Don't Live In The past!
Seorang teman kerjaku bilang, “Pada akhirnya yang menemani kita sampai akhir hidup kita, yang berjuang melalui semuanya, adalah diri kita sendiri. Maka, jujurlah pada dirimu sendiri.” (diterjemahkan)
Aku diam-diam menimbang perkataannya hari itu – sampai saat ini. Maksudku, sungguh. Dalam hati kecilku aku tak ayal sangat setuju dengan bicaranya. Tapi mengenai hal lainnya, bahwa kenapa aku tak pergi saja dengan kekasihku ke Malaysia berdua, bahwa toh meski ibuku (dan keluargaku) tak memberi restu, kan dia (atau mereka) tak akan tahu…aku tetap tidak setuju. Terlepas dari keyakinanku bahwa tak akan terjadi apa-apa, aku hanya berusaha menjadi anak baik yang menuruti perintah orang tua. Takut dikutuk jadi batu barangkali. Maka, kendati kata mantan co-CGL ku
“Mai n nurut can never be in the same sentence unless there is a not in front of the nurut HAHA”
Hey, tetap saja. Aku masih tahu diri dan tahu batas. Aku tahu mana yang harus aku lawan dan harus kuperjuangkan sampai tetes darah penghabisan. Aku tahu mana harus kutawar dan mana harus kutahan. Karena seperti kata salah seorang CG member-ku, “Selalu ada arti di balik apa yang lu kasih yah.” Yup, think before you act. Coz you need to know your goal first, before you proceed to your action. I believe that every single action is determined by its motivation. And intention speaks louder than action.
Mantan co-CGL-ku memberi pernyataan, “U’ve changed.” Oh well, I guess so. But if it’s in a better way, why not? Aku sendiri menyadari bahwa banyak dari diriku yang berubah. Aku tak lagi melulu menuntut adanya keadaan ideal yang sesuai dengan kepalaku. Aku tak lagi membuang waktuku untuk mengurusi hal-hal yang sudah kutahu tak akan berkesudahan. Aku belajar dari teman kerjaku, “Seandainya orang itu masuk akal, akankah ia berargumen denganmu sebegitu kerasnya? … Cara memenangkan argumen dengan lawan bicara yang demikian adalah kau harus menjadi lebih tidak logis darinya.” (diterjemahkan) Wow, baiklah. Dan aku memilih untuk menjadi orang yang lebih waras. Yang lebih menerima kenyataan daripada meributkan keadaan. Aku tak lagi suka tidur pagi dan bangun siang. Karena jelas, aku punya jadwal kerja yang cukup menyita energi sekarang, aku butuh istirahat. Aku tak lagi 100% menulis dengan Bahasa Indonesia (malah mungkin aku mulai merasa memang ada beberapa hal yang lebih baik ditulis dengan Inggris. Namun tetap saja, aku lebih cinta bahasa ibuku :)) Aku merasa diriku…melunak? Ya, tak lagi sekeras dulu. Mungkin masih saja keras kepala, pembangkang, pemberontak, dan galak? Hahaha, tapi tidak. Tidak separah dulu. People change you know. They do change. Bahkan kadang aku mengharapkan orang-orang tertentu untuk berubah. Hanya saja, prinsipku yang lain mengingatkan: ketika kita tidak bisa mengharapkan orang lain, kita harus bisa menuntut diri kita sendiri. Mungkin tidak untuk berubah, mungkin hanya sekedar untuk menerima. Yang perlu kita sadari: perubahan bukanlah sesuatu yang menakutkan. Perubahan bukan suatu yang harus melulu dipermasalahkan, diperdebatkan ataupun diperjuangkan. Seringkali, perubahan menyesuaikan dirinya dengan sangat baik sampai terasa tersembunyi dan BOOM! Ketika kita sadar, ia sudah menciptakan hal yang sangat berbeda dari sebelumnya. Ketika kita tahu, sudah terlambat untuk melawannya. Tapi, mengapa jugakah harus kita lawan? Ia bukan revolusi yang kedatangannya kadang menuntut tumbal nyawa.
Perubahan bukan soal apakah kita menginginkannya ataupun tidak menginginkannya. Bukan juga soal siapa yang mendatangkan. Entah itu aku, kamu, dia, mereka, atau bukan siapa-siapa. Perubahan seringkali merupakan tuntutan zaman. Karena ketika waktu berubah, kita pun berubah, menyesuaikan. Yang menurut teori biologi, beradaptasi atau mati kena seleksi. Perubahan seringkali karena keadaan. Karena kita tidak bisa menyenangkan semua orang. Karena kita tidak bisa memiliki banyak hal. Karena kita harus tahu mana yang lebih penting: mana yang harus dikesampingkan & mana yang harus diprioritaskan.
