Ekspektasi - Realita != 0 -> Kekecewaan
Sebuah hal menegurku.
Kata-kata di pagi itu.
Yang mungkin secara tak sengaja diucapkannya.
Yang barang kali bukan maksud untuk bicara.
Secepat itu.
Mengajakku membuka mata.
Bahwa selama ini aku terlalu berdiri pada independensi.
Yang dalam kamus dikenal sebagai kata berlebihan.
Kesedihan.
Aku harus membangun benteng ketegaran di tengah orang-orang.
Minimal perlu kepura-puraan agar rasa bersalah lenyap daripadanya.
Sebab aku terlalu lelah membuatnya kecewa dan tak nyaman.
Terganggu.
Saat ekspektasi tidak sekata dengan realita.
Di sanalah ia melahirkan kata itu, kekecewaan.
Lemah.
Sekurang-kurangnya pada dua hal.
Merasa bersalah.
Membebankan kekecewaan.
Karena.
Kepada yang membuatku merasa dihargai.
Berbaik hati.
Pada mereka, aku bisa lebih lagi.
Sedang buat yang berlaku tak menyenangkan.
Bagi yang merendahkan.
Sudah kuanggap tidak ada.
Katanya selain itu, keras kepala.
Banyak tanya.
Cerewet.
Jadi hitung-hitung ada empat?
Atau aku terlewat?
Bicaralah dan buat aku lebih lega.
Setidaknya tangisku bukan tercurah sebagian.
Namun segera melepaskan.
Hingga hela nafas ini tak perlu di tenggorokan tertahan.
Kuterima belas kasihmu.
Dengan tekad menenangkan pun menstabilkan.
Termasuk menghubungiku.
Yang terpasksa kutolak mentah-mentah.
Takut masih lemah.
Tidak mau runtuh lagi karena lirihnya suaraku.
Mengetuk air mata untuk turun.
Lagipula aku lebih memilih kenyataan yang menyakitkan
ketimbang kata-kata manis rekaan.
Ketahuilah.
Ini bukan amarah atau kesal.
Jika sungguh, tak 'kan bersedia diri ini menanggapi.
Tak 'kan segan aku menyahut.
Dinamakan ini rasa sedih juga koreksi.
Sekali lagi, merasa bodoh.
Tak menangkap maksudmu.
Entah itu benar atau canda belaka.
Maaf.
Aku tidak bisa seperti yang kau ekspektasikan.
Ternyata kuucapkan lagi kalimat itu, secepat ini.
Manusia ini hidup dalam konstruksi hidup manusia di sekitarnya.
Ia terlalu apatis soal hidupnya dan sebenarnya bagaimana bangunan fisiknya.
Tidak juga pondasinya.
Yang penting itu bagaimana kenyataan.
Bahwa kau terganggu dan tak nyaman.
Bebalnya, berulang kali kau bercerita ini itu.
Dan aku justru mengulang di hadapanmu secara telak.
Hal yang secara terang benderang.
Kau nyatakan bersitegang.
Kepercayaanmu tiada berbalas dengan baik.
Tenanglah.
Tinggalkan kuatirmu.
Tidak akan lagi mengganggumu.
Doaku yang terbaik bagimu.
Dalam diam.
Akan kubenahi semua ini.
Kuobati lukaku yang perih.
Atas semua hal yang telah kau katakan,
kuucapkan terima kasih.
Sedalam-dalamnya, setulus-tulusnya
Baiklah, imajinasiku akhir-akhir ini melanglang alamnya. Ha.ha.ha. Anyway, miris juga, di White Day, posting-annya begini. Nvm, "Happy White Day".
0 comments :
Post a Comment