Job

Untuk sekali lagi, aku akan punya manager baru dalam waktu kurang dari setahun aku bergabung dalam sebuah tim. For some of you...yes, it’s that fast. Sebelum aku bergabung di perusahaan tempat kubekerja sekarang ini, aku sudah mendengar bahwa turnover rate di sini cukup tinggi, kebanyakan karena nature dari tuntutan pekerjaannya – yang kemudian alasan “sulit untuk naik ke management” menjadi alasan berikutnya yang kutangkap setelah masuk.

Dalam beberapa bulan awal, aku dipaksa membiasakan diri dengan berita teman kerjaku pergi meninggalkan kami ke tempat yang kami yakini lebih baik. Jika tidak, kenapa juga ia harus meninggalkan tempat yang memberinya makan? Tentunya definisi lebih baik tidak serta merta diikuti dengan tanda mata uang. Tidak begitu saja. Tidak semuanya. Tidak selalu.

Hanya butuh 1.5 tahun untukku punya 3 nama orang yang jadi managerku. Dan sebenarnya hal itu secara langsung mengindikasikan bahwa tidak hanya orang-orang di atas yang pindah, tapi juga yang di bawah. Tapi juga aku. Perpindahan terjadi tidak hanya ke luar tapi juga di dalam. Namun secara gamblang bisa kita lihat bahwa perpindahan ke luar akan terjadi di bawah sedangkan yang di atas seharusnya di dalam saja atau paling jauh pindah cabang.

Aku sendiri sebagai orang yang lebih banyak tahu apa yang tidak diinginkannya ketimbang apa yang ia inginkan, dulu mengidamkan lingkungan tempat kerja yang seperti Kompas. Hangat dan bersahabat. Teman-teman kantor yang baik agaknya bisa memberikan aura positif untuk mengimbangi fakta kalau-kalau kau tidak bekerja di bidang yang sebenarnya kau senangi. Di hari kedua wawancara masuk, aku diingatkan berkali-kali oleh section manager untuk jangan cepat-cepat pergi dari perusahan ini. Setidaknya bertahanlah selama 2-3 tahun. Selain kita tidak akan kontribusi banyak, kita juga tidak akan belajar banyak, kita belum tahu suka-duka sepenuhnya. Jawabku waktu itu positif. Ya, kurasa aku akan menyelesaikan kewajiban kontrak kerjaku di perusahaan Singapura sebagai bayar Tuition Grant di Micron: 3 tahun lamanya.

Dengan posisiku sekarang ini, aku melihat “janjiku” itu sangat mungkin terpenuhi. Memang ada hal-hal di dunia ini yang sangat menyenangkan jika terjadi secara spontan, mengalir begitu saja, impromptu. Tapi banyak juga hal yang selain perlu persiapan matang, kadang butuh waktu yang panjang untuk menunggu realisasinya. Salah satunya mungkin ini: mencari kerja. Di Singapura, tidak jarang aku mendengar teman atau seniorku yang sebenarnya sudah punya pekerjaan, sibuk cari kerja di tempat lain. Ada saja keluhannya, ada saja yang mengganjal. Ya, memang sudah pada dasarnya manusia tidak pernah puas. Namun aku tergelitik dengan artikel pendek berjudul “The Brain on 23” yang berusaha menguak apa yang ada di dalam otak orang-orang berusia 23 tahun. Kutemukan beberapa di antaranya yang mungkin bisa jadi alasan kenapa orang ingin mencari tempat kerja baru:

“We work hard in jobs we aren’t sure we want to make those fancy degrees feel worth it, ...”
(Bagiku, aku memang sudah tahu bahwa aku tidak ingin kerja di tempat di mana lulusan dengan gelar Sarjana Statistika seharusnya berasa. Maka aku tak banyak pusing soal relevansi antara gelar dan di bidang apa perusahaanku bergerak. Tapi kalau harus memilih, aku masih ingin bekerja di bidang komunikasi dan media atau FMCG.)