Pacarku pernah membagikan tentang sebuah teori yang menyatakan bahwa kita, manusia, terbentuk seturut LIMA orang terdekat kita. Ya, lima. Hanya segitu saja. Tak banyak bukan? Dan kita tahu bahwa orang-orang terdekat kita seringkali berubah. Lima orang terdekat kita semasa SD dulu mungkin tak sama dengan masa SMP atau SMA. Yang aku tahu, lima orang terdekatku di awal tahun lalu, bahkan tak sama dengan lima orang terdekatku sekarang. Kenapa? Karena waktu terus bergulir. Orang-orang di sekitar kita datang dan pergi. Mungkin ada yang menetap, mungkin ada yang pergi, mungkin ada yang kita usir, dan mungkin ada yang kita minta untuk tetap tinggal. Tapi sayangnya manusia tidak bisa mendapatkan semua hal yang diingingkannya. Juga, kadangkala kita dihadapkan dengan situasi di mana kita tak ada keinginan untuk mengusirnya, tapi kita juga tak ada motivasi atau alasan untuk mempertahankan, sederhana – karena orang itu tidak bisa tetap tinggal. Karena satu dan dua hal, kita sudah berada dalam dunia yang berbeda.
Aku mengatakan ini sembari teringat dengan kawan SMP-ku. Kami yang dulu teman satu kelompok, selalu makan bersama sewaktu istirahat, kini sudah memiliki dunia yang berbeda. Dan bukannya aku yang ingin menjauhinya ataupun sebaliknya, sederhana – karena kami sudah berbeda dan tak bisa lagi bersama. Karena jurang perbedaan sudah terbentuk dan toleransi tak lagi bisa mengkompromi. Kita tahu bahwa seseorang tidak bisa cocok dengan semua orang di dunia bukan? Maka, tak ada murka, tak ada kata-kata, terjadi begitu saja: kami pergi ke beda dunia. Di mana kami bertemu dengan orang-orang baru yang lebih sesuai dan – minimal saat ini – lebih mengerti akan diri kami yang sekarang. Yes, that’s it. We go separate ways – totally different one. Agak ironis sebenarnya. Namun lebih ironis lagi ketika aku menyadari bahwa ini sebenarnya sudah terjadi pada awal mulanya. Bahwa hal mengenai kepergian dan perpisahan dengan orang lama serta pertemuan dan kedekatan dengan orang baru, sebenarnya adalah hal yang pernah aku alami sebelumnya; bersama kawanku itu juga. Karena sebelum bergabung bersama kelompokku pun, ia punya teman baik yang kemudian menjadi menjauh dan teman baiknya merasa ditinggalkan dan teman baiknya sedikit banyak menyalahkan aku dan temanku itu berusaha menjelaskan dan nampaknya teman baiknya temanku itu tetap tidak bisa menerima namun akhirnya ia punya teman baru juga dan yah…begitulah. Mungkin bukan hanya berlaku bagi teman, melainkan juga orang yang pernah engkau kagumi, orang yang pernah dekat denganmu dan pernah ada di hati, orang yang pernah di satu waktu engkau sayangi. Mungkin karena orang yang sungguh kau cintai sekarang ini, engkau tak bisa mengetahui kabar orang-orang tadi lagi. Karena rasa hormatmu, karena kau tak mau menyakitinya. Tapi kenapa juga harus dipersoalkan? Toh kau melakukannya dengan tulus dan senang hati. Dan ketika kau tanyakan lagi kepada dirimu, tak seberapa besar dan pentinglah alasan untuk kau mengetahuinya, bahkan mungkin sebenarnya kau tak punya motivasi sama sekali untuk itu. Jadi, kenapa juga harus dipusingkan? Kurasa, trade off-mu sangat setimpal. Mereka adalah orang-orang yang pernah ada dalam hidupmu, di masa lampau. Dan sekarang engkau ada di saat ini bersama orang-orang yang kau sayangi. Tidak akan pernah ada orang yang bisa maju ketika ia masih terkungkung di masa lalu.
