Ada Apa Dengan Cita2?
“Bermimpilah karena Tuhan akan memeluk mimpi-mimpimu” – Arai (dari novel Sang Pemimpi karangan Andrea Hirata), sebuah kutipan yang tak pernah usang
Di awal bulan ini ibuku mengirimkan pesan lewat whatsapp memintaku membantu adik bungsu menentukan cita-citanya. Kudapati pertanyaan itu cukup janggal, maka kutanyakan apa alasannya dan untuk apa. Ternyata hal itu itu tak lain tak bukan disiapkan sebagai antisipasi pertanyaan wawancara masuk SMA CC. Ya, kedua adik laki-lakiku mencoba masuk sekolah Katolik bonafide di Jakarta itu meski gagal untuk masuk SMP nya. Adik pertamaku berhasil masuk namun tidak bisa lulus dari SMA CC. Terpaksa pindah sekolah karena dua kali tidak bisa naik kelas. Agaknya track record itu mempersulit adik bungsuku ini untuk masuk SMA CC. Aku tidak tahu. Kita lihat dan doakan yang terbaik saja, tanggal 24 nanti pengumumannya. Tujuh hari lagi.
Pendaftaran masuk sekolah di Jakarta menjadi fenomena tersendiri. Sebagai seorang yang dibesarkan dengan pendidikan dan lingkungan Katolik, aku tidak tahu harus memilih sekolah mana seandainya tidak diterima di CC atau Sanur (atau sekolah SERVIAM lainnya). Tidak bisa memberikan kesan cukup “sreg” dan dengan senang hati mendaftar. Adik perempuanku menjadi satu-satunya di antar kami (setidaknya sampai saat ini) yang pernah mengenyam pendidikan di sekolah non-Katolik. Mendengar ceritanya ditambah lagi melihat sendiri bagaimana perangai anak-anak tersebut menempatkan dirinya atas apa yang mereka lakukan, aku pun ngeri sendiri dibuatnya. Selain menentukan pilihan, faktor yang membuat pendaftaran sekolah semakin berbelit adalah perihal jadwal pendaftaran, gelombang, dan tentunya biaya uang pangkal. Dengan diberatkan oleh alasan yang terakhir disebutkan barusanlah, ayahku enggan membayar uang pangkal adik perempuanku untuk masuk Atma Jaya. Karena hanya akan dikembalikan 70% seandainya ia diterima di perguruan tinggi negeri, dan itu hanya lewat jalur SNMPTN – jalur terakhir yang tes nya untuk semua perguruan tinggi di seluruh Indonesia. Meski tadinya ia sudah memberi lampu hijau buat adikku mendaftar Atma Jaya tanpa tes. Meski tadinya ia sudah diterangkan juga oleh adikku. Tapi sekali ia dengar apa kata temannya, ia jadi ragu sebegitunya.
Lain lagi dengan ibuku. Dalam hatinya ia menyimpan ketakutan tersendiri. Ketidaknyamanannya. Anak perempuannya yang satu sudah di negeri orang. Sekarang satunya lagi mau tinggal di luar kota, ng-kost sendiri, dan memilih untuk kuliah di universitas dengan dominasi orang lokal. Ia khawatir, tapi tak berani bicara. Ia tidak mau, tapi ragu mengutarakannya. Ia bilang jika ia mengutarakan opini yang tidak beradaa di sisi yang sama dengan apa yang anaknya inginkan, anaknya dengan lihai bisa membalikkan argumennya. Pada akhirnya ia kalah juga, katanya. Bagiku, jika seorang punya opini yang cukup kuat terhadap suatu hal, ia harus berani untuk mempertahankannya dengan alasan dan penjelasan yang ia miliki. Jika tidak, bukankah pilihan tersebut didasarkan oleh “feeling” semata? Dengan alasan sejenis – takut dilawan balik – ibuku tidak mencegahku untuk mengambil ekstrakulikuler debat semasa aku SMP. Mempupuskan perlahan bibit keinginanku untuk jadi pengacara. Tapi ia tidak mau blak-blakan dan bicara dengan gamblang. Ia bilang ia tak mau dibilang melarang. Tapi persoalannya, kami sebagai anak-anak tidak cukup peka dan jadi punya impresi bahwa sebenarnya ia tidak punya opini yang kuat bertentangan dengan kami. Ia lebih memilih untuk melepas jawaban yang tidak kusuka: “terserah” supaya nantinya ia tak disalahkan di kemudian hari katanya. Supaya kami menanggung konsekuensi atas pilihan sendiri. Yang kalau dipikir lebih lanjut, tidak menutup kemungkinan juga kami menyalahkan kenapa ia tak pernah bilang apa-apa...kalau memang maunya begitu. Tapi bukan itu persoalan utamanya dan aku tak akan meributkannya juga. Bukankah setiap orang punya preference-nya masing-masing dalam mengutarakan apa yang di kepalanya?
