Manusia
Dipikir-pikir
Manusia itu sebenarnya makhluk yang paling menjengkelkan
Ia bisa membeli sejumlah pakaian karena dirasa menarik
Namun hanya akan suka beberapa
Karena pada dasarnya, selalu akan ada yang lebih disayangi
Baik benda mati maupun yang bernafas
Dilihat-lihat
Manusia itu sesungguhnya makhluk yang paling menyebalkan
Kalau melihat dua sejoli cantik dan tampan berciuman
Dikatakannya romantis
Kalau melihat orang gendut yang bertukaran
Disebutnya imut
Dirasa-rasa
Manusia itu pada dasarnya makhluk yang paling rumit
Punya hal yang harus disyukuri, selalu mau lagi
Punya hal yang berlebih, jadi pusing sendiri
Patokannya bukan apa yang ia ingini
Tapi apa yang orang lain miliki
Didengar-dengar
Manusia itu pada hakekatnya makhluk sejuta rasa
Ia bahagia karena barang yang cuma-cuma
Ia sedih karena cerita
Ia panik karena bicara
Ia khawatir karena tak bisa menduga
Ia kecewa karena ekspektasinya
Ia berpikir karena tak cukup dengan hanya merasa
Ia makhluk sosial karena bergantung pada sesama
Ia adalah peleburan antara hati nurani dan akal budi
Logika dengan rasa
Ditelaah-telaah
Manusia itu pada akhirnya makhluk yang unik
Bermimpi tanpa batas
Memilih dengan penuh pertimbangan
Hanya untuk tak berani berubah
Berusaha merancang mati-matian
Terombang-ambing tanpa kepastian
Lalu berhenti di tengah jalan karena kesusahan
Kemudian yang tersisa cuma segeletak pertanyaan
Yang tak akan terjawab dengan inderanya
***
Lemariku seakan memohonku dengan luruh untuk mengurangi beban tampungannya. Mungkin memang sudah saatnya aku mendonasikan beberapa pakaian yang toh tak sering-sering kupakai juga. Hanya saja...untuk packing bepergian saja aku menunggu sampai waktu-waktu terakhir. Apalagi untuk hal yang tidak punya deadline semacam ini?
***
Rencana untuk pindah ke Australia terasa seakan lebih nyata. Tidak pernah ada dalam pikiranku akan pindah benua. Bahkan kalau mau dikata, aku tidak pernah berani bermimpi untuk bisa kuliah, kerja dan dapat PR di Singapura. Semuanya adalah mimpi ibuku yang berhasil aku wujudkan. Jujur saja aku sempat berpikir untuk menggunakan jalur pendidikan sebagai batu loncatan. Tapi kalau itu menyangkut urusan 45 ribu dollar Australia per tahunnya hanya untuk biaya kuliah, rasanya sudah bolehlah pemikiran itu dibuang mentah-mentah. Kini yang ada dalam rencanaku adalah:
1. IELTS
2. Coursera HR Course atau mungkin HR certificate
3. Cari kerja di Australia
***
Aku mendapati bahwa aku tak sendiri sebagai orang yang sibuk membandingkan pencapaianku dengan orang sebayaku. Mempertanyakan apa yang sudah aku capai selama ini. Ada banyak orang lain yang berpendapat senada bahwa sistem dan penilaian tidak berjalan secara adil. Mempertanyakan apakah orang mendapat hal yang setimpal dari usaha mereka. Namun aku berhenti melakukan itu karena kudapati tak ada faedahnya. Berbondong-bondong orang punya pikiran dan perasaan yang sama tidak akan mengubah apa-apa. Hidup memang tidak pernah berjalan dengan adil dan itulah kenyataaan yang harus ditelan. Tidak semuanya berjalan sesuai dengan seharusnya, apalagi selalu sejalan dengan apa yang kita mau. Kata batin kita boleh saja diuji, bisa saja ditantang, atas naik turunnya kehidupan yang terjadi bukan cuma pada kita, tapi juga orang-orang di sekitar kita. Kadang kita tidak bisa benar bahagia untuk kawan jika kita mengundang pikiran, akal sehat, dan teman-temannya untuk melakukan Fit and Proper Test. Bahkan definisi “pantas” pun akan mengundang perselisihan. Maka, aku mencoba memusatkan perhatianku pada apa yang aku miliki dengan pencapaian yang “berkecukupan”. Merenungkan apa yang bisa saja kulewatkan seandainya pencapaianku “berlebihan”. Pada akhirnya semua orang punya angan yang berbeda. Seorang tidak akan pernah bahagia jika definisi kebahagiaannya selalu bergantung pada orang lain. Hal yang lebih hakiki adalah mencari makna dari kebahagiaan kita sendiri tanpa dipengaruhi siapa-siapa dan menuju pada kebahagiaan tersebut.
0 comments :
Post a Comment