"Don't live in the past!"-Uncle Suk Fatt-
Lebih lagi, karena kita tidak bisa menyenangkan semua orang. Kita tidak bisa melayani semua permintaan orang. Lalu sekarang ketika aku mengingatnya, masa’ kan aku harus bertanya, “Kenapa aku harus kehilangan dirinya?” Tidakkah aku akan merasa bodoh? Karena ketika aku mempertanyakan hal tersebut, seharusnya aku sadar, bahwa hal yang harus aku pertanyakan terlebih dahulu adalah “Kenapa aku harus kehilangan teman dekat SD ku? Teman TK ku? (yang barangkali mengingat namanya pun tidak)” dan mungkin barangkali “Kenapa aku harus punya teman baru dan DIA harus punya teman baru juga?” Man, this is damn stupid. We should go back to the fact that people come and go in your life. Ada yang menetap, ada yang hanya lewat begitu saja. Dan mereka yang memang benar-benar istimewa, mereka yang benar-benar akan ada mendampingi kita, akan bertahan. Begitu saja. Sekalipun tanpa kita minta.
Kita tidak perlu menuntut perubahan dalam hidup, ia akan datang dengan sendirinya, dengan diam-diam. Entah kita siap atau tidak.
Maka selanjutnya, ingatanku pun kembali ke masa tahun pertamaku di universitas, NUS. Semuanya berawal dengan pertanyaanku kepada seorang senior tahun terakhir, “Kak Adit kalau balik Indo masih ketemu temen SMA ga?” Waktu itu ia kontan menjawab tidak. Ia beralasan bahwa mereka tak lagi bisa nyambung. Tak tahu apa yang harus dibicarakan, tak mengerti lagi apa yang terjadi satu sama lain, dan sebagainya. Intinya yang kutangkap adalah mereka sudah tak lagi dalam dunia yang sama dengan common interest yang mengikat mereka, maka tak lagi ada alasan untuk kembali berkumpul bersama. Tambahnya lagi, ia merasa lebih baik berkumpul dan hang out dengan kawan-kawannya yang satu universitas karena tak lain tak bukan, di situlah dunianya, mereka itulah. Diriku yang dulu tak sanggup membayangkan bahwa aku harus mengalami hal yang sama nantinya. Pilu rasanya mereka apa yang akan terjadi selanjutnya. Aku bilang, aku tak mau hal itu terjadi pada geng-ku. Dan ia hanya bilang, “Dihadapi saja, pasti akan begitu. Pertama mungkin kita ga mau, tapi lama kelamaan juga terbiasa dan bisa nerima.” Ya, begitulah. Aku tak lagi rewel dan kecewa ketika dihadapkan dengan susahnya kumpul bersama teman SMA. Karena memang begitu keadaannya, mau bagaimana lagi. Prioritas dan agenda yang berbeda sudah ditambahkan masing-masing ke tiap-tiap orang. Apakah itu sungguh pilihan mereka? Bukan itu pertanyaannya. Pertanyaan yang sebenarnya adalah apakah mereka dapat menjalaninya dengan baik? Karena kita tidak seharusnya mengikatkan diri untuk hal-hal ataupun orang-orang yang pada dasarnya hanya akan menjadi figuran dalam hidup kita. Yang notabene akan hadir dalam satu chapter dalam buku kehidupan kita, menghadirkan klimaks sementara, namun hilang begitu saja.
Menurutku, kehidupan adalah seperti buku yang tidak baik untuk dibaca terbalik. Dan tidak perlu juga. Dan untuk apa juga. Baiklah, kuperjelas maksudku. Mereka, orang-orang yang pernah dekat dengan kita tidak akan hilang. Mereka akan tetap ada di sana, di chapter yang sudah terlewat. Dan kita tidak akan pernah bisa menghilangkan karakter itu. Karena semuanya sudah tertulis. Dan mereka tinggal sebagai sebuah kenangan yang menghadirkan nuansa dalam chapter yang sebelumnya. Kita tidak perlu memaksakan diri mereka harus tetap hadir dalam chapter berikutnya. Kita tidak bisa merevisi apa yang sudah kita pilih, tidak juga mempertanyakannya apalagi menyesalinya. Yang perlu dan hanya bisa kita lakukan adalah memastikan bahwa chapter-chapter berikutnya akan menjadi lebih menarik dan jauh lebih baik.
2 comments :
Super-like! Don't stop writing Mai =)
Thanks a lot :) it has been quite a long time i think since i received last comment for my blog.
I won't stop writing. Promise! ;)
Post a Comment