25: Quarter Life Crisis?

Sebelum aku bicara lebih lanjut dan menumbuhkan ekspektasi yang salah, tidak, aku tidak akan membahas soal apa saja tanda-tanda orang mengalami quarter life crisis (meski nyatanya aku punya sedikitnya 15 tanda yang disebutkan di artikel itu), aku tidak akan memberikan nasihat atau saran bagaimana menghadapinya, atau sejenisnya. Aku hanya akan berbagi soal perasaan dan pemikiran. Soal apa yang kuhadapi. Bisa saja orang mendefinisikan hal itu dengan kata “quarter life crisis”. Tapi aku tidak akan memperdebatkannya di sini. Aku tidak begitu peduli. Tidak begitu relavan untukku bagaimana dan apa labelnya. Mungkin ini akan jadi postingan yang bukan bertipe “diary” mengingat yang dikatakan seorang temanku rangkap pembaca lama “Blog lu sekarang jadi kayak diary ya.” Ya, kudapatkan itu juga. Mungkin pikiran-pikiran yang menggangguku sekarang lebih runyam dan sedang kupikirkan harus atau layak tidaknya kutuliskan di blog. Karena apa? Salah satunya, karena tahun ini umurku menginjak seperempat abad.



EXACTLY! Hal ini menjadi sedemikian konyolnya karena hal yang seharusnya datang secara bertahap ternyata ditanggapi orang-orang sebagai suatu hal yang mendadak. Angka 25 menjadi suatu titik di mana seketika, secara begitu saja, orang-orang (diharapkan) sudah berada di status “mapan” atau “settle down”. It’s scary! While it shouldn’t be.

Dulu, aku tidak mengerti kenapa konsep menjadi dewasa terdengar sedemikian mengerikan. Sekarang, aku merasa bahwa aku tidak takut karena aku tidak mengerti. Sama seperti anak kecil yang main pisau atau di tempat tinggi tanpa rasa takut karena mereka tidak tahu bahayanya. Seperti itu. Karena semakin banyak kau tahu, kau akan secara alami menjadi lebih awas diri. Aku tidak berusaha menyampaikan bahwa dengan kau tahu, kau semakin takut. Bagaimana seseorang menanggapinya dipengaruhi oleh seberapa kuat dan beraninya dia. Tapi setidaknya, kau akan menjadi lebih awas diri atau sadar akan adanya hal yang membahayakan dan perlu dipertimbangkan.

Hal-hal besar dan mengerikan itu berkutat tapi tak hanya seputar pajak, asuransi, pilihan panggilan hidup (entah untuk selibat atau menikah), rumah, alokasi keuangan, rencana pensiun sampai hal-hal tidak menyenangkan seperti sakit hingga kematian. Bukan cuma kamu, tapi juga orang-orang terdekat. Yang sekarang sudah ada, maupun yang akan datang: anak maksudnya. Belum cukup sampai di sana, kita kemudian mengikut sertakan perasaan, kepuasan, keinginan dan harapan ke dalam hal-hal tadi yang sebelumnya bisa diukur dengan satuan mata uang. Dan langkah kita barusan, membuat perhitungannya menjadi lebih rumit dari sebelumnya.

Untuk kesekian kalinya kita menanyakan kembali pertanyaan ini: “Apa sebenarnya tujuan hidup kita di dunia ini?", “Apa sesungguhnya yang kita inginkan atau hendak kita capai di dunia ini?” dan mungkin “Apa yang bisa kita lakukan supaya kita bisa membuat dunia menjadi lebih baik?” Beberapa dari kita mati-matian ingin jadi orang yang special, berbeda, dan lebih dari “biasa”. Tapi sedikit dari kita yang benar bergerak dan atau punya kesempatan. Selebihnya hanya jadi keinginan yang tinggal angan-angan, tanpa dikejar. Parahnya dengan menggunakan alasan “semua akan datang pada waktunya”, “kalau emang jodohnya ga akan lari ke mana”, “gue cuma mau nikmatin yang sekarang ada aja.” Yang kadang orang tidak paham, ia tetap bisa menikmati dan menjalani apa yang ada sekarang dengan tetap punya perencanaan terhadap masa depannya. Kata Shakespeare, ekspektasi memang akar dari sakit hati. Tapi tidak punya target juga membuat hidup jadi stagnan dan tidak maju-maju karena tidak ada yang dilihat ke depan. Seperti kata Ko Leon, semuanya memang harus seimbang.

