Phobia
Semua orang punya ketakutannya masing-masing. Entah itu hal yang kelihatan maupun tidak kelihatan. Aku bersama setidaknya dua kawan terdekatku menggolongkan diri kami sendiri sebagai overthinker: manusia yang terlalu banyak berpikir, yang terkadang sebenarnya memikirkan hal-hal yang tidak perlu, yang kadang kala pemikirannya itu malah berkembang menjadi kekhawatiran, dan di saat itulah, kami ini menjadi panik serta sibuk atas hal-hal yang sebenarnya kami ciptakan sendiri di kepala kami sendiri yang belum ada wujud nyatanya.
Tapi kami - atau setidaknya diriku pribadi - akan berusaha membela diri dengan, “Loh, memang jadi manusia itu harus berharap yang terbaik dan bersiap akan yang terburuk.” Meski kenyataannya kami bersikap lebih kepada percaya bahwa hal terburuklah yang akan sudah pasti terjadi.
Aku sendiri percaya dengan sungguh bahwa manusia yang sekarang adalah bentukan dari masa lalunya. Ia berpikir, bertutur, dan bersikap karena apa yang pernah ia cecap dan alami sehari-hari. Kita berada dalam titik ini karena pilihan-pilihan yang telah ditentukan sejak kita diciptakan - dan memang bukan semuanya merupakan pilihan diri kita sendiri.
Ketika aku mendengar bahwa Ashanti, seorang penyanyi Indonesia, takut kucing setengah mati karena pernah kejatuhan anak orok kucing, aku serta merta teringat akan ketakutanku pada cicak yang baru terjadi setelah aku tak sengaja menginjak ekor cicak dan mengakibatkannya melakukan autotomi atau lebih dikenal pelepasan anggota tubuhnya sebagai bentuk pertahanan diri.
Phobia yang terjadi karena pengalaman (atau lebih pantas dianggap insiden?) ini membuatku berpikir apakah jumlah pengalaman buruk akan berbanding lurus dengan ketakutan atau penyimpangan perilaku pada manusia?
Mungkin sedikit banyak ketakutan itu tersuarakan lewat sebuah English proverbs yang bunyinya:
Sebuah pengalaman terekam dalam memori atau mungkin alam bawah sadar, meninggalkan jejak di ingatan dan membekaskan rasa di hati. Yang aku tahu, tidak ada ketakutan yang bisa dianggap konyol karena tidak banyak orang mengalami pengalaman yang identik. Bahkan meskipun kejadiannya identik, tidak ada manusia yang diciptakan sama. Maka kapasitas untuk menerima dan meresponsnya pun akan berbeda.
Yang aku tahu, ketakutan akan membawa diri manusia untuk enggan menghampiri atau meletakkan dirinya dalam posisi yang memungkinkan untuk kejadian di masa lampau (yang tak ia inginkan) terulang kembali. Trauma, barang kali demikian istilahnya. Ia akan memanipulasi cara berpikir dan menciptakan hal baru untuk dipercayai dengan lebih. Ia akan membantu manusia untuk merasionalisasi tindakannya. Ia akan berupaya dengan teguh untuk menjauhi diri dan tidak mau melibatkan diri dengan hal yang ditakuti atau tak disukainya.
Dan yang juga kutahu, memaksa seseorang untuk menghampiri apa yang ia takuti hanya akan memperkeruh keadaan. Yang ada bisa-bisa ia hanya akan tambah takut dan makin membenci. Ketakutan terjadi dan teratasi ketika orang itu sudah siap dalam periode waktu yang nyaman baginya. Ia tidak perlu digeret dan dirong-rong karena itu hanya akan membuatnya mundur kembali. Bahkan lebih lagi, yang lebih penting daripada kesiapan adalah niat. Sesiap apapun seseorang jika intensi tak ada padanya, tak adalah berguna semua usaha.
Maka semuanya sesungguh-sungguhnya dan sebenar-benarnya tidak ada sangkut pautnya dengan kesudian seseorang untuk memaafkan ataupun melupakan. Fenomena ini kurasa lebih wajar dijelaskan dengan proses trauma dan ketakutan yang diciptakan pada manusia. Ketika seseorang tak sengaja menyentuh panci panas, ia akan ragu dan menimbang ulang sebelum ia menyentuhnya kembali. Jika seorang lain sengaja menyodor-nyodorkan panci tersebut kepada orang pertama tadi, secara naluriah ia akan enggan dan menghindarinya. Lain perkara jika orang kedua membuktikan panci itu tak lagi panas dengan menunjukkan suhu yang tertera pada termometer, nmisalnya.
Karena pada akhirnya, bukti nyata lebih dirasakan dampaknya dari pada sekedar kata-kata. Hanya dengan bukti konkret orang bisa lebih percaya bahwa apa yang dipercayainya sebenarnya tidak nyata atau sudah tak lagi relevan. Sebab bagaimana pun juga, kurasa perasaan akan bisa terus bersiteru dengan pemikiran. Namun yang akan bertahan dan tak akan lekang adalah kebenaran.
0 comments :
Post a Comment