Pelepas Gundah
Dulu, aku menggunakan menulis sebagai pelarian dari pemikiran. Penenang bagi kegelisahan. Penentram buat kemarahan. Meski kadang ia tak memberi jawaban, tapi lebih dari cukup untuk menuntaskan hal-hal berseliweran. Kini, ya, sekarang-sekarang ini, waktu untuk diriku sendiri tidaklah ada – kecuali tidur.
Seperti teori mengenai seorang tergagap, di kepalaku bergunung-gunung menanti keluar dari katup bibirku. Cepatnya membalap sampai kalah cepat dariku mengetik atau berujar. Ah, sudahlah. Lebih baik kukategorikan ke yang penting dan mendesak : keadaan di titik ini. Kemudian kulajutkan dengan yang kemudian dan lalu (aku sendiri tak tahu mana yang lebih penting di antara mereka berdua). Hmm...
Namaku sekarang tengah terdaftar di empat Exco yang berbeda : President YANUS, Sekretaris ICy, Sekretaris NUANSA, Bendahara PINUS. Untuk membuatnya menjadi lebih kompleks, aku masih terdaftar sebagai anggota EMCC dan well, mengingat kata Kak Arie yang bilang “Komitmen itu misalnya pacaran, ... butuh waktu kan? Kalo ga dikasih, nanti putuss...” maka hal itu kemudian bertemu dengan yang namanya tugas serta tanggung jawab pelajar (mahasiswa tak lain juga himpunan bagian dari pelajar) yang adalah belajar. Setiap harinya ada saja kegiatan, entah dari satu atau bisa saja lebih organisasi-organisasi tersebut. Mereka berebut lalu aku dituntut pastinya untuk bisa memegang komitmenku. Sayangnya, ego memeluk sang emosi, perasaan diri. Tentang bagaimana tidak dihargai, itu mungkin persepsi. Namun rasa sakitnya tidak mampu ditutupi. Kebencian memang belum berapi-api. Hanya saja jadi cari celah untuk buktikan eksistensi.
Maksudku, sungguh, aku paham bukan orang yang baik dalam bertindak menghadapi diri sendiri. Beberapa orang kuterka mengerti yang kumaksud ini. Jika kamu bukan bagian di dalamnya, berarti memang bukan waktunya saja. Kembali, sifat keras kepala pula pembangkang ini berkolaborasi asyik melahirkan sifat apatis. Kusebut beberapa, sekalinya tak suka dengan gurunya, aku bisa menganggap ketidakbisaanku adalah suatu hal yang wajar tanpa perlu diperjuangkan. Aku sama sekali tak peduli dengan nasibku atau nasibnya bersangkut paut dalam pembahasan demikian. Bahasa dialeknya : sebodo teing. Jadi karena sudah terciptanya perasaan tak dianggap dan tidak lebih dari sekedar bayang-bayang, aku mencoba mendirikan kerajaanku sendiri. Keluar dari kungkungan juga belenggu yang menggerogoti pencapaian diri. Jika sudah begini, aku mengerti akan tetap padam dan tidak pernah memperbaiki keadaan. Menghilangkan paradigma cuma tersisa sebagai cita-cita. Tapi setidaknya aku mendapatkan dari yang lain. Tetapi lagi, hal itu tak cukup sampai di sana. Keluhan tetap ada, tuntutan belum rampung, dan semuanya bisa saja datang justru dari orang yang mempedulikanmu.
Kemudian bukankah ini semua dialamatkannya dengan alasan kasih sayang? Mengapa kau bilang mengganggu? Mengapa kau ributkan mengatur? Karena aku tak mau melihatnya lebih perih lagi, jadi biarkan ia bosan sampai memandangku buruk sekalipun
3 comments :
umm...mgkn memang susah,tp aku rasa yg kmu perlukan skrg adl waktu utk diri kamu sendiri..
dan perasaan tak dianggap itu wajar mampir sesekali,tp kalau sampai mulai menggeregoti kmu,umm...maap ga bs kasih solusi..either kmu clarify ke orang bersangkutan "kok gw kerja kayak ga pernah dianggap ama elo?" atau kmu hipnotis diri kamu sendiri "klo tiap orang merasa ga dianggap,kerjaan apa pun jd bikin capek"
recess week is coming :) see it as a break or another mountain of tasks :) mengutip Fr Richard,the choice is yours.. :P hehehehe Gbu
mai, i like your 7 lucky fishes...
bisa minta 1 g?
Frater Theeoooo~
huaaa... lama tak jumpa...
hahaha :D
sy lg kangen2nya sm Indo, lol..
Hi, Kak Ferninda..
recess week tetep ada kerjaan, hehehe XD bkn masalah kerjaan seh ak liatnya lbh k arah perspektif awal.. hmm~
Post a Comment