Dua Sahabat Untuk Satu Kaki
*OMG, ini gw tulis tahun 2007. Cupu bangggett -.-" Dan sejak saat itu gw sadar: gw g bakat nulis di bidang fiksi, hahaha :D. But, still, enjoy it! XD*
------------------------------------------------------------------------------------
“Nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif atau…”
Baiklah, Ketua OSIS tidak bisa dihubungi. Aku mencoba menghubungi wakilnya yang kemarin memintaku rapat hari ini. Hari dimana semua kalender mencetaknya dengan warna merah, hari Sabtu, 11 Agustus 2007, bayangkan! Tapi hanya nada sambung yang aku dengar. Aku lelah, aku sudah datang sejak jam delapan pagi, sesuai waktu yang dijadwalkan. Satpam sekolahku sampai heran melihat kedatangan anak rajin ini. Bahkan sudah lewat tiga puluh menit tidak ada satu anggota OSIS pun yang datang. Memang sangat biasa kalau mereka terlambat tapi tidak pernah seterlambat ini. “Ini yang terakhir kali. Sampai tidak diangkat, aku pulang!,” pikirku. “Halo, kenapa Stella?,” kentara ia baru bangun tidur. Langsung saja aku bicara, “Hari ini jadi rapat OSIS ga ya?” Ketua OSIS yang baru bangun itu menjawab dengan santainya, “Oh, ga jadi. Beep.” Telepon dimatikan begitu saja. Hebat. Mengapa aku tidak dikabarkan bahwa rapat di hari libur ini batal?
Tuhan nampaknya sudah membuka mataku. Beruntung hal ini terjadi. Sebab jika tidak, aku akan menuruti kata-kata pembina OSIS-ku untuk melepas lomba baca puisi yang harus aku ikuti. Mengorbankannya untuk menjalankan tanggung jawabku sebagai penanggung jawab seksi perlengkapan acara OSIS yang diundur hingga bertabrakan dengan jadwal lomba itu. Meskipun setelah kejadian itu aku masih bimbang akan pilihanku tapi aku tetap berusaha tenang, mencoba untuk beristirahat dari kejenuhan rutinitas yang datang menjejaliku. Hanya dalam tidur aku mampu untuk bernafas.
“Kak, kalau gantiin saya pas hari-H sebagai penanggung jawab perlengkapan, gimana?” aku mengirimkan pesan pendek ke Kak Ririn, salah satu anggota OSIS yang kebetulan satu seksi perlengkapan denganku. Berharap sekali aku menemukan jawaban atas pilihan setelah menerima balasan darinya. Satu jam, dua jam, hingga sesaat sebelum aku tidur telepon genggamku barulah berbunyi. Segera aku melihatnya setelah menghela nafas dengan tenang. Aku membacanya cukup heran, ”Ga masalah sih. Aku sih OK aja. Tapi nanti kabarin ketua OSIS ya…” Ternyata mudah sekali untuk melimpahkan tugasku yang satu ini kepada orang lain. Tapi ada baiknya juga kalau aku melihat ke sisi yang satu lagi. “Van, kalo gue mundur dari lomba baca puisi gimana?” pesanku.
Vania adalah sahabatku, ia yang menyeretku untuk ikut lomba. Reaksinya tepat seperti yang aku pikirkan. Telepon genggamku langsung berdering dan suara histerisnya segera masuk telingaku, “Apa? Lo uda gila? Kenapa mesti mundur? Masak lo ninggalin gue berjuang sendiri…” Ia tidak henti bicara sampai aku ceritakan duduk perkaranya. Aku berusaha menjelaskan, “Kata pembina OSIS, gue kan masih bisa ikut tuh lomba taon depan.” Merasa benar dan tidak mau kalah, Vania membalas, “Acara OSIS juga masih ada yang berikutnya! Lagian OSIS kan bukan cuma lo doank!” Menyadari kami sama-sama tak bisa tenang, pembicaraan dihentikan dengan mengambang, “Ya udah, nanti gue pikir-pikir dulu.”
