Suara Seorang Yang Baru Setahun

“Bermimpilah dan Tuhan akan memeluk mimpi-mimpimu”- Sang Pemimpi (Andrea Hirata).

Aku bukan seorang yang keranjingan membaca, yang gemar masuk perpustakaan asyik menggeliatkan pandangan mata ke deretan beragam buku. Kegemaranku hanya menulis dan sumbernya dari realita yang melebur bersama reaksi spontan letupan pemikiran. Hanya saja beberapa sahabat berhasil memperkenalkan mimpi pada seorang yang rendah diri ini, ya, aku sendiri. Dulu, aku hanya terbenam dalam bayangan paradigma bahwa kemampuan tingkat rendahanku tak bisa diandalkan. Namun pada akhirnya untaian doa dari ibunda yang berkolaborasi dengan sejumlah perjuangan serta dukungan mengirimkanku ke negeri orang, negeri yang orang tuaku impikan agar anaknya bisa menuntut ilmu dengan baik di sana, Singapura. Mentalku terlalu ciut untuk berandai duduk bersandingan dengan para mahasiswa terbaik yang terdaftar dalam universitas 50 besar dunia, NUS (National University of Singapore). Ada yang berbisik, “Ah, rasanya aku terlalu naif untuk kuliah di sana.” Bukan apa-apa, keluargaku sederhana dan dengan empat orang anak yang jadi tanggungan, aku harus menurunkan egoku agar adik-adikku tetap bisa sekolah juga. Menuntut orang tuaku untuk menyediakan fasilitas kursus persiapan tes seleksi masuk juga bukan keputusan yang bijaksana. Jadi harus kuterapkan ilmu ekonomi. Kamu tahu bukan? Jika salah satu faktor produksi tak bisa diotak-atik, maka kita harus mengubah yang lainnya. Kalau modal dana kurang berarti kita harus punya inisiatif yang lebih dalam berjuang, diupayakan sendiri. Toh tak semua yang belajar di luar negeri berarti bahwa mereka kaya bukan?
Beberapa bulan setibanya aku di sini, fakta menantang idealismeku. Ia menyatakan yang sebelumnya dikhawatirkan. Ia mendeklarasikan rasa sepi sunyi yang awalnya bisa ditangkis keyakinan bahwa aku pasti bisa menghadapi segalanya seorang diri sebagai single fighter. Di titik itu aku berkenalan dengan yang namanya “emo”, sebuah kata yang digunakan untuk menggambarkan situasi mendung murung akibat merenung masa lalu. Komplikasinya adalah rasa rindu tak terkira berikut pertanyaan-pertanyaan reflektif yang bisa membuat orang memperbaiki keadaannya atau berlinang air mata. Banyak hal berubah, lebih dari yang diestimasikan sebelumnya. Tidak ada lagi sahabat yang kupercaya untuk berempati – merasakan hal yang sama denganku atau yang selalu makan dan belajar bersama. Kehangatan serta kesolidan semacam itu sekejap lengser digantikan individualisme plus sifat kompetitif. Selanjutnya, pemikiran sembarang muncul sekelebat, “Bagaimana jika aku kuliah di universitas di Indonesia?” Sering penat itu datang, lelah melihat sebongkah perjuangan yang perlu kuupayakan guna menyambung hidupku di sini. Maksudku, sungguh, di tanah airku sana, tidak ada sistem poin yang setengah memaksa keadaanku untuk ikut serta kegiatan yang tak kunikmati agar bisa tetap tinggal on campus, tidak ada sistem penilaian bell curve yang membandingkan nilai yang kudapat dengan orang-orang lain untuk menetapkan mana skor A, B, atau C, tidak ada juga konversi mata uang dari dolar Singapura ke rupiah tiap mau belanja apa-apa. Hanya saja pertanyaan semacam itu kusadari kemudian sebagai ilusi sebab ketika aku kuliah di sana, pertanyaannya akan berbalik pada “Bagaimana jika aku kuliah di universitas di Singapura?”
