2009-2016

“Yang udah 7 tahun ajah ujung-ujungnya ninggalin juga”
“Beruntung ya...” “Kenapa?” “Disayang...”


Ia pergi di hari Kamis lalu. Meninggalkanku. Menyisakan kenangan kami yang ada sejak pertama bersama di negeri Singapura, Juli 2009. Sehari setelahnya, aku masih meratapi kepergiannya. Di penghujung pekan, aku berusaha mengalihkan perhatianku berupaya melupakan kepergiannya.

Aku kehilangan karena kurasa antara sulit atau tidak mungkin menggantikannya. Mungkin penyebabnya karena aku yang terlalu banyak memilih, banyak mau ini itu. Sayangnya tak banyak yang bisa memenuhi tuntutanku. Terlepas dari mencari atau tidak, belum ada yang bisa menggantikannya. Kesetiaan dan ketangguhannya untuk bertahan di kala panas atau hujan. Melewati tanah berpasir atau bebatuan di air sungai yang mengalir. Sudah kuberikan kepercayaanku padanya. Meski pernah juga ia menyakitiku karena termakan waktu, namun pada akhirnya luka ku pun sembuh dan ia berubah untuk mengakomodir sebanyak-banyaknya yang ia bisa.

Aku adalah yang pertama dan terakhir untuknya. Ia mungkin bukan yang pertama dan terakhir bagiku, tapi setahuku, ia yang paling awet. Beberapa orang terdekat bahkan tahu itu. Tahu seberapa senang aku dengannya dan bahkan ada yang berusaha menyaingi lamanya hubungan kami. Sesungguhnya semakin lama kami bersama, semakin kecil kepercayaanku bahwa aku akan bisa beralih ke yang lain. Aku sudah melihat cukup banyak. Dan sejujurnya juga sudah pernah mencoba menjalin hubungan dengan yang lain ketika ia masih ada. Tapi apa boleh dikata. Hubunganku dengan pihak ketiga terhitung singkat dan akhirnya aku kembali juga kepadanya.

Belum sanggup kuucapkan selamat tinggal baginya. Belum bisa kubuang begitu saja. Meski aku tahu saat ini akan tiba, semuanya terjadi saat aku tak siaga. Memang bukan salahnya juga. Kata orang tak ada yang abadi di dunia. Setelah ini, aku tak punya niat untuk mengurangi kriteriaku. Apa yang kuinginkan, pernah kudapatkan, dan yakin kubutuhkan.


Kata orang, berani jatuh cinta harus berani patah hati. Pada hakikatnya, mencintai itu ibarat memberikan kemampuan kepada orang yang kita sayang untuk menyakiti kita, namun percaya bahwa mereka tidak akan melakukannya. Untukmu, terima kasih sudah menemani banyak langkahku di beberapa negara. Terima kasih karena kita sudah pernah sama-sama. Akan kuingat dirimu, sandal jepit kesayanganku.

0 comments :