Ah, kepalaku benar-benar penuh. Rasanya aku sudah tidak sanggup lagi berpikir jernih. Kejadian ini benar-benar berdampak dalam kegiatanku yang lainnya. Di sekolah, tidak ada pelajaran yang benar-benar aku terima dengan baik. Sesekali pastilah pikiranku melayang membayangkan pilihan itu. Aku benar-benar tidak tahu mana yang terbaik untukku. Hari Rabu datang, guru pembina Klub Matematika, yang sekaligus adalah guru yang sangat aku kagumi menyadari akan hal yang tidak beres pada diriku. “Kamu lagi mikirin apa sih?,” tanyanya saat menghampiri mejaku. Mungkin ia melihat aku yang sedang termangu saja dan tidak mengerjakan soal. Aku pun menjawab dengan nyamannya karena aku memang seringkali bicara padanya setiap ada masalah, “Iya nih, Pak! Mesti mikirin pilihan. Acara OSIS diundur terus jadi bentrok deh sama lomba baca puisi. Saya udah ga ngerti deh, nilai-nilai turun, pembuatan buku untuk ulang tahun sekolah belum selesai, OSIS, ketua kelas, dan lainnya. Seakan-akan saya ga bisa bergerak.” Aku masih melanjutkan ceritaku secara kronologis dan selengkap-lengkapnya. Ia mendengarkan dengan baik dan seperti biasa, aku mendapat kembalian berupa kata-kata bijaknya. Ia memang sudah seperti malaikat untukku, “Ya udah, udah terlanjur nyebur kepalang basah ya, Tuhan kalau ngasih sesuatu pasti ada manfaatnya kok, dengan kesibukan kamu, dengan nilai kamu, pasti ada maksudnya. Kamu tenang dulu deh, pikirin dampaknya kalau kamu milih suatu pilihan.” Aku tidak puas dengan jawaban itu, “Kalau Bapak jadi saya, mendingan gimana?” Pak Robert menjawab, “Kalau saya jadi kamu yang sudah mengalami semua ini sih pasti saya milih lomba baca puisi.” Itulah yang aku kagumi darinya, selalu bisa menjawab pertanyaan dengan jujur. Ia pun tersenyum dan segera berdiri untuk melangkah ke meja lain sebelum aku sempat mengucapkan terima kasih padanya. Aku memang sudah menyita waktunya di Klub Matematika untuk sekedar mendengarkan ceritaku.
Setelah mendapat saran berikut dukungan dari beberapa sahabat dan guru yang tentu saja beragam sehingga sempat membuatku justru bertambah bingung, hari Kamis aku mendatangi kelas Vania. Kami terpaksa tidak sekelas. Aku di XI IPA 2 dan ia di XI IPS 1. Meskipun nilainya cukup untuk masuk jurusan yang sama denganku, tapi perasaan dan pilihannya sudah ditambatkan di tempat lain. Aku bertemu Rheza, teman sekelas Vania merangkap teman baik kami, “Rhez, Vania mana?” Rheza terdiam dan memamerkan tampang herannya, “Lho? Gimana sih lo? Dari kemaren dia kan udah ga masuk! Kok lo bisa ga tau?” Aku terkejut dan meluapkannya dengan suara cukup keras hingga beberapa penghuni kelas itu menghadiahiku tatapan sinis, “Hah? Serius lo? Kenapa?” Rheza hanya mengangkat kedua pundaknya, tidak ada jawaban yang bisa ia berikan. Sebelum aku melangkahkan kaki keluar, Rheza memanggil, “Nanti pulang sekolah kita sama-sama ke rumah Vania mau ga?” Tanpa pikir panjang aku mengangguk. Toh hari itu tidak ada rapat OSIS. Sekalipun ada, aku akan meminta izin. Kalau yang lain boleh meminta izin berkali-kali hanya dengan alasan mereka sudah dijemput dan ada kursus, kenapa demi seorang sahabat aku tidak boleh izin untuk pertama kalinya?
