Seharian Penuh
Kamu tahu?
Banyak sekali yang kudapat sepulang dari Indonesia. Tapi yang paling menyenangkan adalah hal yang tak kuketahui dengan benar cara menggambarkannya, yang selama ini biasa kusebut dengan celetukan. Kuterka-terka, seandainya aku punya buku harian yang kubawa kemana-mana seperti Princess Diary. Ditambah jika aku cukup antusias dan memiliki niat yang tinggi untuk selalu menuliskan kejadian yang kualami, rasa-rasanya akan banyak hal-hal lucu dan menarik memenuhi buku itu dengan segera. Sayangnya, aku tak memiliki hal-hal tersebut. Hahaha :D
Hari-hariku sering kali diawali dengan celetukan-celetukan bersama dengan anggota rumah yang lain, minus ayahku. Ia jarang bersenda gurau. Tipikal yang serius, terlalu serius sampai sulit diajak bicara. Lagipula, ia sedang tak di rumah siang ini. Jadi, aku, adikku yang bungsu, dan adikku yang pertama bisa-bisanya mengembalikan ingatan kami akan hal-hal konyol. Bagaimana kami bisa menciptakan kata “Pipong Sigi, gigi ompong ga sikat gigi” dengan nada yang agak-agaknya kami ambil dari sebuah lagu. Sedangkan “Pipong” itu sendiri adalah cara bagaimana kami memanggil adik laki-laki dari ibu kami, entah darimana, tapi jelas kata itu bukan kata yang semestinya. Belum lagi kami tiba-tiba membicarakan bagaimana adikku yang pertama menciptakan sebuah lagu dari kegilaannya menonton Power Rangers. Well, jika ada yang lebih gila lagi dari itu, mungkin aku, karena aku sampai datang ke acara di mana mereka-mereka itu, yang memerankan Power Rangers, datang ke Jakarta. Oh, Tuhan, aku bahkan tidak pernah ingat akan hal tersebut. Adikku yang pertama menciptakan lagu pertamanya di usia yang belum sampai 2 digit. “Ko Ko *ya, dan bukannya “Go Go”* Power Ranger, ada robotnye *ya, dan bukannya “nya”* Juga ada tembakan yang lain, juga ada panahnye, juga ada tembakan yang lain lagi (dan begitulah ia menyebutkan apapun yang ada dalam film Power Ranger dan jika ada beberapa jenis, ia akan menambahkan “yang lain” atau “yang lain lagi”, atau “yang lainnya lagi”). Mungkin tingkat kreativitasnya kala itu sedang membumbung tinggi, sampai meluap-luap.
Di sini, aku bisa menjadi diriku sendiri. Yang rada konyol menurutku. Tanpa peduli bagaimana anggapan orang. Kurasa, tidak akan ada lagi orang yang bilang kalau aku kadang “take things too seriously”, coz I’m not! At all. Hohoho~ Even adikku bisa berkata, “Stress ya loe, Ci?” usai berkali-kali bilang “Ga Hoole” dengan style Soren, ga ada angin, ga ada ujan :P Mungkin benar kata Felic, aku lebih seradak-seruduk (atau grasak-grusuk ya tadi istilahnya).
Perkenalkan, yang bisa menerimaku apa adanya : keluarga.
Perkenalkan juga, aku punya adik yang pencemburu. Adik bungsuku. Ia pernah cemburu pada Albert. Seorang yang sampai sekarang pun masih disebut mama sebagai “Adek loe”. Aku baru mengetahuinya setelah meminta kaus CC dari dede. Kata mama, “Adek loe yang itu? Udah ga di CC ya?” Lalu aku sadar bahwa ia mengacu pada Albert. Ya, Kai-Kai sempat cemburu pada Albert. Mungkin karena ia merasa perhatianku cukup besar padanya. Sekarang? Ia sempat cemburu pada Justin nampaknya. Justin adalah nama yang kuberikan pada seorang anak berumur 1 tahun 5 bulan yang kujumpai di Under Water World-Sentosa. Entah mengapa anak itu nggelayut denganku. Mulai dari menggandeng, bersandar minta dipeluk, sampai dipakaikan topi. Tapi yang paling penting, anak itu sungguh manis *oh, aku meleleh*. Kai-kai sampai ikutan bersandar padaku sewaktu menonton TV, dan aku? Kontan meledekinya. Alhasil, ngambek lah ia. Ya, ya, harus kuakui, mungkin benar kalau sedikit banyak ia sepertiku. Hahaha :D
Kai-Kai sempat (sok-sok) bercerita pada mama, “Ma, cici kog abis pulang suka peluk-peluk gitu ya.” Dan mama beragumen dengan apapun itu yang tidak bisa kuingat. Kalau tidak salah, soal boneka ku, yang sekarang ini tidak bisa kupeluk. Kai-Kai menghibur dirinya, “Tapi cuma sama Kai-Kai loh.” Mama pun menyerah, “Ya berarti cici sayang tau sama kamu.” Aku? Pura-pura tidak mendengar pembicaraan itu sampai mama sendiri yang bercerita.
