Sungguh Lelah

Dua hari lagi, genap sudah “liburanku” (entah sungguh bisa disebut demikian atau tidak pada akhirnya) di Indonesia selama dua pekan. Aku tidak pernah menyangka kalau setengah bulan (dan, wow, setengah bulan itu terdengar lebih lama daripada dua pekan, efek lebih bombastis). Lalu apa yang kulakukan di sini? Tak banyak rasanya. Yang jelas aku lebih produktif dalam menulis dan iseng-iseng dalam hal yang sama. Meski sampai sekarang juga belum ada kabarnya. Apa mungkin aku harus berhenti bermimpi?

Ada beberapa DVD yang sempat kubeli di awal-awal liburan bersama ibu. Kudapati bahwa banyak sekali di antara mereka melibatkan anjing di dalamnya. Kuberi tahu, film natal dengan ada anjing di dalamnya itu sungguh menyenangkan untuk ditonton. Minimal untukku, yang gampang lumer akan sesuatu berkata sifat : cute XD

Indonesia membuatku lebih banyak tidur, lebih banyak menghirup polusi, lebih banyak terpanggang di bawah sinar matahari, lebih banyak membuarku “errr”. Bahkan pernah di suatu titik, ketika aku mulai blur dengan jalur busway, yang penunjuk arahnya juga tidak jelas-jelas amat, yang antrian masuknya menyebalkan, dan lainnya, aku merasa hilang di kampung halamanku sendiri. Selanjutnya sebuah kalimat lewat di kepalaku, kupertanyakan, “Kurasa, aku mulai merindukan Singapura.” Wew >,< Belum lagi jadwal kuliah sahabat-sahabatku yang berbeda menyebabkan kami sulit bertemu satu sama lain. *Serius lah, apa aku sungguh-sungguh harus percaya pada kata-kata seniorku? Bahwa cepat atau lambat kami akan tidak nyambung lagi :(*Jadilah sampai saat ini aku hanya bertemu satu temanku saja, Shieron, Com Science UI. Kawanku juga tidak ada yang bisa ikut ke Sanur saat pengakuan dosa. Ah, menyedihkan.

Jadilah aku lebih banyak menghabiskan waktu di rumah atau menemani ibu. Ya, kata adikku, mama lebih enggan pergi semasa aku di Singapura. Menurut mama, itu karena Mei-Mei gemar mengeluh. Adikku yang paling besar lebih suka di rumah dengan selingkuhannya, computer, atau HTS-annya, gitar (termasuk SMS an dengan TTM2-nya, ok, yang ini sungguhan, real). Hahaha :D *adik saya memang magenta (magnet wanita-red)* Sedangkan adik bungsuku juga lebih suka di rumah. Entah mengapa. Dulu ia lebih ngikut kalau diajak ke mana-mana. Terus terang, sedikit banyak aku mulai khawatir mendengar hal mengenainya dari ibuku. Katanya, Kai-Kai sekarang nilai-nilainya meningkat. Ia menjadi siswa (maksudku, murid laki-laki secara khusus) dengan nilai gemilang. Sementara kawan-kawannya banyak dipanggil karena nilai-nilai kebakaran. Hanya saja, dampak dari itu semua, ia jadi terkesan sedikit, well, ansos. Lebih suka belajar daripada main. Juga jadi jarang bicara. Kebetulan, lingkungannya malah tidak suportif, ibuku bilang, sewaktu nilainya baik, temannya malah mendorong-dorongnya dan berkata, “Michael neh...” Baiklah, seharusnya itu hanya bergurau. Jangan sampai prestasi adikku harus dibayar dengan keansosannya. Ya ampun... Aku memang ingin adikku pintar dan berprestasi. Tapi aku jelas tak mau interaksi sosialnya terganggu. Jadi nerdy, freak, or geeky gitu. (Ngomong-ngomong, ada yang pernah liat restoran bakmi di daerah Pasar Baru? Beberapa hari lalu aku melewati daerah sana, melihat symbol restorannya dari Betha dan Rho karena akronim nama restorannya BP. Saat itu juga, aku merasa kalau yang punya restoran itu adalah jebolan anak IPA. Hahaha :D)

Menyenangkan melihat kejadian random yang mengingatkan kalau masih banyak “random kindness” Hari ini aku melihat secara random seorang penumpang bajaj yang menawarkan makanan ke si pengemudi. Ingatanku kemudian kembali ke 14 Des 2010. Aku melihat petugas busway yang menjawab pertanyaan penumpang dengan ramah. Seorang lagi peduli apakah penumpang yang terburu-buru masuk ke bus akan memasuki bus yang benar atau tidak. Seorang lain lagi menuntun orang buta dengan penuh hati-hati. Maksudku, sungguh, mereka bisa saja menjawab seadanya, tidak pedulian, dan malas-malasan. Seperti yang mungkin sering juga kita lihat. Tapi mereka tidak demikian. Dan hal sederhana semacam itu, bisa mempengaruhi mood-ku hari itu. Kau bisa bayangkan bagaimana hal-hal yang lebih hebat lagi mempengaruhi mood-ku secara luar biasa dramatis. Sigh. Aku pun benci perasaanku saat ini. Aku telah dibuat lelah olehnya. Tersiksa! Mungkin sebentar lagi aku (ingin) mati rasa :’(

0 comments :