Rheza sudah menanti di pintu gerbang sekolah. “Sorry, gue telat! Tadii…,” belum sempat sebuah alasan meluncur dari mulutku, ia menyodorkan helm sambil berkata, “Udahlah! Gue tahu kok. Tadi ketua kelas dipanggil sama wakil kepsek dulu kan?! Yuk, berangkat!” Umur Rheza sudah 17 tahun, jadi ia boleh saja mengendarai sepeda motor. Yang bisa kulakukan hanya menurut dan segera naik motornya. Rheza seorang yang baik dan ramah, ia tidak suka mempersoalkan banyak hal. Bukan sesuatu hal yang aneh kalau ia tidak menganggap keterlambatanku sebagai suatu masalah. Tidak heran juga sosoknya jadi pusat perhatian para murid perempuan di sekolah. Penampilannya memang lumayan. Kacamata dan kulitnya yang putih membuat ia terlihat manis.
Lamunanku mendadak raib ketika kami sampai tepat depan rumah Vania yang letaknya memang tidak jauh dari sekolah. Bi Inah setengah berlari keluar membukakan pintu setelah mendengar bunyi bel yang ditekan Rheza. “Non Vania ada di kamarnya, masuk aja,” kata Bi Inah yang sudah hafal betul wajah kami karena saking seringnya datang ke sana. “Iya, Bi. Makasih ya,” sahutku. Kaki kami berlomba menuju kamar Vania. Tok, tok, tok. “Ya, masuk!,” suara Vania terdengar parau. Aku membuka pintu perlahan. Vania yang tidak menduga langsung bicara begitu melihat kami, “Eh, elo Stel? Rhez? Wah, ga nyangka lo pada dateng! Seneng banget gue! Gue udah bener-bener bosen banget di rumah! Ga ada kerjaan.” Rheza memberikan tanggapan atas kata-kata Vania tadi, “Lo juga sih! Orang ga ada apa-apa pake acara ga masuk sekolah segala!” Vania gusar dan membantah, “Enak aja! Sekarang ga apa-apa, udah sembuh! Lusa kemaren kaki gue tuh bengkak tiba-tiba terus kemaren gue demam! Seenaknya aja!” Aku berusaha mendinginkan suasana yang mungkin saja meledak, “Udahlah, Rheza juga becanda kali, Van. Lo kayak ga kenal dia aja.” Pikiran Vania seakan terbangun, “Iya, ya. Anak aneh kayak gini!” Gantian Rheza yang sewot, “Eh, siapa yang aneh?!” Kami tertawa, bercanda, dan bicara sampai akhirnya suara adzan magrib menegur kami yang melupakan keberadaan waktu.
“Stel, udah malem lho! Gue baru sadar. Lo mau pulang ga?,” Rheza menawarkan. Aku melirik jam tangan, “Oh, iya! Nanti bokap gue bisa marah-marah nih! Ga ada masalah aja dia suka marah-marah apalagi kalau ada masalah. Van, gue sama Rheza pulang dulu ya!” “Yah, pulang. Lo nginep aja deh! Rheza aja suruh balik! Hehehe… Ya, udahlah. Apa boleh buat? Besok gue juga udah masuk sekolah kok. Ntar minta Bi Inah bukain pintu aja yah, sorry gue ga bisa nganter sampe depan,” ujar Vania. Aku panik karena kupikir ia sudah baik-baik saja, Rheza juga panik, tapi aku bicara lebih cepat darinya, “Lho? Lo masih sakit? Gimana sih lo, Van?” Vania menertawai raut muka kami, “Nyantai donk! Gue males aja, Mbak!” Rheza mengingatkanku, “Lo udah bilang blom apa yang mau lo sampein ke Vania?” Sadar melupakan tujuan awal mencari Vania, aku bicara, “Eh, iya! Van, akhirnya gue milih untuk ikut lomba baca puisi itu lho!” Aku dan Rheza lalu pulang meninggalkan Vania dalam kegirangannya.
“Thanks ya, Rhez! Bye, sampe besok!,” ucapku lepas dengan tiada lagi beban. “Yo! Gue balik ya!,” balasnya. Aku sempat melihatnya sampai berbelok di persimpangan jalan sebelum aku masuk rumah. Senangnya, hari-hari mulai berjalan normal seperti biasa. Pilihan juga sudah ditentukan. Selesai sudah masalahku. Aku bisa tidur nyenyak dan mimpi indah hari ini.
