Nyaman Sampai Bosan
"Dia mau pindah rumah tuh..." kata kawanku kepada yang lain, mengisahkan tentang keinginan temannya.
Disautinya enteng tapi mengambang.
Kawanku mendesak lagi, "Apa tuh maksudnya?"
"Ya udah, gue sih males pindahannya doank."
"Abis bosen gitu di tempat yang sama tiga tahun...Tapi apa-apa ada sih."
"Nah, itu. Ntar menyesal."
Aku pun bergumam, "Kadang justru alasan kita meninggalkan suatu hal adalah karena terlalu nyaman. Yang terlalu dini untuk disadari, tapi terlambat untuk membuat kita tak jadi pergi."
Kutengok diriku sendiri. Aku pun tak jauh bedanya. Setelah lulus dari NUS, aku cuma pernah tinggal di satu tempat, rumah kamar yang kutempati sekarang ini. Tapi setidaknya lingkunganku bukan sepelemparan batu dari NUS. Sedangkan kawanku itu, bisa dibilang seperempat hidupnya dihabiskan di sekitar NUS sana. Peredaran kami alhasil berporos di bagian barat Singapura. Orang mungkin bisa bilang "Tapi SG kan emang kecil. Ya paling gitu-gitu aja." Nyatanya, kami tetap haus akan tempat baru: atmosfer baru, pemandangan baru, aktivitas baru, tempat makan baru, mungkin tempat kerja baru atau tempat tinggal baru.
Menariknya, hal yang kita cari sebelum memilih untuk datang kini kita jadikan alasan untuk pergi. Kita berada di tempat sekarang karena pilihan dengan sejumlah kriteria yang telah kita tetapkan, kita mau hidup nyaman. Tapi ketika rasa nyaman itu mencapai titik puncaknya, kita memberinya label yang berbeda: bosan. Sebenarnya ia tidak berubah. Hanya semakin banyak saja yang kita tahu. Kemudian ia jadi tak menarik lagi jika dibandingkan dengan yang baru. Meski yang baru belum tentu ada kepastian, tapi kita jadi punya harapan yang dibiaskan oleh keinginan.
Dengan konsep yang serupa, hal itulah yang menyebabkan masa awal pacaran adalah masa paling berbunga-bunga. Dengan alasan serupa, itulah yang membuat orang merasa bosan dan berpaling ke orang lain. Dengan penjelasan serupa, itu jugalah yang membuat kita sedikit lebih mengerti kenapa tetap ada orang yang bertahan. Karena toh tidak semua orang menanggapi dorongan yang timbul dari hatinya.
Ada orang-orang yang hanya butuh bercerita. Ia menumpahkan isi hatinya. Keinginannya, kejenuhannya, kegundahannya, pembenaran di kepalanya. Tapi ia tidak mampu berpaling. Ia enggan harus pindahan. Bayangan akan konsekuensi pindah ke tempat baru membuat isi hatinya runtuh. Setidaknya, ia sudah cukup mengeluh. Istilahnya, kepengen yang tidak sungguh-sungguh.
Ada orang-orang yang khilaf. Ia merasakan momentum yang cukup besar untuk mendorongnya merealisasikan apa yang ia inginkan. Ia pindah ke tempat baru. Menikmatinya sejenak. Karena suatu hal kemudian ia bersinggungan lagi dengan yang lama. Memori datang kembali dan rindu pun diundang datang. Ia menyesal. Di sini, ada dua muaranya. Ia menyesal dan dengan usahanya yang barangkali sampai malang melintang setengah mati akhirnya kembali ke tempat lama atau sia-sia karena sudah terlambat, tempat lama sudah punya penghuni yang baru.
Ada orang-orang yang memang ditakdirkan untuk pindah ke tempat baru yang lebih baik untuk dirinya. Di sini, orang-orang akan bilang "Kenapa gue ga pindah lebih awal." Ya, kenyataannya kita memang tidak akan pernah mendapat yang lebih layak untuk kita kalau kita tidak melepaskan diri dari yang kurang layak.
