Gue Belom Siap
tentang Mr. Jack of All Trades
“Perlu gue hantarkan ke sana dulukah buat menyapa gitu?”
“Jangan, jangan, gue belom siap.”
“Ya ampun, siapin dulu deh kata-katanya.”
Kamu duduk di situ. Diam dengan tenangnya membaca buku di balik kacamatamu. Aku ingat dulu ada berkata soal kau lihat duniamu di balik kaca dan aku melihat duniaku, dirimu, tanpa kaca. Entah seberapa besar kucurahkan perasaanku padamu waktu itu. Tidak tahu seberapa dalam. Sampai-sampai sekarang ini aku masih enggan menatap dalam-dalam cahaya matamu. Masih gentar mendengar suaramu. Bukannya aku takut pesonamu kembali mengguncang relung hatiku. Bukan juga takut gemetar kalau sampai aku luluh lagi karena sempurnanya dirimu-menurutku setidaknya.
Sudah beberapa pernah dan tengah singgah di hatiku. Namun bayanganmu rasanya tetap ada, sebagai orang yang kukagumi tentu saja. Tidak bisa dan tidak boleh lebih. Bagaimana kamu dan hm, kelincimu? Entah itu benar atau tidak, aku hanya lancang membaca tulisan indahmu. Sudah kudengar lebih banyak juga tentangmu. Tapi kenangan tidak akan mau menghilang. Suasana yang pernah ada pasti tetap terngiang. Bagaimana aku mengurung dan mengunci perasaanku rapat-rapat. Tidak mau kau tahu karena ketidakberanianku. Memang, pengecut. Rendah diri yang menyebabkan aku begini. Jika ada yang kusesali, yaitu tak kusampaikan isi hatiku dulu.
Aku bukan tidak mau. Aku hanya belum siap. Belum siap mengambil sikap akan keberadaanku di sekitarmu. Belum tahu juga harus bagaimana. Tidak mau mengambil risiko juga kalau nanti malah jadi salah-salah. Mungkin aku lebih memilih melihatmu dari kejauhan. Berpuas memandangimu diam-diam. Seperti yang aku lakukan sewaktu dulu. Dan bermimpi bisa punya obrolan panjang denganmu. Kurasa yang paling panjang itu di tepian lapangan olahraga sekolahmu. Betapa keukeuh-nya aku ingin menemuimu, mengaturnya terlihat seperti kebetulan. Oh, Tuhan, romansa remaja. Mungkin aku lebih menginginkan curi-curi mendengar suaramu. Ketimbang memulai pembicaraan dan berakhir tak di mana pun. Sembari berharap kau akan menyapaku lebih dahulu. Pemikiran bodoh.
Tuan Tahu Segala dan Tuan Dengan Aura Misterius, kau membuatku uring-uringan.
Harus apa aku sekarang ini tiap ada kamu?
Dan sekali lagi, kamu sanggup membuatku menulis tentang dirimu.
Bahkan meski aku sudah tak punya perasaan apa-apa terhadapmu.
Sungguh, apa-apaan ini?
0 comments :
Post a Comment