A Sudden Start

Setelah pertanyaan “Apa kabar?” dan “How’s life?” aku merasa perlu menuliskan pertanyaan selanjutnya yang mengganggu dan mendorongku untuk memberi ceramah 5-10 menit soal apa yang sebenarnya aku pikirkan setiap mendengar pertanyaan “Kenapa mendadak gitu?” dan “Why so sudden?”

Kids...Oops, yeah, ini bukan acara serial TV “How I Met Your Mother” yang awesome itu. (Meski untuk postingan ini aku akan mengambil beberapa quote ajaib, khususnya dari tokoh favoritku di sana) Jadi, mari kita ganti dengan:
Guys...I personally think there shouldn’t be such thing as “so sudden”. Yes, in every social statement there will always be some exceptional cases or what but in general, “so sudden” doesn’t exist. What truly happen is the person who asks is not involved in the process and/or has no idea what happened before the change/decision/event take place. Hence, (s)he perceived it as a-so-sudden-thing-which-actually-not-at-all.

Salah satu ciri manusia sebagai makhluk hidup adalah mereka merespon terhadap rangsang. Kemampuan mahkluk hidup menerima dan menanggapi suatu rangsangan ini disebut juga iritabilita. Maka proses yang terjadi sangat sederhana: rangsang akan memicu adanya respon. Intinya, (hampir) semua yang dilakukan manusia terjadi karena ada suatu hal di balik itu.

”There are a lot of little reasons why the big things in our lives happen.” - Ted, Season 4, Episode 22.
And there is always – at least – a reason why we do certain thing, or rather that should be the correct way, I would say.


Kita tidak bisa begitu saja semena-mena melakukan pembenaran atas apa yang kita lakukan dengan mengatakan “I just feel like doing it.” Kita manusia, bukan binatang yang bertindak berdasarkan insting saja. Kita punya kontrol diri dan akal budi. Dan percaya atau tidak, sedikit banyak kenapa orang bilang tidak punya alasan tertentu itu sebenarnya hanya karena ia tidak cukup mencari atau ia tidak mau mengakui.

There is always a reason; there is always a motivation, somewhere...inside here...or maybe out there.

Setiap hal punya batasan, termasuk bagaimana manusia yang dikatakan sebagai makhluk sosial, membagikan apa yang ada dalam dirinya kepada orang luar. Sebelumnya, tentu saja, ia sudah menerapkan batas-batas tertentu untuk mendapati masing-masing orang masuk ke dalam kategori tertentu. Dan aku atau kamu tidak bisa mengharapkan untuk tahu segalanya, tidak kepada orang yang kita anggap terdekat sekalipun karena kita harusnya bisa menghargai bahwa setiap manusia dalam hidup ini punya rahasia.

Aku percaya, pertanyaan “Kenapa tiba-tiba?” seharusnya diganti dengan lebih cermat dan hati-hati dengan pertanyaan “Apa yang membuat (isi perubahan di sini)?” Kita harus dengan rendah hati mengakui bahwa kita tidak tahu apa yang terjadi (mungkin karena kita memang tidak seharusnya tahu atau mungkin kita yang tidak menaruh perhatian cukup) dan menghargai keputusan si pengambil keputusan. Yang menarik adalah pertanyaan “Why so sudden?” ini biasa ditujukan kepada hal-hal besar atau setidaknya cukup signifikan yang barangkali sampai membuat si pendengar merasa tidak siap untuk menghadapinya atau kaget mengetahuinya. Sederhana, karena mereka tidak menyangka. Menarik, ironis, karena secara logis, kita sama-sama tahu bahwa hal-hal besar dan signifikan tidak mungkin terjadi begitu saja seperti air hujan turun dari langit (please lah, bahkan hujan pun terjadi karena suatu alasan dan bisa kita prediksi. Yang tidak tahu kalau akan hujan salah satunya adalah orang-orang yang sibuk di kantor tertutup tanpa jendela – kuharap sekarang kau paham kenapa aku mengambil analogi ini). Maka, sekali lagi, bukankah pertanyaan tersebut janggal untuk ditanyakan?

”Nothing is straight forward but got to starts somewhere :)” – Low, K (2014).
Indeed. I still remember when I was a supervisor and I made some changes on the job role arrangement during break time. My (affected) subordinate, that time, asked me “Why so sudden?” Really, there is nothing so sudden. It got to starts somewhere. Even if I made the change 1 month ago, 3 months ago, 6 months ago or so, you will still ask the same question. So, what’s that about? It’s just a knee jerk reaction from people who can’t accept – or at least are resistant to – change.


Kita hidup dalam dunia yang terbatas oleh ruang dan waktu. Setiap hal yang terjadi sudah barang tentu akan terikat oleh lingkup ruang dan waktu yang ada sebagai indikatornya. “You don't have to be great to start, but you have to start to be great.” – Zig Ziglar.


