Rintik Hujan

Tatapanku tertambat pada seorang anak kecil
Pikir-pikir
Hujan banyak membawa kebahagiaan bagi orang banyak

Anak kecil tadi membawa payung besar bersamanya
Ia rela hujan-hujanan, membiarkan orang untuk memakai payungnya
Dengan itu ia bisa makan

Anak kecil lain
Memang sudah hujan-hujanan
Membasahi kaca jendela kendaraan umum dengan air busa sabun di botolan
Mengelapnya dengan spons di tangannya yang satu lagi
Setengah memaksa
Melakukan tanpa diminta
Dan hasilnya, tolong jangan kau tanya

Lainnya
Pedagang kaki lima akan sedikit tambah laris
Orang-orang yang menunggu di tepian jalan
Akan makan jika bosan
Menghangatkan badan
Ditemani rintik hujan

Lalu aku?
Aku memilih berkutat dengan pikiranku
Bersama perasaanku
Di balik kaca jendela yang kaku
Mengingatnya bersamaku
Lagi, ya, kamu

Sebagaimana rasa bersalahku bersarang di dada
Sekuat itu bisa membuatku sesak

Bagaimana meninggalkanmu di sana
Menanggungnya sendiri
Bagaimana aku telah jahat pada orang yang kusayangi
Menyakiti hati
Sampai sekarang ini
Air mata jatuh ke pipi

Rasa lelah ini tak terganggungkan
Ingin mengurung diri menjauhi, melupakan semua
Sayang aku hanya akan berpura-pura jadinya
Menciptakan kebohongan baru dari hasil menghindar

Sendu memasuki sendi
Menggerogoti diri dengan kelam yang dingin

Entah sampai kapan aku begini

1 comments :

Anonymous said...

Emosi km sebagai penulis bisa terasa sekali di puisi ini. (ciri khas seorang penulis)
Mungkin saya tidak tahu-menahu persoalan yang sedang km hadapi. Tapi seperti kata pepatah:
Tidak pernah ada kepastian kapan hujan akan turun, tapi matahari pasti akan selalu bersinar kembali setelah hujan itu. =)