Kembali ke soal cita-cita. Menurut testimoni adik pertamaku, ia lebih senang kuliah ketimbang sekolah karena ia bisa belajar apa yang ia suka. Kebalikan dari apa yang kurasakan sewaktu kuliah, aku tak suka dengan majorku. Soal jadi apa jelasnya ia nanti, apa profesi yang mau ia tekuni, secara lebih detail aku tak tahu menahu. Dan kurasa begitu juga dirinya. Setidaknya ia terlihat menyelami ilmu computer dengan cukup niat (jika “baik” bukan kata yang tepat). Secercah harapan dan kejelasan. Adik perempuanku, sudah bulat tekadnya (sebulat bentuk wajahnya) untuk jadi akuntan. Kuliah akuntansi di UI (atau di Atma). Tidak ada lagi cita-cita jadi pembantu Super Junior di Korea. Atau kuliah di luar negeri (baca: Korea). Entah berapa banyak lomba akuntansi yang ia ikuti dalam kurun waktu dua tahun ke belakang. Adikku yang bungsu? Terakhir yang kutahu, ia mau jadi pastor. Itu jawaban yang diberikannya kepada pewawancara tes seleksi masuk SMP CC. Dengan alasan tidak tahu, ia (atau ibuku) meminta anggota keluarga yang lain untuk menyumbang saran dan masukan.
Dijawab adikku kontan: “Mana tahu, kan cita-cita dia.”
Mengenai cita-citanya ingin jadi pastor, sudah bisa dibayangkan bahwa ia mendapat benturan dari sana-sini. Tidak tahu jelas dengan orang tuaku, tapi adik nenekku (dari sisi ayah) – yang membiayai kuliahku dulu – tidak suka mendengarnya. Adik bungsuku disuruhnya mencari uang (yang banyak). Aku sendiri meski banyak mendengar (dan membaca) Matthew 9:37-38 “Then he said to his disciples, “The harvest is plentiful but the workers are few. Ask the Lord of the harvest, therefore, to send out workers into his harvest field.”, tetap tidak bisa ikhlas melepas adik bungsuku seandainya benar ia ingin jadi pastor. Mungkin lebih ringan jika posisinya adalah adik pertamaku. Usut punya usut, sebagai kakak yang tak menyangka adiknya sama sekali tidak punya cita-cita...aku berhasil mendapati bahwa sesungguhnya ia ingin jadi dokter. Hanya saja ia merasa sulit tercapai. Kemudian diam-diam dikuburkanlah cita-citanya itu. Bahkan menyuarakannya saja ia tak mau. Ayahku bilang jangan jawab dokter, kuliah dokter mahal.
Aku teringat kata-kata pamanku yang disampaikan melalui cerita ibuku. Ia bilang ke ibu bahwa aku tak mau lanjut kuliah tahun ke-empat karena pengaruh omongan ayah yang tak ada hentinya bilang sulit biaya. Atas klarifikasi yang berusaha dilakukan ibuku, aku tak bisa menyangkalnya. Yang membuatku tak senang, dampak negative darinya harus menular ke adikku juga. Tidak cukup hanya aku saja. Dan aku tidak suka. Ayahku turut membuatku enggan untuk belajar lebih lanjut. Ibuku membuatku melupakan mimpiku untuk membela yang benar. Hal terakhir yang kuinginkan adalah adikku mengalami hal serupa. Meski dengan bicara secara mati-matian berarti aku akan terlihat seperti orang yang menelan ludah sendiri karena tindakanku tak bersesuaian dengan apa yang aku ingin mereka lakukan. Karena aku melepas mimpi yang terlihat tidak menjanjikan di mata mereka untuk hal yang lebih praktikal. Namun kuharap mereka tahu, bahwa itu semua dengan harapan mereka punya pilihan untuk mengejar mimpi mereka tanpa harus dibayang-bayangi menyusahkan orang tuanya. Tanpa harus memusingkan merepotkan siapa demi apa yang mereka inginkan, apa yang menjadi Lentera Jiwa mereka.