Mei-Mei, satu-satunya adik perempuanku, meminta dibelikan sepatu untuk Kempos (= Kemping OSIS) *entah darimana asal muasal nama itu, yang jelas , cukup untuk membuat orang bertanya-tanya, “Yo olo, itu istilah dari mana seh? Siapa coba yang bikin?”*. Maka aku, mama, dan ia sendiri tentu saja pergi ke ITC Cempaka Mas, Carrefour. Aku sekalian mencari sprei bergambar Rapunzel (atau kalau-kalau ada Legend of Guardian juga aku tetap senang) yang sayangnya tak ketemu :( Bosan saja dengan gambar sprei ku yang sekarang dan ingin mencoba tidur dengan sprei bergambar dari dunia dongeng. Oh, aku kena sindrom a-happy-ending-story sampai ke tempat tidur. Hahaha XD
Usai melihat-lihat HP di lantai 4, kami makan di HokBen. Mei-mei mengeluh lapar. Di sana diputar lagu Peterpan. Wah, aku kembali ingat bagaimana band itu sempat jaya. Bagaimana sekian lagu keluar, sekian lagu juga enak didengar. Sekian album, sekian album juga kubeli kasetnya. LOL
Obrolan soal Ariel pun tak terelakkan. Kata Mei-Mei, “Enak-enak ya lagunya.” Dan lagu Tak Bisakah sewatku kami mengantre makanan pun sudah berganti dengan Kupu-Kupu Malam. Yang berikutnya adalah rasa simpatik, “Kasian ya, Ariel.” Ya, memang, kasihan, karena kecerobohannya sekarang karirnya hancur. Kata Mei-Mei, dipenjara 12 tahun. Padahal menurutku ia tak salah, bukankah banyak yang mendokumentasikan hal-yang-tak-boleh-disebut-itu untuk kepentingan pribadinya? Dan masa’ dia yang menyebarkan? Toh itu aib nya sendiri. Kata Mama, cewek-cewek (ya, ia punya banyak video rekaman) juga telah mengakui bahwa itu mereka, termasuk Cut Tari. *sekarang, “Kukatakan Dengan Indah” sedang diputar* Wew, sekarang saya bersimpati pada suaminya. Ia pernah menyatakan ke media bahwa ia percaya pada istrinya, yang sekarang ternyata ketahuan main gila di belakangnya dengan cowok lain. Bahkan, suaminya menemani waktu Cut Tari memberi pernyataan ke pers. OMG, “Mei, cari cowok kayak gitu, yang udah digituin aja, masih maafin n sabaran,” kataku ke adikku. *sekarang, “Di Balik Awan”* Sekarang, tinggal Luna Maya yang tidak mengaku. Tapi tetap saja, karirnya juga hancur. Kami pun beralih ke Luna Maya juga baik, udah tau Ariel main cewek, tapi tetep ditungguin. Ok, saat ini, gue ngerasa blog gw kayak infotainment basi yang ketinggalan berita. Hari gini masih ngomongin kasus Ariel coba. Mei-Mei kembali nyeletuk, “Kasian ya, Ariel.” Aku yang mendengar lagu di bagian ia harus menahan satu suku kata entah berapa ketuk di lagu “Mimpi Yang Sempurna” menjawab, “Ya, biarin. Toh dia dibayar.” Mei-Mei bingung, “Hah? Emang dy begitu dibayar?” Baiklah, aku pun sadar sudah tidak nyambung dan tawa kami pun pecah. Kami terus berbicara akan banyak hal, bukan Ariel saja tentunya. Sampai lagu “Hari Yang Cerah Untuk Jiwa Yang Sepi” juga “Sally Sendiri” habis.
Membuatku merasa ketinggalan banyak cerita.
Banyak kejadian yang terjadi di Indonesia.
Banyak hal yang belum kuterbiasa.
Arah saklar Indo dan SG ku berbeda. Jadi saat aku matikan di sini, di sana berarti nyala, dan sebaliknya.
Stop kontak Indo dan SG juga berbeda. Saya sampai salah bawa connector. Lalala~
Jam di mana-mana berbeda. Jam laptopku masih SG. Jam HP ku sudah jam Indo, aku baru tahu itu. Jam tanganku masih SG. Jam rumahku masih Indo. Ya iyalah. Kalau bukan Indo, mungkin diimport? Hmmm~ XD
Sampai di malam hari, ketika aku mendapati Kai-Kai tiba-tiba memeluk dede dan berkata “Boo Boo”. Membuatku merasa melihat diriku sendiri. Ah, apa saja yang sudah kulewatkan di sini?
1 comments :
Enjoy holiday!! =D
Post a Comment