“...all the while wondering if we are supposed to be somewhere else.”
(it’s pretty much linked to the previous one...but ‘somewhere else’ there is definitely not Indonesia. Not until now. Some more my parents don’t really want me to go back Indo after so many struggles they had to send me to this Lion city)

“We want to be more productive and live a more worthwhile existence, but we haven’t quite figured out how.”
(Ya! Terlebih setelah aku pindah departemen dan melihat bahwa target yang menentukan berapa banyak bonus yang akan diberikan perusahaan tidak benar-benar terkait langsung dengan apa yang kukerjakan sekarang. Meski kenyataannya aku memang lebih “energized when dealing with people” seperti apa yang dikatakan direkturku dulu, tapi perasaan “berkontribusi lebih” itu menjadi kurang lekat.)

“We are proud of each other but hard on ourselves”
(Maybe, just maybe, this is also affected by the success stories our friends have. How brave they are to go out from their comfort zone and willing to take up the challenge. How good they are to have a so called ‘better company’giving them a ‘better offer and opportunity’. Yet, we feel that we didn’t do much, we never achieve anything exemplary. We are plain, normal, and too ordinary.)

Ada jauh lebih banyak dan beragam alasan untuk seorang pindah kerja. Menariknya, lewat pembicaraan singkatku dengan ibuku, aku mengutarakan tiga hal yang dengan cepat terlintas di kepalaku: salary, environment, job satisfaction. Mungkin terkesan “Alah, ini anak muda zaman sekarang bertingkah. Dapet kerja gajinya bagus aja masih mau cari yang lain. Ngomongin job satisfaction segala. Udah kerja enak, digaji, ga puas meh?” Tapi sungguh, aku merasa bahwa pekerjaan yang kau kerjakan seharusnya membawa kepuasan tersendiri bagimu. Lebih jelasnya, kau seharusnya merasa bahwa kau berkontribusi terhadap perusahaan. Bahwa seandainya kerjamu berantakan, performa perusahaan akan menurun juga. Mungkin hal ini terkait dengan keinginan diri sendiri untuk merasa dibutuhkan dan berpengaruh pada sekitar. Bagaimana besar kecilnya bonus perusahaan didefinisikan dengan seberapa jauh kau bisa mencapai KPI-mu turut memberikan bayangan atau perasaan samar-samar seberapa penting yang kau kerjakan di perusahaan. Apakah kau sebagai pemeran utama atau sekedar figuran.

Hanya saja perkara meninggalkan tempat kerja tidak selalu semudah itu. Kadang orang sudah punya komitmen. Ia punya pengeluaran tetap yang jika ia pindah kerja, tidak bisa ia penuhi. Kadang orang sudah keburu nyaman. Jika ia pindah, yang ia harus hadapi adalah perubahan. Yang ia perlu lalui adalah adaptasi. Dan rasa enggan untuk menyambut hal tersebut akan meningkat seiring dengan waktu, dengan bertambahnya umur: umur sendiri dan umur bekerja. “Ah, gue udah kerja di sini *sekian* tahun, apa susahnya lanjut?” Karena pindah kerja berarti kau memulai suatu hal yang baru dan lebih banyak unsur ketidakpastian. Dan kadang kala kita pesimis. Kita merasa bahwa kualifikasi yang kita punya mungkin tidak cukup baik untuk mendapat hal yang baru. Dan kita merasa sayang, sayang untuk melepas yang kita genggam sekarang, karena apa yang sudah kita investasikan.

Di tengah-tengah menulis paragraf tadi, aku teringat komentar seorang temanku usai menonton film Indonesia berjudul Jomblo. Ia melemparkan pertanyaan karena tak habis pikir, “Ini gw ga tahu lebih sebel sama Agus atau cewenya di Jomblo. Satunya selingkuh, satunya mau jadi selingkuhan...kenapa dia ga putusin aja yang lama terus pacaran sama yang baru?” Mungkin alasan orang-orang susah meninggalkan pekerjaanya meski merasa tidak nyaman cukup senada untuk bisa menjawab pertanyaan temanku itu. Komitmen, keburu nyaman, umur hubungan, rasa pesimis.

Pada akhirnya yang membedakan seorang dengan yang lainnya dalam hal tersebut adalah apakah orang itu mau mengejar apa yang ia inginkan. Seberapa berani seseorang bukan hanya untuk berhenti membohongi orang lain, tapi juga untuk jujur pada dirinya sendiri.



And you know what? Stop Dating Someone You Don’t Have A Future With Just Because It’s Convenient.
“Brengsek itu bukan mutusin orang yang masih mau pacaran sama elu. Brengsek itu ngelanjutin hubungan yang menurut lu udah ga ada masa depan.”

0 comments :