It's A Mistake

Nope, I'm not gonna talk about people make mistake and all like I mentioned in the previous post. Or maybe a bit but let me talk about things that are more specific...like what? Yes, I'm still talking about the mistake. And yeah, those are three possible situations. Hang in there! Bear with me for a while, please!

Mungkin bukan informasi yang baru kalau aku menghabiskan 14 tahun pertama jenjang pendidikanku di institusi pendidikan di bawah naungan yayasan Katolik. Dan ya, kalau ada universitas Katolik di SG, aku pastinya akan mendaftarkan diriku juga ke sana.

"Sekolah Katolik itu pendidikan moralnya bagus." - Michael Prasetya

Sudah sering kali aku mendengar pernyataan bahwa yang membedakan sekolah Katolik (bonafide) dengan sekolah lain adalah di sekolah Katolik, anak-anak didik tidak hanya diberikan asupan pendidikan akademis berkualitas tapi juga pendidikan moral. Dan aku setuju tanpa seujung kuku pun meragukannya. Selain itu, sekolah Katolik juga dikenal unggul dalam segi kedisiplinannya. Pasalnya, kalau kau melihat pemandangan seorang remaja putri yang rok sekolahnya panjang sampai di bawah lutut, kaos kaki panjang sampai ke lutut, kemeja atasan yang relatif longgar tidak menunjukkan lekuk tubuh, plus bawa tas besar dan biasanya tidak cuma satu, itu hampir pasti anak Sanur (St. Ursula). Tata tertib kami tidak sebatas yang disebutkan tadi saja, masih ada soal panjang kuku maksimal 2 milimeter, tidak diperbolehkan memakai perhiasan, dan lainnya. Semua peraturan dibuat tentunya - bukan untuk dilanggar melainkan - dengan sebuah alasan di baliknya. Untuk hal ini, aku percaya dan diyakinkan bahwa tujuan utama seseorang ke sekolah adalah untuk belajar. Dan setiap point yang tertulis di beberapa halaman tata tertibku itu semata-mata berfungsi sebagai pengingat akan motivasi awal tadi dan memfasilitasi/membantu supaya kegiatan belajar mengajar dapat berjalan dengan baik. Namun dengan mengatakan demikian, tidak semata-mata berarti aku mengatakan bahwa alumni dari sekolah Katolik ternama itu akan membawa kepatuhannya selama di sekolah. Tidak berarti mereka akan kentara dengan anak-anak sekolah heterogen lewat cara berpakaian dan bersoleknya. Yang aku tahu pasti, mereka akan punya karakter yang menonjol (ditambah relatif dominan dan independen), remaja putri unggulan kalau boleh kusebutkan kata menjualnya.

Lantas kenapa efek tata tertib yang mengekang tadi tidak bisa bertahan setelah mereka lulus? Analogi sederhananya, ibarat seseorang yang sudah terkekang sedemikian lamanya, di hari kebebasannya ia pasti akan melampiaskan perasaan yang selama ini terkurung, bukan? “For the first time in forever...” kind of thing.

So, yup, that’s pretty much what happened to me.
Aku masih nempel dengan jepit rambut sederhana untuk memastikan poniku tidak menutup mata dan membuatku harus menyibak rambut beberapa menit sekali karena hal tersebut sedikit banyak menganggu proses komunikasi tatap muka. Aku jadi tidak betah dengan kuku panjang karena sesungguhnya kuku cantik membatasi untuk banyak bekerja: takut kuku patah, takut hiasan cantiknya hilang, dan lainnya. Aku masih dan (kuharap) akan selalu tahu pakaian tipe apa yang boleh dan tidak boleh kugunakan ke acara tertentu, terutama ke Gereja.

