Introducing: My Job

Sekarang, gue sudah tidak bisa akses fasilitas di NUS dengan matric card. Aksesnya sudah dihentikan. Dan dengan dikirimkannya alumNUS card, semakin jelaslah bahwa gue bukan lagi undergraduate melainkan seorang alumni. Yang gue pegang sekarang guna tinggalnya gue di Singapura bukan lagi student pass, melainkan employment pass (yang bahannya lebih tipis. Apakah artinya MOE lebih modal? Humm...)

Employment Pass gue tak terlepas dari posisi gue sebagai Manufacturing Engineer di Micron Fab 7, secara spesifik: module Dry Etch. Lebih spesifik lagi: Dry Etch 1. Bekerja di bidang yang ga sesuai sama background pendidikan lu memang ga gampang, I would say "ada tantangannya tersendiri". Tapi, as long as itu memang yang lu pengen, dan lu bisa treasure apa yang lu punya, semuanya akan sangat menarik juga menyenangkan untuk dijalani. Ingatlah untuk selalu bersyukur, jangan mengeluh terus. Masih banyak sarjana yang belom punya kerjaan sampai sekarang. Semua yang lu punya itu anugerah Tuhan yang patut disyukuri. Sekecil apapun itu. Malah sebenarnya, mungkin yang kita anggap sederhana tidak sedemikian sederhananya. Bukan karena itu sesuatu hal yang simple, mudah didapat, sering atau wajar lantas kita merasa itu biasa.
Don't take things for granted! *Anthony mengingatkan* "u don't know what u hv until it's gone" *Winston menegaskan* (yang padahal kalimat itu muncul karena ngomongin eye candy gue yang pindah divisi :( Jadi super jarang deh bisa liat dia. Tapi kata Michael, "Lihat sisi positif nya, kamu jd bs konsen kerja." Oh, well...

"kangen lecture bareng gw g?" Jaslyn bertanya melalui post di wall FB. Gue pun jujur menjawab, gue ga (atau belum?) kangen jadi student. Tapi kehilangan perks sebagai student seh sudah dari entah kapan. Hahaha... I'm not saying that pengalaman gue di NUS menyebalkan. Gue memahami itu sebagai pengalaman berharga buat satu fase dalam hidup gue kog. Yang ga semua orang bisa punya kesempatan itu. Namun kembali lagi, salah satu alasan kuat gue ga mau ambil Honours adalah supaya bisa cepet kerja dan punya penghasilan sendiri, bantu keluarga. Jadi, yup...gue ga punya keinginan atau rasa rindu yang besar akan bangku kuliah (terlepas dari gue juga ga gitu enjoy sama pelajarannya, lol). Gue masih lebih enjoy kerja, terutama karena kenyataan bahwa sekarang lu ga bergantung lagi sama "beasiswa orang tua".

Sekilas Tentang Micron-Effect Micron bikin gue nulis tanggalan sekarang dengan format MM/DD/YYYY, sebelumnya DD/MM/YYYY. Micron membuat gue mimpi tentang hal-hal yang berkaitan dengannya, mulai dari technical terms-nya sampai temen-temen gue di sana. Micron bikin sejumlah kata-kata jadi tidak lagi berarti sama setiap kali gue denger. Micron membuat gue merasa aneh aja kalau denger kata "Micron" diucapkan lecturer NUS, yang padahal merujuk pada 10 pangkat minus 6. Micron menciptakan body clock gue yang baru, yang disesuaikan dengan shift kerja gue. Micron bikin gue melihat kalender gue dan mengganti yang di HP dimulai hari Minggu, sebelumnya Senin. Micron merombak persepsi gue kalau ke kantor mesti rapi banget, nyatanya hari Sabtu bahkan bisa pakai celana pendek plus sendal jepit. Micron membuat gue pengen belajar mandarin... to be continued... Gue baru 1.5 bulan di Micron, gue yakin list itu akan terus bertambah panjang :)

Oh ya, kerja hari Sabtu itu selain lebih nyantai bajunya, lebih nyantai juga berangkatnya karena MRT sepi. Jadi ga perlu rebutan ataupun desak-desakan. Dan ngomong-ngomong soal bahasa Mandarin, di suatu malam pas jam dinner, keinginan gue bisa Mandarin jadi bukan sekedar supaya gue ngerti colleagues gue ngomongin apa. Tapi gue pengen rasanya, one day, bisa ngerti apa yang auntie-auntie cleaner itu celetukin. Selama ini, gue cuma bisa senyum ke mereka sebagai bentuk respon. Terlintas juga pikiran buat makan bareng mereka. Dengerin mereka cerita gimana keluarga mereka, kehidupan mereka, dll. *kenapa Mai random sekali*

0 comments :