Membodohi Diri Sendiri

Sebuah film yang direkomendasikan teman sekantorku kembali mengingatkanku akan pentingnya hal ini: “Follow your passion.” Tanpa bermaksud rasis, mungkin film ini tidak seperti di bayangan kalian, yang kalau boleh kutebak, banyak dari kalian memikirkan sejumlah judul film Hollywood. Bukan. Film ini adalah film India yang sedikit banyak orang akan lebih mengidentikkannya dengan pohon-tiang-dan-joget-massal. Tapi tidak untuk film ini. Penulis skripnya dengan luar biasa berhasil membuat jalannya film ini tidak terduga dan meyakinkan penontonnya untuk tetap bertahan selama tiga jam tanpa jenuh untuk menonton hingga akhir. Three Idiots judulnya. Inti film ini berkisah tentang tiga sekawan di institute of engineering, India, dan perjalanan dua dari mereka menemukan seorang kawannya yang paling brilian setelah lima tahun mereka lulus. Banyak kejadian tak terduga, banyak tawa, banyak scene penting yang memacu penonton untuk larut di dalamnya, dan lebih banyak lagi banjir air mata. Kembali lagi, jika aku harus memilih satu pesan moral yang diangkat dalam film ini, harus kubilang: follow your passion.

Maka pertanyaan “Are you enjoying yourself in your new role?” dari mantan direkturku pagi ini menjadi pertanyaan reflektif yang kembali mengingatkanku. Kukatakan “mengingatkan” karena bukannya pertanyaan itu tak pernah mampir di kepalaku. Hanya saja aku memberikan beberapa waktu sebelum aku langsung saja mengambil kesimpulan. Karena tidak bisa begitu saja kubandingkan 18 bulan dengan yang belum juga satu bulan. Tidak ada maksud kubandingkan dengan interval waktu yang sama, namun agaknya perlu beberapa waktu lagi. Memang belum bisa aku beradaptasi dengan gaya dan tempo bekerja yang sekarang. Belum terbiasa aku melepaskan hal-hal yang biasa terjadi di departemenku dulu. Tapi semuanya pembelajaran dan adaptasi adalah sebuah proses yang berjalan secara terus menerus, berkesinambungan, berkelanjutan – tidak ada yang langsung beranjak dari satu titik ke titik lain dalam sekejap. Syukurnya, ia mengingatkanku kembali bahwa aku selalu akan disambut seandainya ingin kembali. “The offer will always be opened.”

Kelas Pertama (di kantor) Sebagai WD Team

Meski atasan dan seniorku agaknya memberikan impresi yang “sedikit” cenderung negatif mengenai vendor training, kelas pertama yang kuajar di kantor sebagai WD team berlangsung dengan tidak menakutkan sama sekali. Maka saranku adalah jangan biarkan orang-orang di sekitarmu mempengaruhi pandanganmu. Ya, mereka bisa saja memberikan masukan, tapi sebagai gambaran, bukan sebagai sebuah fakta yang punya harga mati. Ya, mereka bisa saja memperingatimu, tapi tidak melulu dijadikan pegangan hidup yang dipegang sungguh-sungguh apapun yang terjadi. Karena kadang bukan cuma kedewasaan seseorang, bukan cuma pengalaman, melainkan juga keberanian, ketangguhan, dan karakteristik seseorang yang akan memberikan testimoni terhadap suatu hal. Dan fakta bahwa setiap manusia diciptakan unik menjadikan satu lagi alasan bahwa tidak seharusnya kita selalu mendengarkan apa yang orang bilang. “Gak semua yang lo denger itu bener.” Percayalah pada dirimu sendiri. Seperti kata orang yang sering disebut-sebut: musuh terbesar adalah dirimu sendiri, yang paling mengerti dirimu adalah dirimu sendiri, dan seandainya hal itu tidak benar, mungkin ada baiknya kau meluangkan waktu untuk dirimu sendiri. Sebab aku percaya bahwa sebelum kau mencintai orang lain, kau harus mencintai dirimu sendiri. Sebelum kau mau mengenal orang lain, kau harus bisa mengenal dirimu sendiri. Sebelum kau menuntut orang lain, kau harus bisa buktikan kalau kau bisa menjalankan apa yang seharusnya kau kerjakan. Jangan terlalu bergantung pada orang lain. Ekspektasi adalah akar dari kekecewaan. Kadang kala kita harus sadar bahwa tidak semua orang punya kemampuan, idealisme, dan standar yang sama. Kepercayaan itu perlu, tapi kita tahu bahwa ia adalah hal yang mahal dan berharga, tidak semua orang punya. Maka, berikanlah kepada orang yang pantas. Kepada yang tidak, kau tahu bahwa kau punya kemampuan yang lebih dari itu.

Berantakan Mempertanyakan
Dalam gelap kutanyakan di mana bersemanyamnya jiwa
Dalam dingin kugemakan apa yang dicinta
Dalam perih kubertahan meski mata tidak buta
Dalam senyap kubicara akan ratapan yang meronta
Dalam diri kuberpikir soal terang tak kunjung datang

Lantas kugumamkan soal apa yang bergejolak di dalam dada
Karena pertarungan di dalamnya sudah tak bisa direda
Lalu seorang kembali berkata
Tak ada yang tahu jika aku tak bicara

Ke manakah akan kusandarkan kepalaku?
Di manakah akan kulabuhkan hatiku?
Untuk siapa akan kuberikan buah tanganku?

Mendadak yang memperhatikan memanggil
Perdebatan dalam empat mata dan ruang biru dingin
Mengalir dan terbuka tak ditutupi
Hanya saja garis akhir belum tercapai
Dan pengemas cantik belum ditemukan
Harus berhenti di tengah jalan
Dengan adanya tuntutan
Yang diharapkan
Sebagai pembuktian

Jika tidak juga ada
Mungkin saja

Seharusnya aku tidak di sini
Membiarkan membodohi diri sendiri

0 comments :