Tiba juga hari Minggu, hari lomba baca puisi itu diadakan. Aku mendapat giliran tampil nomor tujuh dan Vania nomor tiga, masing-masing sesuai dengan angka keberuntungan kami. Sesuai dengan rahasia publik, remaja putri memang dikenal cukup percaya oleh hal-hal yang sering dianggap banyak orang tidak masuk akal. Namun tidak ada yang berani menerka siapa yang akan menang sebab semua tampil dengan baik, sangat baik malahan. Sampai pada akhirnya hasil lomba keluar jam satu siang. Ketua juri membacakan namaku di urutan kedua. Vania memberiku selamat, “Selamat ya! Tuh, ga rugi kan lo ikut lomba ini?!” Aku membalasnya, “Iya deh, gue tunggu ya juara satunya naik ke panggung!” Benar saja, setelah aku maju ke panggung, sang ketua juri melanjutkan kata-katanya, “Juara satu lomba membaca puisi tingkat kotamadya Jakarta Pusat dan akan mewakili ke tingkat provinsi adalah peserta dengan nomor urut tiga, Vania!!!” Tiba-tiba saja seisi ruangan dikejutkan karena Vania jatuh saat hendak menuju ke panggung. Ia segera dilarikan ke rumah sakit dan diperiksa. Aku sungguh khawatir akan keadaan dirinya. Vania memang bukannya tak sadarkan diri tapi bukankah hal yang aneh kalau tiba-tiba saja ia bisa jatuh tanpa alasan yang jelas?
Orang tua Vania langsung datang ke rumah sakit begitu kuhubungi. Mereka menanyakan kabar Vania dalam keadaan panik, “Vania kenapa?” Seolah tenang, aku menjawab, “Saya juga belum tahu, Tante, Om. Dokter sedang memeriksanya. Kita tunggu saja ya.” Tepat saat aku mengakhiri ucapanku, dokter keluar, “Keluarga Vania yang mana ya?” “Kami, Dok,” sahut kedua orang tua Vania. Mereka semua masuk ruang praktik dan meninggalkanku menunggu di luar. Rheza datang karena teleponku, tubuhku gemetar saat aku menceritakan padanya semua kejadian tadi, aku benar-benar takut. “Udah, tenang dulu, ya. Kita kan juga ga tahu ada apa. Mungkin aja ga ada apa-apa,” katanya menenangkan. Tapi itu tak bertahan lama karena jawaban orang tua Vania atas pertanyaan kami tentang keadaan Vania sangat mengejutkan, “Vania kena penyakit arthritis rheumatoid.” Sebagai orang awam, kami tidak tahu banyak soal penyakit itu. Yang kami tahu hanyalah penyakit itu sanggup membuat Vania kesakitan untuk berjalan dan harus menahan nyeri untuk sekedar menggerakkan kakinya. Biarpun begitu kami sadar bahwa bukan saat yang tepat untuk bertanya banyak. Tidak satu pun di antara kami yang tahu apakah Vania sudah mengetahui tentang penyakitnya atau belum. Kami hanya bisa berdoa untuknya, untuk sahabat kami.
Seminggu lamanya setelah kejadian itu Vania tidak masuk sekolah. Sudah banyak teman-teman seangkatan yang menanyakan keberadaannya. “Teman-temannya sangat baik. Ia tidak salah punya teman,” pikirku. Minggu berikutnya, tepat di hari Senin, Vania masuk sekolah dan yang cukup menggemparkan adalah karena kruk yang ia pakai untuk membantunya berjalan. Semua orang bereaksi berlebihan. Aku rasa tidak perlu pertanyaan semacam, “Lo lumpuh, Van?” atau “Ngapain lo pake kruk?” Vania tampak benar-benar muak atas situasi semacam itu. Ia hanya memberikan senyuman atas banyak pertanyaan yang terlontar kepadanya. Baguslah ia tidak perlu menjelaskan berulang kali kepada guru-guru karena orang tua Vania sudah mewakilinya untuk melakukan itu.
