Seminggu Lagi: Pesta Demokrasi
Disadari atau tidak, diakui atau tidak, perubahan biasa diharapkan oleh orang-orang yang tidak bahagia dengan keadaannya. Yang mengharapkan suatu yang lebih baik daripada apa yang mereka dapatkan sekarang. Namun, kenyataan lain bahwa manusia tidak pernah puas menandakan perubahan tidak akan ada hentinya dan bisa terjadi di mana saja. Hanya saja, yang namanya relativitas, bisa kita katakan bahwa perubahan akan terjadi lebih banyak di golongan yang tidak bahagia atau punya atribut buruk lainnya, termasuk di dalamnya: negara berkembang. Meski terdengar lebih baik dari pada maknanya, “Negara berkembang” intinya adalah negara miskin yang belum bisa bersaing dengan negara-negara maju di kancah internasional, sederhana, karena mereka masih dalam tahap yang dinamakan “berkembang”.
Demikian pula yang terjadi di Indonesia. Menyambut pesta demokrasi yang lebih akrab dipanggil dengan sebutan “pemilu” ini, banyak sekali hal-hal bermunculan. Kusebutkan perlahan secara berantakan: komik guyon ilustrasi soal Jokowi nyapres, artikel yang saling menjatuhkan capres (ya, kita tahu bahwa ini tak lain tak bukan juga adalah hasil dari media online yang diinjeksi unsur politik), foto-foto kampanye caleg konyol (mulai dari Kung Fu Panda, Barrack Obama, sampai Kesatria Baja Hitam), tak terlupa dukungan (fanatik) dari para pemilih. Satu kata: ramai. Anak-anak muda yang tadinya masih identik dengan status apatis mereka soal politik, mendadak menjadi melek politik, malahan lebih antusias. Dunia yang tadinya dicap kotor oleh masyarakat ramai, mendadak jadi perbincangan segala lapisan karena agaknya muncul secercah sinar terang. Manusia dengan harapannya adalah bukti dari kepercayaan yang masih hidup.
Yang lebih luar biasa lagi adalah salah satu capres Indonesia masuk dalam jajaran The World's 50 Greatest Leaders versi Majalah Fortune. *Nomer 1 nya Papa Francesco, btw. He is also the Person of the Year 2013 versi Majalah Time. Oh, man...he is so cool! As a Catholic, I'm really grateful to have him as e Saint Peter's successor :)* Woots...I mean, I didn't expect that to happen, to be honest. Entah hal itu bisa terjadi dalam berapa tahun sekali. Bisa dikatakan, ini merupakan pencapaian, merupakan pembuktian bahwa ia tergolong sosok yang cukup signifikan untuk masuk dalam kategori yang bahkan Barrack Obama tak lolos untuk masuk di dalamnya. Semoga saja fenomena "pilih yang ganteng atau yang cantik" bisa berkurang. Semoga saja kecenderungan masyarakat untuk skeptis pada pemerintah bisa mereda sehingga mereka tidak lantas menambah jumlah golput. Jika kau merasa tidak ada kandidat yang baik untuk negeri ini, kenapa kau tidak mengajukan dirimu sendiri? Dan jika kau tidak merasa cukup baik ataupun peduli, kenapa tidak bisa kau berikan kesempatan bagi mereka yang setidaknya mencoba? Berhentilah menjadi duri dalam daging yang tidak mau memberikan keputusan dan dukungan, yang memadamkan api perjuangan orang untuk membawa perubahan.
Hari, Tanggal: Minggu, 6 April 2014
Waktu: Pk.08.00 s/d. Pk.17.00
Tempat: KBRI Singapura, 7 Chartsworth Road, Singapore 249761
Gunakan hak pilih Anda dengan bijak, kawan! Karena satu suara saja, menentukan nasib bangsa!