And timing is a bitch! Waktu bisa membuat pilihan yang sama memberikan hasil yang berbeda. Dan karena sifatnya yang tidak bisa kembali, kita hanya akan tertinggal dalam pengandaian karena kita tidak akan pernah benar-benar tahu akan jadi apa seandainya kita memilih yang lainnya.
Ada orang yang tidak bisa pindah karena yang ia miliki tidak cukup. Mungkin kurang uang untuk sewa di tempat yang ia mau, mungkin tempat yang ditarget hanya menerima gender atau ras tertentu, mungkin juga karena beda prinsip. Semisal demikian, yang punya tempat tidak suka yang tinggal di rumahnya pulang larut malam sedangkan yang mau tinggal di sana punya banyak acara seusai jam kerja.
Ada orang yang tidak pindah karena ia menutup sebelah mata. Terlalu sayang untuk membuang apa yang ada di tangan sekarang dan berat untuk memulai dari awal. Dipikirnya usaha dan pengorbanan tidak sebanding untuk menutupi apa yang hendak ia cari dan belum tentu ia dapatkan.
Ada orang yang tidak pindah semata-mata karena ia belum menemukan penggantinya.
Ada orang yang tidak pindah karena ia akhirnya sadar akan pilihannya sedari semula. Ia bertahan karena setelah menjalani proses berpikirnya yang rumit dan berbelit, ia yakin bahwa bagaimana pun juga tidak akan ada tempat yang sempurna di dunia karena tidak pernah puas adalah sifat dasar manusia. Maka ia menimbang apa yang ia korbankan, lalu ia mengenang apa yang membuatnya memulai, kemudian ia merekam apa yang kini ia miliki dan apa yang telah direncanakan namun belum terlaksana.
Tidak ada orang yang lebih baik untuk menilai siapa atau di mana kah fase kita sekarang kecuali diri kita sendiri. Atau mungkin bagi beberapa orang, tidaklah penting alasannya, yang penting adalah bagaimana efek dari keputusan akhirnya. Seperti saat di satu pagi, ketika wangi milo hangat menyapaku dengan menggoda. Ia membangunkan syarafku yang malas melawan rasa kantuk. Sekejap aku dibuatnya mabuk dan hendak mengambil secangkir untuk kuseruput di meja dengan santai. Sayangnya akal sehat menjatuhkanku kembali ke bumi yang ganas ini. Tubuhku akan menolak dan memuntahkannya jika aku memilih untuk melakukannya. Sudah barang pasti? Tidak juga. But I just knew it. Yang penting aku tidak perlu muntah dan kudapati pikiranku tenang mengetahuinya. Aku tahu kapan harus berhenti, kapan harus melupakan yang kuinginkan, apa yang harus kukorbankan, dan apa yang aku pilih. Hubunganku dan milo hangat di pagi hari ini bolehlah diibaratkan sebagaimana hubungan love-hate-relationship.
Istilah Dita, "Kalau dekat ribut, kalau jauh rindu."
Masalah yang akarnya disebabkan dari rasa sayang yang datang dan menetap tanpa alasan. Berbeda dengan rasa suka yang minggat saat alasan dan atributnya menghilang. Sayang yang tidak bisa ditendang meski kita tahu sebanyak apapun perbedaan. Sayang yang tidak bisa dibuang kendati kita mengalami banyak kesakitan atau bahkan pengkhianatan. Anomali rasa sayang yang meski ia bisa membuat banyak orang melakukan hal-hal tidak masuk akal, ia ternyata tidak bisa membuat orang mempertahankan suatu hubungan karena kalah dengan nilai-nilai dan toleransi. Orang-orang berusaha melindungi diri. Orang-orang mau sejumlah kondisi yang sekiranya ideal dan ingin ia miliki. Maka kemudian mereka memberanikan diri untuk melupakan apa yang digenggam, untuk meraih yang sekiranya lebih tinggi. Untuk diri.
