BELIEVE
Gue sedang berada di UTown ketika mengetik posting-an ini. Jam sekarang sudah menunjukkan lewat pukul satu pagi. Starbucks ada di sisi kiri gue, dengan variant bernama Cranberry White Chocolate Mocha yang menarik gue dengan kemasan edisi Natal-nya. Tapi apa yang gue dapat? Gue ga tau di mana White Chocolate nya dan gelas cantik edisi Natal itu. Kecewa. Mungkin gue memang tidak berjodoh dengan Starbucks. Mungkin lidah gue lidah kelas rendah maka tidak cocok dengannya. Mungkin - simply - karena gue tidak suka kopi.atau mocha.atau tiramisu.atau rasa-rasa dengan aroma seperti itu. Sedangkan alkohol? Oh, please, saya tak keberatan mencicipinya. Mencicipinya saja. Dan itu tidaklah berlebih ataupun mengurangi kenyataannya.
Biarlah. Minuman seharga 6 dollar yang sudah kubeli itu harus kuhabiskan juga, dan aku tetap menghargainya. Meski pahit di mulut dan rasanya tidak biasa. Anggap saja ia seperti orang yang tidak cocok denganku dalam hidup ini. Cukup tahu lalu pergi. Tak usah macam-macam lagi.
Aku di sini, sampai pagi, di university. Menemani kekasih tercinta belajar. Rasanya seperti kembali. Ke masa di mana aku duduk di bangku kuliah. Tapi sekarang aku menghabiskan waktuku bukan dengan berkutat bersama lecture notes dan soal tutorial yang agaknya tak pernah aku kerjakan, melainkan berhadapan dengan layar laptop: mengerjakan apa yang ingin aku lakukan. Mulai dari menonton film Indo rekomendasi teman, mendengar lagu atau video youtube tanpa rasa bersalah karena tak ada exam yang segera datang, dan terutama menulis blog yang sudah lama tak terurus.
So, e next Q is How's life?
Well, I hope it is good? lol. It must be a lie if I told u so. Jujur saja, aku mulai merasakan tekanan. Ini. Itu. Keluarga. Kerja. Mungkin bukan salahku, bukan salah siapa-siapa. Ya, janganlah kamu suka menyalahkan. Lebih baik kita introspeksi diri sama-sama. Aku sendiri melihat ini sebagai satu fase lagi dalam hidupku. Ketika aku tak lagi masuk untuk mengadaptasikan diri. Ketika aku tak lagi masuk untuk bahagia berbulan madu di sana. Ketika aku sudah harus mengerti tantangan yang ada dan apa yang tak bisa aku ubah, harus aku terima.
"Change what u can't accept. Accept what u can't change."
Karena pada hakikatnya, ke mana pun kita berlari, akan selalu ada kerikil di jalan yang kita lalui. Akan selalu ada terik panas matahari yang mengganggu ataupun dinginnya hujan yang mengguyur. Namun yang terpenting, ketika kita tahu tujuan dari semuanya, akhir dari segalanya, dan apa yang ingin kita capai, kita akan dengan senang hati melaluinya. Maka beginilah aku, mengingatkan terus menerus kepada diri tentang motivasi dari hal-hal yang kulakukan. Memperkuat memori supaya tahan uji. Dan persetan dengan yang namanya ingin dihargai, pengakuan, image diri, atau pun sejenisnya. Yang mungkin tidak akan pernah aku dapatkan. Yang mungkin memang bukan itu aku ditakdirkan. Yang rasanya lebih baik aku lupakan.
"Bukan pengakuan di dunia inilah yang seharusnya kita kejar, melainkan kehidupan kekal yang akan kita miliki bersama-Nya di surga." -seorang Romo di Atma Jaya ketika saya menerima Sakramen Tobat-
*dan akhirnya habislah Starbucks itu...diiringi lagu-lagu masa SD yang dicari dari Youtube*
Hari ini aku mendapati bahwa lagu Justin Bieber di album terbarunya:Believe, ternyata banyak yang bagus juga. Sebut saja "Be Alright" dan "Die In Your Arms". Yup, judul album itulah yang menginspirasikanku untuk menjadikannya sebagai judul post.
Percayalah bahwa semuanya tidak akan sia-sia
Bahwa pengorbanan, perjuangan, segala jerih payah akan terbalas semua
Bahwa akhir dari segalanya adalah akhir yang indah
Namun perjalanannya memang tidak akan mudah
Percayalah bahwa seorang anak kecil yang lugu akan mampu mengubah dunia
Bahwa dengan ketulusan hatinya, ia akan meluluhkan hati manusia
Bahwa ia akan bisa mengembalikan lebih dari apa yang dituntut darinya
Namun dalam hatinya memang akan rapuh dan sakit karena apa yang dirasakannya
Percayalah bahwa Tuhan adalah seorang pemikir
Bahwa Ia sudah merencanakan dengan detil dari awal hingga akhir
Bahwa anak itu tak akan mengarungi ini sendiri dengan getir
Namun dengan seorang pendamping terbaik yang dikirimkan-Nya sebagai takdir
Thank you, Love :)
U noe who u are
0 comments :
Post a Comment