---
Bicara soal politik, melihat ke belakang, agaknya aku cukup beruntung bisa punya kesempatan untuk mewawancarai sejumlah tokoh ternama. Dimulai dari Anies Baswedan, berlanjut ke Hatta Rajasa, dan beberapa caleg muda di Pemilu 2014 nanti: Michael Sianipar, Imelda Sari, Yoga Dirga Cahya, Lathifa Anshori, Aryo Djojohadikusumo. Meski ada rasa aneh menyaksikan penampilan dan mendengar suaraku sendiri, tak bisa kupungkiri juga bahwa ada rasa bahagia dan bangga melihatnya. Hey, that's me! And the fact that there was actually people approached me after the event, asked me whether I would be available to be his event's MC, it's (in one way or another) a form of appreciation, I think. Meski tidak pernah benar-benar sekolah jurnalistik, aku masih bisa menulis dan ikut acara ini itu. Seringkali aku berpikir, mungkin memang di sini duniaku. Mau berlari dan pura-pura lupa macam apa juga aku akan kembali. Selanjutnya, di malam yang biasa, aku memutuskan untuk kembali melihat-lihat tulisan lama. Membacanya secara acak. Yang orang bilang nostalgia. Tetap ada rasa itu, rasa menggelitik atas tulisan-tulisan yang lahir atas nama cinta, rasa tak habis pikir bahwa aku bisa bicara begitu banyak, rasa tidak biasa membaca tulisan sendiri dengan gaya bahasa yang sebenarnya diriku sendiri. Seorang selalu merasa aneh, tergelitik, tersenyum, tak habis pikir melihat foto lamanya, bukan? Ya, begitulah kira-kira. Meski tak sama tentu saja. Namun yang perlu disadari adalah mereka (tulisan dan fotomu itu) berperan sebagai pengingat serta bukti sejarah akan adanya dirimu yang dulu. Melalui mereka kita bisa melihat perubahan dan perkembangan dari masa ke masa mengenai diri kita sendiri. Bagaimana kita berubah, menjadi yang (kuharap) lebih baik. Dan sebenarnya meskipun tidak semua pengalaman indah, mereka pantas untuk disyukuri. Karena kadang apa yang kita lalui tidak harus melulu indah dan baik-baik saja, kadang kita belajar lebih banyak dari yang menyakitkan. Dan yang menyakitkan itu ada, sehingga kita bisa lebih mengerti dan mensyukuri lebih dalam akan arti dari sebuah kebahagiaan.
Trust me, nostalgia itu menyenangkan ;) dan diperlukan! karena kurasa sebenarnya ia adalah bagian dari retrospeksi dan refleksi.
---
Dari Kiss FM
Sejak punya iPod, aku jadi gemar mendengarkan radio, lebih spesifik lagi: statiun 92.0 Kiss FM. Aku pun tertarik dengan iklan sebuah maskapai penerbangan dengan kalimat iklannya yang mempertanyakan apa bedanya maskapai penerbangan tersebut dengan seorang pacar. Kemudian iklan itu menjual "You don't need to feel insecure" nya dengan memperkenalkan jasa asuransi yang terkait. Perihal analogi ini kemudian mengingatkanku akan "Teori Cari Pacar Kayak Cari Sepatu" yang entah dapat ilham dari mana, kuciptakan dan sudah kubagikan ke beberapa orang. Minimal Ji, Novi, dan Arif sudah jadi "korbannya".
So, here it is...
Cari pacar itu mirip-mirip kayak cari sepatu
Kalau kita cari sepatu, kadang kita udah punya sejumlah kriteria tertentu dan ketika kita coba cari, rasanya susahhh banget ketemu yang kita mau, yang bisa cocok sama kriteria tadi. Sama, cari pacar juga gitu. Ketika kita udah nentuin sejumlah kriteria, pandangan (dan hati) kita jadi tertutup sama yang lain, bahkan meskipun ada yang lain, yang sebenernya bagus juga. Tapi karena semata-mata ga memenuhi kriteria yang kita mau, jangankan dicoba, diliat aja nggak. Tapi kita tahu, bahwa beberapa kriteria itu sebenarnya ada karena beberapa hal yang ga bisa kita tolerir. Kalau kita ga biasa pake hak tinggi, ga mungkin kan kita paksain buat beli stiletto? Yang ada nanti sakit, keseleo, atau malah ga pernah dipake ujung-ujungnya. Sama, kalau kita merasa ga bisa tolerir dengan yang namanya, let's say, beda agama, ga mungkin kan kita bela-belain pertimbangkan. Yang ada nanti jadi ga bisa jalan, sakit, tumbang, ditinggalin dan menyesal.
Kadang, ketika kita lagi jalan-jalan santai aja, tanpa tujuan untuk cari sepatu, kita bisa ketemu sama satu sepatu yang menarik perhatian kita. Lantas kita jadi bingung, apakah harus beli atau nggak. Karena tujuan awalnya ga ada cari sepatu. Kalau kita akhirnya memutuskan untuk beli, mungkin yang terjadi adalah ga ada nomer yang cocok, ga ada warna yang kita mau, ternyata di kaki ga cocok jatohnya. Sama, cari pacar juga gitu. Ketika kita lagi menikmati hidup single, tanpa tujuan untuk cari pacar, kita bisa aja dipertemukan dengan seseorang yang menarik perhatian kita. Sedemikian menariknya hingga sanggup untuk membuat kita bingung dan berpikir, apakah kita harus mendekati, mengenal lebih dekat dan menentukan untuk coba memilikinya. Nah, ketika kita memilih untuk mencoba, bisa aja kemudian kita dihadapkan pada kenyataan bahwa ternyata kitanya ga cocok. Ada dua elemen di sini: kelihatan menarik dan cocok disandingkan.