Dulu, aku sendiri...
Seperti anak kebanyakan, aku pernah bermimpi jadi dokter dan insinyur. Pekerjaan yang sebenarnya asal dipilih karena terdengar keren, bukan karena benar-benar disukai. Kerjanya apa juga tidak tahu. Jawaban “dokter” untuk pertanyaan “Cita-citanya apa kalau udah gede?” itu hilang karena aku tahu aku tidak bisa tahan liat luka, darah, dan melakukan bedah membedah. Tidak. Titik. Sedangkan insinyur tak lagi jadi pilihan karena “It’s just not me”. Aku menemukan ketertarikan di bidang hukum dan membela kaum lemah sewaktu SMP. Lantas harus gugur karena ibuku tidak sreg. Ia merasa diskriminasi etnis di Indonesia terhadap orang-orang yang berprofesi di bidang itu masih terlalu kental. Anaknya yang sempat tak pusing mati muda sebagai aktivis harus memikirkan hati orang tuanya yang berusaha melindungi anaknya, yang menginginkan tak kurang dari yang terbaik bagi buah hatinya.
Keikutsertaan dan kemenanganku dalam beberapa lomba menulis seakan memberi isyarat bahwa bidang media dan komunikasi cukup menjanjikan dan member harapan bagiku. Untuk pengembangan diriku sendiri dan untuk tempat tampungan suara-suara berseliweran di kepala. Hanya saja, lagi, kata ibuku jadi wartawan itu tidak sanggup membuatku bertahan. “Mau jadi apa belajar komunikasi? Kalau suka nulis kan bisa jadi hobi, ga harus jadi kerjaan tetap.” Ia yang di liburan terakhirku ke Indonesia menanyakan “Kamu ga nulis lagi sekarang?” setelah menonton acara televise yang menampilkan seorang anak belia sudah mendapat royalty dari buku yang ditulisnya. Yeah, right...
Melalui bacaan kemarin aku kembali diingatkan perihal talenta yang dititipkan. Secara rutin aku berdoa supaya aku bisa menggunakan apa yang kupunya demi kemuliaan Tuhan yang lebih besar dan supaya bisa membanggakan orang tuaku. Supaya aku tahu apa dan bagaimana caranya ia bisa berguna. Aku belum menemukan bagaimana cara maksimal untuk itu semua. Aku sudah mulai kembali menjadi lektor di misa Indonesia, kuharap itu satu di antaranya. Tapi aku yakin, itu belum semuanya. Belum maksimal. Dulu aku ingin menciptakan sebuah rumus (Matematika) dan menggunakan namaku untuk menamai rumus yang kutemukan itu, dengan bangga punya nama tercetak di buku. Teman SMA ku bilang aku tak punya perasaan, anak-anak mereka nanti akan punya tambahan satu rumus untuk dipelajari, sedangkan mereka saja sudah kesulitan belajar Matematika di masanya. Yang kalau dipikir lagi sekarang, aku agaknya hanya ingin sebuah buku bertuliskan namaku. Dan kurasa lebih indah lagi jika namaku tidak dihujat oleh orang-orang yang dengan terpaksa mempelajari rumus yang mungkin setelah mereka lulus akan mereka lupakan karena tak dipakai dalam kehidupan sehari-hari. Kurasa akan lebih indah jika nama itu dikenal sebagai orang yang membuka pandangan mereka, menginspirasi namun tidak menggurui.
Kepada siapa saja yang pernah mengingatkanku untuk tidak berhenti menulis, terima kasih secara tulus kusampaikan kepada kalian. Dengan kata-kata yang mungkin kalian anggap sederhana, kalian membuat tulisanku merasa lebih berarti, membuatku merasa diapresiasi, dan memanggilku untuk terus kembali.
This quote actually reminds me of what my ex-manager wrote on my farewell card: “Love what you do! Do what you love! And you’ll excel" – OKY


0 comments :
Post a Comment