Yup, dan sesungguhnya hal itu tidak hanya berlaku untuk sesuatu yang besar dan luar biasa, tapi untuk segala-galanya, setiap detilnya, sesederhana apapun itu...setiap hal harus punya sebuah awal dan setiap awal dari segalanya akan mengambil waktu. Pastinya tiap-tiap orang punya perhitungannya sendiri soal kapan waktu yang terbaik untuk tiap hal yang akan dikerjakannya. Berbeda bagi satu orang dengan orang yang lainnya, berbeda juga bagi manusia dan bagi Tuhan. Yang kita tahu adalah kepercayaan sedari dulu bahwa manusia boleh berencana namun Tuhan yang menentukan. Dan bahwa Tuhan selalu bekerja pada waktu-nya, bahwa rancangannya sempurna dan semua akan indah pada waktu-Nya. Terdengar klise mungkin. Tapi iman dan kepercayaan adalah anugerah yang tidak semua orang punya. Yang butuh usaha untuk dipertahankan. Lagipula bukankah semua orang pasti akan mengusahakan hal yang menurutnya penting dan berarti?

“For my thoughts are not your thoughts, neither are your ways my ways, declares the LORD. As the heavens are higher than the earth, so are my ways higher than your ways and my thoughts than your thoughts.” – Isaiah 55:8-9.

“There is a time for everything, and a season for every activity under the heavens” - Ecclesiastes 3:1.


Maka, janganlah pernah kau abaikan apa yang ada dalam pikiranmu. Karena mungkin saja, buah pikiran tersebut adalah bibit dari suatu hal yang besar yang akan mempengaruhi hidupmu. Karena mungkin saja, suara darinya sebenarnya berakar dari hati dan teriakan terpendam dari nurani yang cuma bisa keluar dengan berbisik di dekat telinga. Karena mungkin saja, apa yang muncul sebenarnya sudah selalu ada di sana namun baru sekali ini kau ladeni. There’s never a sudden thing after all. Kerjakanlah apa yang makhluk hidup lakukan: iritabilita! Mulailah. Takut akan kegagalan dan tidak berani mengambil resiko adalah dua hal yang menemani proses tersebut. Tapi, sungguh, sekali lagi, kau harus mulai di suatu titik tertentu.

“If you’re not scared, then you’re not taking a chance. If you’re not taking a chance, then what the hell are you doing anyway?” - Ted.

Memang tidak semua hal dalam dunia ini harus dikerjakan segera. Empat kategori penting-mendesak menjadi contoh umum yang bisa diangkat di sini. Kita tidak akan pernah tahu pasti apa yang kita lewatkan jika kita menunda suatu hal, karena waktu tidak akan berputar, dan menentukan pilihan ibarat memilih jalan di persimpangan dan menjalani rute yang kita pilih tanpa bisa kembali. Kita tidak akan tahu apa yang ada di rute yang kita tidak pilih, apa yang kita lewati. Tapi hal itu bukan berarti kita tidak bisa menikmati prosesnya dan memberikan yang terbaik dalam perjalanannya. Berlarut-larut membayangkan apa yang tidak kita miliki tak lebih dari sebuah tindakan membuang waktu dengan sia-sia belaka.



“That’s life, you know, we never end up where you thought you wanted to be.” - Marshall, Season 2, Episode 17.

Hidup adalah soal pilihan. Apa yang kita tahu akan membantu bagaimana kita memilih, tapi bukan melulu menjadi pengambil keputusan akhir. Karena manusia tidak cuma punya logika, tapi juga punya intuisi. Kombinasi dari pilihan yang kita ambil adalah alasan dari keberadaan kita di titik ini. Pilihan juga yang turut ambil andil untuk menentukan apa yang ada bersama kita sekarang ini. Dan mungkin suatu waktu, kita akan beristirahat sejenak, mengumpulkan ingatan kita akan yang apa yang di belakang, dan melihat itu dari jarak jauh lewat sudut pandang orang ketiga. Mendapati bahwa kita sudah berubah: pikiran, perasaan dan bahkan diri kita sendiri. Tidak ada pembanding, karena kita tidak tahu jelas apa yang akan terjadi melalui jalan alternatif yang lain. Yang kita bisa lakukan di saat itu adalah menyimpan masa lalu sebagai pelajaran dan meyakinkan kepada diri sendiri suatu hal yang pasti: bahwa kita akan menentukan masa depan kita, bahwa kita akan memilih sebaik-baiknya, dan tidak ada istilah “tiba-tiba” untuk melakukan itu semua.

Lantas tanyakanlah pada dirimu apa yang kau inginkan
Selanjutnya pergilah berlari mengejar apa yang ingin kau dapatkan
Dan kerjakanlah dengan segenap hati apa yang telah kau tentukan
Bukan tidak mungkin kau berubah dalam prosesnya
Bukan tidak mungkin kau takut dalam menghadapinya
Bukan tidak mungkin kau menyesal dalam perjalanannya
Tapi untuk semua perubahan akan selalu ada alasan
Tapi untuk semua hal akan selalu ada awal
Tapi untuk semua itu akan selalu ada waktu


PS: Not everyone needs to know what’s going on in your life. Not everyone deserves the answer of the-not-so-correct “Why so sudden?” question. Not even one person has the rights to judge you. You know, people will always, always, and always have comments on anything you do, every single thing. So, be honest to yourself, follow your heart and live your life to the fullest! You need to have a start! ;)

0 comments :