Seorang pernah bilang, yang harus lebih dikhawatirkan dari sebuah hubungan itu bukan soal jarak umurnya, tapi di fase mana kedua orang itu masing-masing. Semisal demikian, meski dua orang terpaut usia 8 tahun, kalau mereka sama-sama di dunia kerja, akan jadi lebih sederhana jika dibanding beda usia 4 tahun tapi yang satu kuliah dan yang satu kerja. Nilai, pandangan, dan gaya hidup orang dipengaruhi secara signifikan oleh lingkungan mereka tumbuh dan bergaul. Maka pembicaraan serta yang memenuhi kepala mereka sedikit banyak juga berkutat di sekitar situ.
"Gw pernah ada temenan ama anak SMA gitu pas gue kuliah, tiap chatting ngomongin tentang sekolah ato ortunya. Pusing gue." - teman hang out ku mendadak curcol. Aku berusaha menanggapinya sembari menyisipkan ledekan iseng, "Pasti ga cakep. Makanya lu ga bisa tolerir."
Dan begitu saja, kadar tolerir seseorang menjadi bias karena faktor-faktor yang secara kita sadari enggan kita akui. Pemilihan dan ketertarikan akan atribut tertentu bercampur dengan impresi dan penilaian pribadi menginspirasi serta mengajari kita secara naluriah soal bagaimana kita berinteraksi, bagaimana kita menanggapi. Hal itu berperan sedemikian pentingnya untuk menetapkan langkah selanjutnya, ke arah mana sebuah hubungan. Kadang ia mengeliminasi kandidat yang belum sempat menunjukkan kebolehannya. Tapi katanya, siapa cepat ia dapat. Kadang ia mempersilakan orang yang kurang tepat untuk masuk dan meninggalkan jejak sebelum ia pergi dan hati porak-poranda. Tapi katanya, semua yang terjadi pasti ada hikmahnya. Kadang ia memberi jalan bagi orang yang memang sudah disuratkan untuk berlabuh dan memberi damai di hati dan hidup ini. Tapi katanya, jodoh orang tidak ada yang tahu.
Mungkin, mungkin saja, kita juga tidak tahu kapan saat yang tepat untuk berhenti. Mungkin kita tahu tapi juga enggan bergerak maju karena sedalam-dalamnya kita bilang kita percaya keadaan akan menjadi lebih baik, jauh di dalam sana kita pesimis melihat puing reruntuhan yang terlalu banyak untuk dibenahi. Belum lagi dengan bayang-bayang gelap yang diciptakan ilusi dan tipuan suara di kepala sendiri karena tidak kuat menolak yang jahat. Untuk sekali lagi, aku mengamini kata-kata sahabatku: orang memang bisa saja berubah, tapi kan bukan salah kita juga kalau kita dipertemukan dengan mereka di saat yang tidak tepat. Di saat mereka belum menjadi orang yang kita pandang "cukup baik" atau "baik" atau "lebih baik". Untuk sekali lagi, sebuah hubungan gagal ketika dua sebelum ini kupandang matanya dalam-dalam yang bilang ia rasa ini akan jadi yang terakhir untuknya. Untuk sekali lagi, meskipun dihadang sejumlah masa lalu, aku memberikan jiwa optimismeku sebagaimana ia percaya padaku. Untuk berikutnya, akan ada yang terbaik baginya. Dan ketika saat itu datang, ia tidak akan lupa bagaimana ia memulainya. Ia tidak akan bertanya pada dirinya apakah ia melakukan kesalahan jam 3.30 pagi. Ia tidak akan perlu memberikan penjelasan supaya merasa mendapat dukungan. Ia hanya akan masih memanggil kami dan kabar gembiralah yang akan dibagi.

0 comments :
Post a Comment