Tiga hari berlalu. Vania sudah bosan menjawab pertanyaan teman-teman sekelasnya yang ia anggap terlalu sok perduli. Bagaimana tidak? Sudah banyak orang yang mengakui dirinya teman melontarkan kalimat, “Enak banget ya jadi lo? Kerjaannya cuman sekolah kalo ada ulangan! Kalo ga, nyantai-nyantai aja di rumah! Gue juga pengen.” Mungkin itu lantaran mereka kesal karena guru Akuntansi memuji Vania yang meskipun kehadirannya di sekolah bisa dihitung dengan jari masih mendapat nilai 85 untuk ulangannya sedangkan banyak teman sekelasnya yang mendapat nilai merah. Tidak sedikit pun mereka tahu apalagi merasakan bagaimana sakitnya berada di posisinya. Kalau semua murid berharap akan datangnya hari libur, ia sampai seringkali bertanya, “Kapan sih gue bisa masuk sekolah? Kapan gue bisa sekolah normal?” Ia hanya ke sekolah untuk ulangan dan setelah itu pulang. Setiap hari ia harus bertanya tentang apa saja yang terjadi di sekolah. Pernah suatu ketika Phidelia berkata seperti ini padanya lewat telepon, “Gue sebel lho sama orang-orang yang kerjaannya nanya sama gue mulu! Gue keganggu deh!” Merasa sakit, ia berujar lirih, ”Lha gue kan lagi nanya sama lo.” Hanya jawaban klise yang seringkali ada, “Ya maksud gue bukan lo!” Vania hanya bisa mengeluh padaku, “Kenapa sih harus gue yang dapet penyakit ini? Kenapa sih mereka masih nganggep jadi gue enak?” Manusia macam apa sebenarnya yang tidak bisa bersimpati padanya? Mengapa “teman-temannya” bisa sedemikian kejam padanya? Aku tidak tahan lagi. Ingin rasanya menampar orang-orang bermulut besar seperti mereka. Tapi Vania masih bisa sabar, ia jauh lebih sabar dan tabah daripada siapapun. Ia mampu menahanku untuk tidak melakukan tindakan gegabah, tindakan yang justru akan membuat segalanya bertambah lebih runyam lagi. Katanya, “Setidaknya kan gue masih punya lo sama Rheza.”
Sekarang sudah bulan September, berarti sudah dua minggu berlalu dari hari lomba baca puisi itu diadakan dan esok, sebagai juara kedua aku harus menggantikan Vania maju ke tingkat provinsi. Malamnya aku mendapat pesan,
“Besok tampil yang bagus ya! Lo harus menang! Demi gue! Semangat!”
Aku menangis membacanya, menangis di dalam hati di malam yang dingin itu dan hanya bisa memberi balasan, “Pasti.”
Usai memenuhi janjiku, aku mengunjungi Vania ke rumahnya dengan diantar Rheza. Ia memang tahu aku ikut lomba baca puisi tingkat provinsi tapi kalau ia bisa tahu juga tempat lomba itu, tentu saja dari Vania, Vania yang sempat menolak mentah-mentah piala berikut hadiah lomba yang ingin aku pindah tangankan padanya. “Kenapa? Kalo lo ga mau nerima, berarti lo ga nganggep gue temen lo!,” paksaku. Vania baru sempat berkata, “Maksud gue…,” ketika aku langsung menjawabnya sambil menutup telingaku, “Ga mau tahu!” Apa yang kulakukan setidaknya cukup untuk membuat Vania hanya bisa pasrah. “Tapi kalo hadiahnya, kita pake makan-makan aja ya?!,” belanya. Kami memesan pizza dengan ukuran loyang besar dan menghabiskannya hanya bertiga sembari mengobrol. Rheza menghadirkan impiannya untuk membuat sebuah band dengan aku sebagai vokalis, ia sebagai pemain drum, dan tentunya Vania sebagai pemain gitar sedangkan sisanya tinggal mencari sahabat lama kami yang memang banyak yang pandai bermain alat musik. Ia salah, ia mendengungkan cita-citanya yang sangat menyenangkan itu di saat Vania berpikir dua kali untuk memikirkan harapan dan cita-cita, di saat Vania sibuk berkutat dengan perjuangan hidupnya. Meskipun Vania menanggapinya dengan baik, “Mau donk! Gue tunggu ya!,” aku bisa membaca matanya. Ia menegarkan dirinya sendiri.
