Mendung Murung

Pagi ini cerah merekah tidak ada rasa lelah
Siang tadi terik memekik dengan rasa ampun mencekik
Hanya...
Sore barusan mendung murung bikin hati terkurung

Sebagai gadi kecil lugu berjalan di tengah kota asing
Pilihan lantas pertimbangan bersemayam atas kepala
Hidupnya kelewat besar buat ditanggungkan karena suatu
Ada yang belum sempat mampir dipikir

Dari jauh kugerayangi parasnya sampai ujung kaki
Tertunduk merah padam jadi pura-pura terkendali
Lupa pada jenuh meski menunggu
Ah, gara-gara kamu!

Berjalan tegap si penyebab ke arahnya lambat
Dialamatkan senyum paling menggoda di dunia
Perempuan itu seketika ingin bersandar di pundaknya
Mendekap lalu mencumbu tengkuk wangi sabunnya

Sekedar sekelebat terbalas kado spesial di hari ini
Berantakan dibuatnya gelagapan berangan-angan
Mengharapkan tangan mungilku di selipan jemarinya
Sengaja kutumpahkan hingga berujung perkenalan

Bibir mereka kaku
Dibalik yang terkatup digigit kuat menahan rasa
Rupanya memang sudah suka sejak semula
Hal itu sungguh tak acuh mana muda atau tua

Kubolehkan tangannya melingkar di pinggangku
Kuizinkan si tampan merangkul tubuhku tanpa daya
Sebab aku menikmatinya, biar orang berkata bagaimana
Kami kekasih sekarang, mau apa?

Mabuk sudah mereka, tuli tentang bicaranya publik mendelik
Norma kalah telak oleh idealisme dan hati
Bertukar pelukan hangat keduanya sungguh mesra
Sibuk memainkan jamahan di punggung pasangan

Puncaknya malam dingin bersama bulan penuh benderang
Ia menanggalkan helaianku sampai bersembunyi di balik kelambu
Membasahi tiap jengkal lekuk tubuhku dengan tulus
Menjadi miliknya secara utuh, b.e.r.d.a.r.a.h

Wanita itu bangun di sisi pria pujaannya
Memandang lekat-lekat berhias rona kepuasan bahagia
Saling berjanji bersama, menolak dilepas berpisah
Dan Si Kesempurnaan itu segera mau dibagikan setengahnya

Bunda bilang turut senang bukan berarti euforia
Nasihatnya bersambung jadi rangkai peringatan tak terulang
Biar tiada bak ia tinggalkan ayah buat yang lebih dewasa
Penasaran jadi ditanya, sampai kubisikkan nama guna menjawabnya

Siapa?
Ayahmu?
Oh!
Neraka!

Terinspirasi saat melihat langit mendung sore ini di Science sewaktu mau pergi ke UCC. Agak berlebihan memang reka kisahnya. Tapi mungkin ini jadi puisi pertamaku yang "agak vulgar".

0 comments :