Sudah waktunya kita keluar (kalau belum) dari konsep yang ditanamkan oleh komunitas ideal. Karena tempat kita hidup, bukan kebun binatang yang penuh dengan aturan dan pengawasan. Tempat kita hidup adalah hutan rimba. Dan 100% idealisme tidak akan bertahan lama sampai seleksi alam mengambil tempat. Sudah saatnya kita tidak lagi menghindar atau menangkis masalah yang ada, tetapi menangkap dan mengolahnya. Sudah tiba waktunya kita menjawab pertanyaan-pertanyaan menyangkut bagaimana kita menanggapi dan menghadapi ini itu dari dalam diri kita sendiri, menurut pendapat dan pandangan kita sendiri yang sudah diproses matang-matang. Jawabannya “Wah, gue belom pernah mikirin tuh (titik)” agaknya sudah tidak bisa lagi digantung begitu saja. Ia harus diikuti dengan pemikiran dan tanggapan supaya lain kali ia datang, kita sudah siap menjawab mantap. Karena toh perubahan juga tidak datang dalam semalam. Karena waktu juga tidak menunggu.

Kita harus tahu mau dibawa ke mana hidup kita. Harus jelas kita di posisi mana. Harus berani memilih dan mengambil sikap. Kita perlu menjadi dewasa dan bertanggung jawab atas hidupmu sendiri. Bukan sekedar bertambah usia, itu sih namanya cuma tambah tua. Bukan berarti mengajakmu untuk menarik diri dan jadi penyendiri. Bukan maksudnya menuntutmu untuk menganggap kamu tidak punya siapa-siapa. Tapi mengingatkan kamu, bahwa kamu punya otoritas dan tanggung jawab atas apa yang kamu lakukan serta kamu pilih. Kamu bukan lagi anak sekolah yang tinggal serumah dengan orang tua dan setiap harinya wajib mengabari soal keberadaanmu. Dan jika orang tuamu tidak mengerti itu – bahwa anaknya sudah besar dan bahkan punya keluarga sendiri – kamu harus memberinya pengertian. Ada banyak, banyak sekali hal yang berubah seiring kita beranjak dewasa. Bobot dan posisi tanggung jawab bergeser. Dulu, kita punya 0% tanggung jawab dan otoritas untuk memilih ke TK mana kita akan sekolah. Tapi ketika menginjak SMP/SMA atau bahkan kuliah, kita tentu ingat sebagaimana kita berperan dalam menentukan pilihan-pilihan itu. Dan kamu tidak merasa salah bukan karena posisinya berpindah kepadamu? Karena hal tersebut terjadi sebagaimana seharusnya.



Looking at those facts, at this point, it gives me goosebump and excitement at the same time!

Sebagaimana aku dan dia akan bertanggung jawab terhadap satu sama lain. Bagaimana tanggung jawab dari keluarga inti kami sekarang akan bergeser kepada kami. Bagaimana minta izin dari yang tadinya ke orang tua jadi ke suami atau istri. Bagaimana kami menjadi satu. Bagaimana memberi tahu orang tua bahwa kami baik-baik saja adalah tetap baik adanya, tapi bukan lagi sebagai suatu kewajiban. Kewajiban kami adalah kepada satu sama lain, “our other half”. Our parents have done a great job for raising us, to make us become who we are now. Now it’s time for our other half to take over. It’s time for us and them to know and accept that fact.

Bagi yang memilih panggilan hidup untuk berkeluarga, kita harus menerima kenyataan bahwa kita memilih untuk menanggung salib kita dengan mempercayai sisa hidup kita, menjalaninya dengan orang yang kita pilih, mempercayainya sedemikian sehingga mau tidak mau, sadar atau tidak membuat diri kita vulnerable. Kalau kata orang, berani jatuh cinta, harus siap menanggung risiko patah hati. Berani punya komitmen, harus berani mengekspose diri kepada kemungkinan pasangan tidak setia. Istilahnya, sepandai-pandainya kita mencari dan memilih "investasi" saja, selalu ada risikonya. Yang harus kita ingat, kita memilih bukan sekedar karena kita memilih yang lebih sederhana. We just don’t choose our vocation because “it’s the easy way out”. Kita memilihnya karena kita menginginkannya, karena kita menjawab panggilan kita.

Aku mungkin tidak bisa bicara banyak bagi yang memilih panggilan hidup untuk selibat. Yang kulihat dari teman kantorku yang tidak menikah, ia memilih untuk menjadikan keluarga intinya sebagai tanggungan hidupnya. Ia memilih untuk membahagiakan dan bertanggung jawab atas mereka. Dan aku percaya, ia memilih itu, bukan sekedar karena itu merupakan pilihan yang lebih sederhana atau lebih mudah dijalani melainkan karena suatu hal yang ingin ia capai lewat pilihannya itu.

Yang ku tahu, setiap tindakan punya konsekuensi. Setiap jalan, punya suka duka. There is always give and take. That how it works. Ingatlah, bahwa kita tidak bisa selalu menang dan kita tidak akan selalu kalah.

0 comments :