Selama perjalanan pulang ke rumah, aku bicara dengan Rheza, “Rhez, gue rasa lo salah deh nyampein cita-cita lo itu ke Vania sekarang ini. Lo mesti tahu, dia tuh sering cerita ke gue betapa tertekannya dia. Dia ngerasain banget pandangan orang tiap kali dia berobat ke Semarang dan orang lain di pesawat ngeliatin dia kayak orang cacat. Orang yang periang kayak dia bahkan pernah bilang, ‘Gue ga tau deh mau ngambil fakultas apa. Kayaknya gue udah ga punya masa depan deh, gue penyakitan gini!’ Dia juga cerita kalau dia capek banget mesti jalanin hidup kayak gini di usianya yang padahal masih muda. Sekarang lo malah makin nyadarin dia kalau dengan keadaan dia, dia ga mungkin bisa ikut ngewujudin impian lo bikin band. Gue ga bermaksud nyalahin lo. Gue cuman pengen cerita ke orang aja. Gue ngerasa ga bisa buat apa-apa, Rhez, sebagai sahabatnya!” Tahu-tahu saja pipiku sudah basah oleh air mata. Rheza membiarkanku menangis di pundaknya, “Sorry, gue sadar gue salah! Sekarang lo lepasin aja perasaan lo ya!”
Untung saja aku sudah tenang ketika sampai di rumah. “Stel, tunggu!,” Rheza menahanku, “ada yang mau gue omongin dulu.” Aku menunggunya bicara dan ia tahu itu, jadi ia segera melanjutkan bicaranya, “Gue pengen bareng lo. Gue pengen bantu lo ketika lo ngerasa susah, gue pengen ngelindungin lo, gue pengen lo berbagi cerita ke gue, dan gue juga pengen ngejaga lo. Lo mau ga jadi pacar gue?” Terang saja aku menjawab, “Bagaimana bisa gue mikir buat pacaran ketika sahabat gue lagi susah kayak gini? Lo tau kan, Rhez?” Jawabanku masih disanggahnya, “Gue pengen bareng lo buat bantuin Vania. Kemampuan dua orang jauh lebih besar daripada satu orang bukan? Dan lo tahu kan kalo cinta juga punya kekuatan?” Aku terdiam dan masuk rumah tanpa memberi jawaban padanya.
Esoknya sudah hari Senin lagi, Vania tidak masuk hari ini. Rheza datang ke kelasku menagih jawaban atas pertanyaannya yang kemarin. Aku tetap belum bisa menjawabnya. Ada sebagian dari hatiku yang memikirkan kondisi Vania. Tapi ada sebagian lagi yang mulai menyadari bahwa aku pun menyayanginya. “Sorry, gue tetep ga bisa jawab sekarang,” kataku padanya. Rheza mengerti dan mengalah, “Baik, tapi lo bisa kan ikut gue ke Bandung hari Minggu?” Aku tidak mengerti jalan pikirannya, “Ke mana? Ngapain sih?” “Lo percaya sama gue kan?! Kalo lo percaya, lo ikut. Kalo ga, lo ga usah keluar rumah Minggu nanti jam sembilan pagi. Gitu aja,” Rheza pergi tanpa mau tahu jawabanku. Apa sebenarnya maksud dari semuanya ini?
Minggu pertama di bulan September berlalu hambar. Semua itu karena Vania jarang masuk. Kadang aku bertanya kenapa Tuhan memberikan penyakit itu kepadanya? Bahkan kemungkinan terkena penyakit itu hanya satu berbanding enam juta orang. Sayangnya pertanyaanku itu tidak ada gunanya lagipula tidak ada yang bisa menjawabnya dengan pasti.
