Alasan
Karena setiap hal terjadi karena suatu alasan
Atau jika ia bukan alasan, ia adalah yang dikenal orang sebagai hikmah
Tidak pernah tidak ada
Yang ada hanya orang yang tidak menemukan
Karena penemuan memberikan pengertian
Dan pengertian hanya terjadi bagi orang yang memiliki pengetahuan
Maka jika suatu hal terjadi
Apalagi yang dibilang tidak biasa
Hendaklah manusia berpikir
Merenung untuk memahami
Karena setiap hal terjadi karena suatu alasan
Begitu juga aku. Sekembalinya aku di sini mungkin tak seperti aku yang dulu. Aku berusaha menemukan kembali diriku yang dulu. Yang menulis untuk bercerita, untuk berbagi yang kurasa, untuk berkisah, untuk menguangkan rasa, untuk menjelaskan pemikiran, yang seringkali seakan tak cukup untuk berada dalam kepalaku ini. Aku bahagia. Namun aku memutuskan bahwa menjadikan kebahagiaan sebagai alasan kenapa aku menghilang bukanlah suatu hal yang bijaksana. Seorang penulis boleh bilang bahwa penulis adalah orang yang tidak bahagia karena mereka pada dasarnya adalah seorang yang idelis, yang ingin mencapai suatu hal dari buah pemikiran tertulisnya. Pandanganku sendiri, menulis membuatku bahagia. Aku menikmati suara ketikan tombol keyboard yang berpacu dengan alur pikiran di kepalaku. Aku menikmati tulisanku dibaca orang lain, dan dihargai, dan disetujui, dan dikomentari, dan membawa pengaruh bagi mereka. Lantas jika menulis itu sendiri adalah kebahagiaan, sudah merupakan kewajibanlah bahwa ia perlu dibagikan. Perlu dilanjutkan. Manusia yang hanya menuntut haknya tanpa menjalankan kewajiban adalah manusia yang egois. Dan kita sama-sama tahu, struktur kehidupan tidak berjalan demikian.
Tepat satu setengah tahun setelah aku menjalankan peran yang sama di kantorku, Micron Semiconductor, aku mendapatkan posisi baru. Beralihlah dari seorang Manufacturing Engineer ke Workforce Development Engineer, dari Manufacturing Department ke HR Department. Tidak akan kuceritakan banyak soal detil prosesnya. Bukan fokusnya di sana. Perubahan yang terjadi yang lebih memberikan dampak, bukan hal yang sudah terjadi yang apalagi jika tidak bisa diubah meski disesali sampai mati.
Memang banyak yang ditinggalkan
Kesedihan tidak sanggup dipungkiri
Rasa rindu sesekali datang
Namun keberanian untuk menyambut yang akan datang
Menjadi kekuatan dan harapan untuk bertahan
Menjadi (Orang) Normal
Dengan adanya jam kerja normal (Senin-Jumat, 8.30am-6.00pm), aku jadi punya lebih banyak hal untuk dilakukan. Aku tidak perlu lagi melewatkan jam dinner karena tidak suka dengan makanan kantin kantor. Aku tidak perlu mengambil cuti untuk menghadiri acara atau undangan tertentu yang biasanya berlangsung di akhir pekan. Tapi yang paling aku sukai: aku bisa ikut kelas RCIA (Rite of Christian Initiation of Adults) yang difasilitasi oleh pastur favorit-ku, Fr. Richards Ambrosse. Sederhana, aku melihat ini sebagai jalan di mana Tuhan memberikan kemudahan bagiku untuk memperdalam pengetahuan imanku. Lebih lagi, kemudian aku melihat ini sebagai kesempatan untukku menulis lagi, atau lebih tepatnya untuk kembali mengumpulkan niat dan hasratku untuk menulis. Tidak mau aku menjadi garam yang tak asin.
Life is about courage and going into the unknown – The Secret Life of Walter Mitty
Sejak memberanikan diri untuk ke Batam menonton konser NOAH sendirian, pandanganku terhadap traveling yang tadinya segumpal negativitas: buang duit, buang waktu, buang tenaga, males packing, menjadi sejumlah excitement tersendiri: melihat dunia luar, menghabiskan waktu bersama teman di tempat yang baru, membuat hidup menjadi lebih bermakna. Maka dalam waktu 1 tahun, jumlah tempat yang kukunjungi mendadak akan menyaingi jumlah tempat yang kukunjungi 21 tahun aku hidup sebelumnya. Kamboja, Kukup, Batam, Lombok, Hongkong. Dan syukurlah, api semangat itu belum juga berpendar sejak awal.
Jadi, kurasa, harus kukatakan: Halo! Apa kabar? Lama tak berjumpa. Kuharap kau baik-baik saja.
Dan kau akan membalasnya: Selamat datang kembali! Akhirnya rasa rinduku terbalaskan. Jangan tinggalkan aku lagi.
1 comments :
Welcome back ^^
you know who this is anw.
Post a Comment