Pelacuran
Umurku belum genap menginjak kepala dua. (Baiklah, aku sadar usia memang bukan suatu skala ukur yang efektif untuk menilai beberapa hal. Teman seangkatanku saja bahkan ada yang sudah menikah. Tapi dalam hal ini, aku tak tahu lagi harus mengacu pada apa.) Hanya saja isu-isu yang kudapati semakin dewasa. Ah, aku jengah membahasakannya. Maksudku, dulu kurasa aku tidak akan pernah mencicipi tulisan beraroma hal-hal seksual. Malas aku membahasnya, enggan. Awalnya yang kuhendaki adalah tulisan keras, kritis, berani dengan suara yang frontal. Bisa soal demokrasi, otorisasi, pemerintahan beserta penyelewengan. Namun kelakarku tak berubah. Kepalaku ini tak mau diam disentil sedikit dengan kalimat sensitif atau isu sosial. Maunya berkoar saja.
Maka sewaktu kemarin ibuku membagikan ceritanya. Pikiranku melanglang. Jadi dekat sekali hal semacam ini. Kita tidak pernah tau apa yang akan terjadi, lalu lebih lagi, kita bahkan bisa tak habis pikir apa yang tengah terjadi. Sedetik saja manusia bisa berubah. Jadi jahat, jadi nakal, jadi binal. Tidak kenal pada latar belakang atau status. Perubahan itu perlu waktu! Ya, jika ke arah yang lebih baik. Tapi tidak untuk ke arah yang lebih buruk, lebih berantakan, lebih kotor. Dan di saat itu, engkau akan berkata, tidak ada lagi yang bisa engkau percaya, tidak saudara barangkali, lebih-lebih kawan baikmu sendiri.
Pelacuran yang kumaksudkan di sini bukan perdagangan wanita melalui perantara atau sejenisnya. Tapi lebih ke arah dengan “inisiatif” sendiri. Aku menyayangi keadaan semacam ini. Dengan berada pada posisi orang yang sedikit banyak mengetahu latar belakang, tak akan perceraian yang kukambinghitamkan. Jelas-jelas ini pada orangnya sendiri sampai menyulut timbulnya perceraian tersebut. Sudah begini, apa salah anak mereka kutanya? Psikologis seseorang tak akan ada yang tahu sampai yang bersangkutan membeberkannya sendiri, menelanjangi hatinya.
Itulah sebabnya, suatu hubungan dikenal lebih dalam dengan nama panggilan “komitmen”.
Banyak akan beralasan pada desakan ekonomi, tuntutan hidup istilah lainnya. Lain hal menggelitikk, apa yang tengah kita diskusikan jika faktanya bisa juga si orang bersangkutan yang membuka kamar, meladeni, tanpa dapat apa-apa, baiklah, mungkin kepuasan birahi? Yang jelas ia bukan dapat uang melainkan menguras pundi. Dengan siapa? Tak jelas. Bergantian pria bejad masuk keluar dari hidupnya. Berkedok salah kirim pesan pendek. BUAYA!!! Lalu kalian mau bilang itu kebetulan jika berasal dari daerah yang sama?
Pikiranku melayang kepada buah hatinya, yang bungsu yang nakal itu. Sebab cuma ia seorang yang pernah kuajari berhitung. Lainnya tidak. Tak tahulah aku nakalnya dari mana. Lebih tak tahu lagi aku hatinya kalau tahu apa yang ibunya lakukan di luar sana. Sebelum ia tahu saja, berarti ibunya telah berbohong untuk menutupinya. Sakitnya perih seperti luka ditetesi air garam.
Dalam hal ini, tidak takutkah ia pada penyakit? Santai saja jawabannya, "Ya kalo kena ya emang sialnya aja." Jika yang kelihatan jelas saja bisa disahuti demikian, apalagi dosa? Hal abstrak yang menentukanpun tak terlihat secara fisik. Mana pernah lagi dipikirkan hal-hal normatif macam itu?
Oh, tahukah kamu? Orang-orang di sekitarmu bukan mau ikut campur. Mereka hanya ingin berperan dengan benar, memainkan status sosialnya sebagai orang yang ingin menarikmu ke jalan yang benar. Terlebih jika mereka sahabatmu.
Semoga doa-doa di tiap hari yang dialamatkan untukmu bisa mengetuk hatimu perlahan namun kedengaran dengan nyaring. Karena malam ini harusnya sunyi. Namun kamu memubatnya gaduh sendiri.
Mariana Widjaja
0 comments :
Post a Comment