankah pada akhirnya kembali pada keadaan yang diciptakan dengan latar belakang indoktrinasi? Pemikiran publik yang terbentuk bukanlah suatu pemikiran murni yang didasarkan oleh masing-masing individu,. Jadi, sudah terkontaminasi dengan yang namanya "kata orang" atau "pandangan orang". Bukan suatu hal yang mudah memang merombak paradigma dasar sejenis ini. Namun apa salahnya berpikir sejenak?
Kembali, soal umurkah? Sudah berapa banyak pasangan beda umur signifikan ada di dunia ini. Apakah kasus-kasus mereka tidak sedemikian dipersoalkan karena kedua belah pihak tidak berada dalam suatu instansi tertentu di bawah naungan lembaga atau institusi pendidikan? Toh selambat-lambatnya tiga tahun kemudian, ia akan lulus dari jenjang pendidikan tersebut.
Apa berikutnya? Status sosial diperdebatkan juga? Aku sudah muak dengan pandangan konvensional yang menjembatani antara cinta dan status sosial. Di sini, aku bicara BUKAN soal untung rugi. Ini soal perasaan, soal hati. Seperti sebuah kutipan yang pernah kudengar, "Kalau dunia ini, yang kaya nikah sama yang kaya, yang miskin sama yang miskin, maka dunia ini akan terbagi menjadi dua." Kalaupun, ada yang namanya "kerugian" seperti misalnya "udah disekolahin mahal-mahal, jadinya sama karyawan", jelas itu bukan suatu hal yang masuk dalam kategori "kesalahan". Sedangkan yang sedari tadi kupertanyakan adalah adakah yang salah dengan hal tersebut.
Kerugian != Kesalahan
Dianjurkan jangan != Tidak boleh
Maka, norma apa yang dilanggar di sini?
Adakah yang bisa membantu?
0 comments :
Post a Comment