2048
I'm not a gamer. I'm just not born to be a gamer.
Di satu waktu tertentu aku menemukan bahwa mataku tak bisa menahan sinar monitor terus menerus secara fokus. Mereka akan perih dan berair. Lalu berlanjutlah penemuan itu dengan diperlukannya kacamata komputer yang kudapat di kelas 5 SD. Aku tidak pernah punya bakat dalam menelaah apa yang harus dilakukan dalam sebuah game, tidak ada nalar ataupun insting cekatan maupun koordinasi motorik yang dimiliki para gamer. Selain itu aku tidak pernah benar-benar menemukan suatu zat adiktif dalam game yang bisa membuatku berjam-jam diam di depan layar komputer/TV/bentuk layar apapun yang menampilkan game tersebut. 180 derajat bedanya dengan adikku yang pertama. Aku tidak menemukan pencapaian tertentu yang membuatku bertahan untuk mati-matian memenangkan sebuah game. Bukan artinya aku anti main game. Hanya saja tidak untuk dijadikan kecanduan. Maka, ketika orang-orang sibuk membicarakan Angry Birds, Candy Crush sampai Flappy Bird, game terakhir yang benar-benar kumainkan sampai tamat baru Plant VS Zombie versi pertama.
Lalu apa setelah Plant VS Zombie?
2048. Aku tahu soal eksistensi game tersebut dari whatsapp group Process Engineers module-ku dulu, kemudian Arief, kemudian diajarkan oleh Ko Albert. Dan voila! Didorong oleh konsep sederhana dari game yang pada dasarnya menggabungkan bilangan kelipatan dua yang sama untuk mencapai nilai 2048, aku pun mengunduh game tersebut dari Play Store tertanggal 4 April 2014. Hari ini, tepat dua minggu usia game tersebut bersarang di telepon genggamku, ia harus pergi secara paksa. Tanggung jawab dilimpahkan kepada rasa bosan dan kesadaran akan efek penurunan fokus terhadap keadaan sekitar yang disebabkan oleh game tersebut. Tapi, terima kasih. Terima kasih karena sudah jadi pelarianku dari kebosanan selama di jalan. Terima kasih sudah sedikit banyak mengobati rasa "kangen" akan deret aritmatika. Terima kasih sudah menyadarkanku akan beberapa hal ini...
Kalau dua orang sudah memang jodohnya, mau dijauhkan dan dihalangi bagaimana akan ketemu juga. Karena dua angka yang sama, jika mereka berdekatan, entah dalam keadaan di mana aku tak mau atau sekedar memperhambat bertemunya, tanpa disengaja, mereka akan melebur juga.
Meski kita sudah menyusun rencana kita dengan matang, dalam satu pilihan yang salah saja, kita bisa merusak segalanya. Karena meski kita sudah menyusun angka-angka tersebut dengan rapi dari yang besar ke yang kecil supaya nantinya mudah dipersatukan, kadang hanya dengan satu langkah yang salah, kita bisa membuat 4x4 papan permainan itu tidak bisa bergerak. Mati.
Bahwa hal yang besar pada hakikatnya terbentuk karena hal-hal yang kecil. Hal ini seketika mengingatkanku akan kata-kata ayahku, "Duit satu juta ga akan jadi satu juta kalau ga ada 100 perak."
Lebih mudah mempersatukan/mendekatkan orang-orang yang punya nilai yang sama atau setidaknya berdekatan. Hal ini lebih berkaitan kepada prinsip, moral, value, nilai kehidupan, pandangan, dan sejenisnya. Kita toh tahu bahwa seringkali hubungan orang putus dengan alasan:"Kita beda prinsip ajaaa~" Atau orang tidak mau bekerja di suatu perusahaan tertentu/menjabat posisi tertentu dengan alasan: "Nilai kami berbeda."
Mungkin, mungkin saja, kau akan menganggap aku berpikir terlalu jauh dan sibuk dengan pemikiranku sendiri yang sebenarnya tidak perlu. Ya. Agaknya begitu. Dan itu aku.
----------------------------------------------------------------
Lent 2014
Michael menanyakan "What do you feel during this Lent?"
Pertanyaan sah yang dilontarkannya pada hari Jumat Agung mengetuk hatiku dalam bisu. Ia menimpalkan bukankah seharusnya lent membawa perubahan? Ya, benar katanya. Lent tahun ini adalah lent pertama di mana aku pergi jalan salib setiap Jumat dari awal hingga akhir, baik itu sendiri atau bersama orang lain, hujan atau tidak, ada kerjaan yang harus diselesaikan atau tidak. Aku sendiri melihat itu lebih sebagai sebuah langkah yang memberanikan diriku untuk lebih dekat dan memberikan usaha (effort, jika bukan pengorbanan) untuk ikut menghayati sengsara Kristus.
Soal pantang dan puasa. Dan sebenarnya ini yang pertama kali terlintas di kepalaku ketika ditanya tadi. Aku mengenal diriku sebagai orang yang takut akan kegagalan dan mudah terluka oleh pain of rejection. Karena hal tersebut, aku menghindari hal-hal yang kurasa tidak bisa aku capai. Dengan alasan yang sama, meski aku tahu bahwa pantang seharusnya ditentukan oleh hal-hal yang biasa kita lakukan, aku tidak pernah memilih untuk pantang marah. But you know what...people say you never know until you try. Ted HIMYM bilang “If you’re not scared, then you’re not taking a chance. If you’re not taking a chance, then what the hell are you doing anyway?" Kita tidak akan pernah tahu seberapa jauh kapasitas kita tanpa kita mencobanya. Kalaupun kita gagal, setidaknya kita tahu bahwa kita pernah mencoba dan mencoba bukanlah sekedar trial and error process. Mencoba adalah kata lain dari kita berani mengalahkan ketakutan diri kita sendiri akan kegagalan. Mencoba adalah mendorong diri kita sendiri dan meyakinkan bahwa kita akan berusaha. Dan meskipun tidak utuh juga pantang itu karena aku tersinggung dengan perkataan seorang "yang tidak tahu apa yang ia perbuat" dengan menimpalinya "If you can think of Friday prayer for muslim, why can't you think of Christian?", aku tahu bahwa sekarang aku tidak berada pada fase yang sama. Fase yang tak mau keluar dari comfort zone sendiri dan yang selalu bilang "Itu aku, tidak bisa diubah. Terserah."
Tahun ini juga adalah tahun pertama aku ikut tuguran. Thanks to Ko Albert dengan rasa ingin tahunya yang menggebu, aku jadi tidak sendirian melewati tuguran. Pengalaman tuguran pertama di negara orang yang notabene jauh lebih aman dari kampung halaman sendiri: berkesan. Aku mengakhiri tuguranku di Church of The Holy Cross. Rangkaian Bible reading - reflections - praise and worship tersusun rapi dan menciptakan atmosfer khusuk yang sangat baik. Lebih lagi, tak kusangka gereja penuh! Maksudku, sungguh, tidak pernah ada di kepalaku terlintas pemikiran akan banyak orang mau meluangkan waktunya sampai tengah malam di gereja untuk Kamis Putih, yang bukan day of obligation. Hal ini, kontan memperbaiki pandangan yang selama ini kumiliki. It's not that bad, you see...
Dan sebagai penutup post di hari Jumat Agung ini, berikut adalah cuplikan kata-kata dari homili pastor favoritku...
"Jesus paid the debt He didn't owe because we owe the debt we couldn't pay...Barabas actually means son of father...So, Son of God was crucified in order for son of father - for us - to be free." - Fr. Richards Ambrose. Happy Good Friday, everyone!

0 comments :
Post a Comment