Tepat jam sembilan pagi, Rheza datang. Aku memutuskan untuk pergi dengannya ke Bandung tanpa tahu tepatnya di mana, toh aku percaya padanya. Jalan waktu itu sangat lenggang sehingga hanya butuh dua jam untuk sampai ke tempat yang dimaksudkan oleh Rheza. Ia membawaku ke sebuah tempat yang indah, sekelilingnya hijau sekali tapi yang paling menarik di sana adalah sebuah patung yang terbuat dari batu. Patung itu menggambarkan seorang malaikat berambut ikal dengan sayapnya yang mengembang dan memegang harpa. Tampak jelas patung itu sudah tua. Di bawahnya ada kolam dangkal dengan beberapa ikan dan bunyi air yang mengalir di bebatuannya. Angin di sana membuat hati merasa tentram dan selalu terdengar menyapa. Rheza memecah keterpakuanku akan suasana tempat itu dengan perkataannya, “Tanggal 9 September jam 12 nanti kita berdoa buat Vania. Asalkan kita yakin, doa kita akan terkabul.” Aku mengangguk.
Rupanya di sekitar situ ada lonceng yang berdentang tiap jamnya. Kami berdua berdoa tepat dua belas kali lonceng itu berdentang. Diakhirinya doaku yang sederhana dengan setetes air mata yang jatuh ke kolam di bawah patung malaikat tadi. Begitu aku membuka mataku, Vania menghubungiku dari Semarang, tempat praktik satu-satunya dokter spesialis penyakit yang dideritanya, “Stel, Tuhan ngasih mukjizat buat gue! Sekarang gue di Semarang buat berobat tapi ternyata pas diperiksa, gue sembuh total! Dokter juga ga ngerti kenapa ini bisa terjadi!” Aku tidak bisa berkata apa-apa. Vania memanggil-manggil namaku untuk memastikan aku baik-baik saja. Dengan tatapan kosong aku bicara, “Serius? Gue bener-bener ga bisa ngomong apa-apa. Gue seneng banget!” Sebelum aku terdiam lebih banyak lagi, Vania berkata, “Eh, udah dulu ya. gue pengen buruan balik ke Jakarta. Ga sabar pengen ketemu lo sama Rheza!” Aku merasa seperti ada yang mengetuk kepalaku hingga kutersadar atas apa yang barusan terjadi. Aku memeluk Rheza dan berteriak untuk mengabarkan padanya bahwa Vania sudah sembuh. Ia menunduk kemudian berbisik lembut di samping telingaku, “Sebenarnya ada satu syarat lagi supaya doa tadi terkabul. Yang berdoa di bawah patung malaikat itu haruslah orang yang saling mencintai. Jadi, sekarang lo sudah mau jadi pacar gue?” Aku mengangguk, sekarang tidak ada alasan lagi bagiku untuk menahan jawabanku. Ia balas memelukku.
Kami secepatnya kembali ke Jakarta karena tahu Vania ingin segera menemui kami. Di rumah Vania ternyata sudah ada Daniel dan Emily. Mendadak terjadilah reuni antar teman satu geng. Menyenangkan sekali mendapati kami berlima bertemu di saat yang sangat tepat. Mulut kami tak henti bicara membagikan banyak kisah yang kami alami. Tiba-tiba Vania berkata pada Rheza, “Sampe sekarang gimana? Udah sukses?” Rheza mengembangkan senyumnya dan melihatku, “Udah, thanks ya!” Ternyata Vania tahu semuanya. Tidak, Vania tidak tahu semuanya. Vania hanya tahu perasaan Rheza padaku, bukan soal mukjizat itu. Biarlah itu menjadi rahasia Tuhan, aku, dan Rheza yang memang sudah menyimpannya. “Hey, jadi kan bikin band? Daniel kan bisa main bass, Emily juga bisa main keyboard. Lengkap donk?”, ujar Rheza yang masih keukeuh bikin band. Daniel juga menjawab dengan antusias, “Iya, boleh tuh. Gue juga lagi pengen banget punya tempat nyalurin bakat gue.” Emily menyambung saja, “Gue juga pengen. Tapi, namanya apa nih?” Dua kata langsung terlintas di pikiranku, “Holy Angel.” Yang lain serempak bicara, “PERFECT!”
2 comments :
11 agustus hari apa? kok tanggal merah?
gw udah g inget, it taon 2007..
tp stlh gw browsing..
it hari Isra Mir'aj Nabo Muhammad SAW.. hohoho~
Post a Comment