Jika ada yang bertanya soal tujuan hidup, akan kujawab singkat dengan membahagiakan orang tua, membantu menyekolahkan adik-adikku, dan mengarang sebuah buku. Secara teori, aku membutuhkan nilai baik untuk mempercantik CV lamaran kerja sebelum pada akhirnya bermuara di jabatan berpenghasilan memuaskan. Namun dengan keadaan seperti ini: nilai-nilai yang jelas berantakan dibanding masa SMA-ku yang gemilang, padatnya aktivitas sampai berkurangnya interaksi sosial, kontan aku tak sedang berada pada jalan yang benar. Yang bisa kulakukan tiap kali orang tuaku menanyakan keadaan adalah menjaga agar mereka tak khawatir. Suatu waktu kusederhanakan perkara, lain waktu kusimpan perasaanku, lainnya kualihkan pembicaraan. Tidak tega melihat kenyataan bahwa orang tuaku berpeluh keringat sedangkan aku mengeluh kesulitan karena kesalahanku sendiri, mahasiswa berantakan! Lebih lagi, masih ada banyak hal lain yang perlu menyita pikiran mereka dan aku tak mau mempersulit keadaan. Bisa dibilang, kalau begini caranya, keputusanku untuk kuliah di NUS tidak akan menghantarkanku pada tujuan hidupku.
Belum pernah terpikir sebelumnya kalau yang Tuhan kirimkan untuk menyadarkanku adalah senior-seniorku. Mereka sedikit banyak melewati pengalaman yang sama denganku. Fakta-fakta kecil yang keluar dari mereka sebagai prediksi satu semester mendatang lambat laun semakin menunjukkan gelagatnya, semisal hidup kampus yang berat, cultural shock akibat perbedaan gaya hidup sampai merenggangnya hubungan antar teman SMA. Biar bagaimanapun juga, keadaan yang menempaku demikian. Ia yang membuat diri menjadi lebih tegar dan dewasa dengan apa yang harus dihadapi serta ditentukan. Sekali diputuskan tidak boleh ada penyesalan. Hanya boleh ada tanggung jawab untuk menjalani konsekuensi. Ratapan tanpa perbuatan cuma bakal jadi sampah, tidak ada gunanya. Maka lekaslah kamu bangun dari lelapmu, membasuh mukamu supaya tersadar, kamu tidak sedang main-main di sini. Tindak tandukmu mengatasnamakan namamu sendiri, keluargamu, hingga tanah airmu.
Ada lagi. Di sini, kamu harus pandai-pandai mencari teman, Sahabatku! Tidak semua orang bisa diandalkan sebagai teman, keadaaannya sekarang tidak sesurga yang kamu kenal dulu. Hanya saja bukan balas menjadi orang apatis yang seharusnya dilakukan. Setiap manusia selalu punya pilihan dalam hidupnya. Meskipun kadangkala, semakin banyak pilihan, justru semakin membingungkan dan merepotkan. Dalam hal ini, setiap anak bangsa memiliki kesempatan untuk memilih: meninggalkan apa yang telah ditanamkan dalam diri mereka dengan mengambinghitamkan "adaptasi" atau menjaga karakteristik-karakteristik yang mencerminkan citra bangsa.
Aku paham bahwa pemerintah Singapura telah berjasa dalam pendidikan tingkat tinggiku, syukur dan terima kasih untuk hal ini tiada putus. Ikatan kerja sebagai balas jasa akan kujalankan dengan sepenuh hati sebagai bukti bahwa orang Indonesia tahu balas budi. Namun ibarat seorang yang tengah kasmaran, tak bisa kupungkiri perasaanku. Ah, aku rindu tanah air, 18 tahun tak pernah beranjak dari sana dan sekarang mengembara di negeri orang. Aku bukan Minke dalam Buku Bumi Manusia karangan Pramoedya Ananta Toer, yang menulis tidak dalam bahasa ibunya sendiri. Kebanggaanku menjadi bagian dari bangsa Indonesia akan tetap melekat dalam watak juga perbuatanku. Kelak, andai aku berhasil menjadi seorang penulis, aku akan berbangga sebagai penulis yang menggunakan Bahasa Indonesia, bahasa ibu pertiwi.

0 comments :