Seandainya cocok, yay! You're lucky and good enough to get what you want! Atau mungkin juga, memang sudah jodohnya.
Hanya saja analogi ini belum berakhir sampai di situ. Kadang sepatu yang udah kita coba, yang kelihatan bagus di toko, yang ketemu warna dan ukuran yang cocok, setelah dipakai baru ketahuan ga enaknya. Baru ketahuan kalau dipakai sakit. Kaki jadi merah, pegel, dan sejumlah ke-ga-enak-an lainnya. Kalau sudah begitu, antara sepatunya ga dipakai lagi a.k.a. ditinggalin, atau dikasih orang supaya lebih berguna, atau tetap dipakai dengan segala ketidaknyamanan karena merasa sayang udah dibeli. Sama, cari pacar juga gitu. Kadang, baru setelah kita menjalani hubungan yang sebenarnya sama pasangan kita, baru kelihatan ga cocoknya di mana. Baru mengalami sakitnya. Meski tadinya kelihatan cocok-cocok saja. Kalau sudah begitu, antara kitanya yang mutusin, kita yang diputusin, atau tetap dijalanin dengan segala rasa sakit karena merasa sayang buat dilepasin.
Kadang, ketika kita udah naksir berat sama satu sepatu, semua aspek udah cocok, yang terjadi adalah sepatu itu tinggal satu-satunya. Dan karena sepatu display, kontan penampilannya jadi ga sempurna. Kita kemudian dihadapkan pada pilihan mau terima ketidaksempurnaan itu, mau cari di tempat lain sepatu yang serupa, atau lupain aja.
Sama, cari pacar juga gitu. Kadang kita udah naksir berat sama satu orang, semua aspek udah cocok, tapi ternyata ada satu hal yang membuat orang ini jadi kurang pas aja di hati, ada yang ngganjel. Dan kita pun harus memilih, mau menerima ketidaksempurnaan itu, mau mencoba cari ke tempat lain dengan harapan akan ketemu orang dengan traits yang serupa, atau mau pura-pura lupa saja menganggap tidak pernah ketemu.
Yang menarik, kita sama-sama tahu bahwa semakin sering sepatu dipakai, ia akan mengikuti bentuk kaki si pemiliknya. Jadi, bisa terjadi sepatu yang tadinya kita suka, terlihat cocok, tapi ternyata sakit di awal-awal, seiring seringnya dipakai sepatu itu, kemudian tak ada lagi rasa sakit yang diciptakan. Rasanya nyaman saja, malah ia menjadi sepatu yang paling kita sayangi, karena paling cocok di kaki. Sama, cari pacar juga gitu. Kita tahu yang namanya witting trisna jalaran saka kulina. Peribahasa Jawa yang bilang kalau cinta itu tumbuh karena terbiasa. Dan agaknya merupakan suatu hal yang masuk akal kalau toleransi bisa - meski tidak selalu - terbentuk karena waktu. Jadi, bisa saja pasangan yang tadi kita suka, keliatan cocok, tapi ternyata ada ribut di awal-awal, seiring berjalannya waktu kita jadi bisa lebih dewasa dan menemukan cara yang lebih bijaksana untuk menemukan solusi dari persoalan yang kita hadapi daripada terus menerus berkeluh kesah. Dan mungkin saja, semakin lamanya hubungan kita, kita jadi lebih dan lebih dalam lagi mencintai pasangan kita. Pada akhirnya, yang menjadi penentu adalah seberapa lama kita mau bertahan dalam kesakitan, seberapa mau kita mempertahankan hal yang udah kita perjuangkan untuk kita dapatkan. Seandainya tekad dan usaha kita cukup, bisa saja sepatu (atau orang) itu sebenarnya sangat cocok untuk kita, atau malah merupakan pasangan yang sepadan.
Well, itu hanya beberapa di antaranya. Aku yakin, sebenarnya masih banyak lagi kasus-kasus spesifik yang menggambarkan analogi cari pacar ibarat cari sepatu. "Teori" ini masih berkembang, mungkin akan lebih menarik lagi jika kita bisa saling berbagi pemikiran akan hal ini? ;)
0 comments :
Post a Comment