Tapi di luar hal itu, aku adalah orang yang isi kepalanya pernah disinggahi oleh hal-hal yang banyak orang (tua) identikkan dengan “anak bandel”: minum alkohol, pergi clubbing, shisha, tindik, ngokar (=ngerokok – red), cat rambut sampai punya tattoo. Beberapa di antaranya pernah kulakukan tentu saja. Dua di kepala yang masih ada (sekarang): cat rambut dan punya tattoo. Orang tuaku jelas tidak suka. *Jangankan orang tua, adik-adikku pun tidak suka kalau tahu aku minum*Ibuku menyatakan kekhawatirannya soal rambut yang dicat, mulai dari nanti tidak sehat, susah dirawat, harus terus menerus dicat secara rutin, dan pada akhirnya nanti menyesal. Ayahku jangan ditanya, ia tipe orang konservatif yang tidak suka anak perempuannya pakai sepatu hak tinggi dan masih percaya bahwa semua orang (tanpa harus mempedulikan gendernya) pantas-pantas saja pakai sepatu kets meski menghadiri pesta pernikahan sekalipun. Ia juga mengidentikkan perempuan yang pakai kuteks sebagai perempuan yang tidak pernah bekerja dan make up hanya bikin muka rusak, jerawatan. Maka, tolong jangan kau tanyakan bagaimana reaksinya kalau aku bilang “Pa, cici mau cat rambut” atau “Pa, cici mau bikin tattoo.” Mungkin tidak perlu menunggu esok hari untukku tidak lagi dianggapnya anak. Ha.Ha.

Tapi kubagikan kepadamu, tahun pertama setelah lulus SMA, jariku sibuk mengecat kuku dengan kuteks warna warni, kenalan dengan beberapa alat make up, dan menenggak alkohol pertama (seharusnya, kalau kau tidak hitung wine Gereja saat Sakramen Ekaristi tentu saja). Selanjutnya mulai coba potongan rambut yang tidak biasa, transformasi cara berpakaian, dan beragam hal yang tidak perlu kubagikan secara detail. Intinya, semua orang berubah. Itu sebabnya orang akan merasa janggal melihat foto lamanya di masa sekolah bukan? Change is the only constant.

Kalau boleh jujur, ini bukan tahun pertama pikiran-pikiran itu ada di kepalaku. Karena semakin banyak aku mencari tahu, semakin banyak hal yang membuatku berpikir bahwa mungkin tidak seharusnya kulakukan, mungkin aku terlalu impulsive saja. Seperti masalah cat rambut ini atau soal haruskah seseorang punya tattoo...



Sudah beberapa tahun pikiranku berperang dengan batinku. Sudah beberapa kali aku maju lalu kemudian mundur lagi karena aku berusaha untuk jadi orang yang tidak asal “YOLO”, berusaha jadi anak yang mendengarkan apa kata orang tuaku, atau mungkin sebenarnya aku cuma seseorang yang hanya pada tahap berpikiran liar tapi tidak punya cukup nyali untuk mewujudkannya. Karena aku tidak berani. Karena aku tidak mau ambil resiko.

Maksudku, sungguh, orang-orang yang melakukan itu semua tahu bahayanya (jika ada) dan konsekuensinya, tapi mereka masih saja membulatkan tekad dan melakukannya. Lebih lagi, banyak orang tahu merokok itu berbahaya, tapi mereka tetap mencobanya. It’s a mistake. Dalam hal ini, aku tidak membicarakan yang ketagihan, di mana mereka juga tahu apa konsekuensinya, tapi mereka tetap melanjutkannya...karena ini sudah soal ketagihan dan hal lebih lanjut lagi dari “make a mistake” yaitu soal “regret, reconcile and fix it”.

"OK, yes it's a mistake. I know it's a mistake, but there are certain things in life where you know it's a mistake but you don't really know it's a mistake because the only way to really know it's a mistake is to make the mistake and look back and say 'yep, that was a mistake.' So really, the bigger mistake would be to not make the mistake, because then you'd go your whole life not knowing if something is a mistake or not. And damnit, I've made no mistakes! I've done all of this; my life, my relationship, my career, mistake-free. Does any of this make sense to you?" - Lily, HIMYM

Suka tidak suka, mau tidak suka, hal-hal ini kemudian membuatku berpikir lebih luas lagi. Mungkin ini bukan hanya perkara hal-hal merusak diri yang ingin kau lakukan saja. Mungkin ini bukan sekedar perkara penampilan dan bagaimana organ tubuhmu akan bekerja. Mungkin ini juga soal pengambilan keputusan-keputusan besar seperti pendidikan, pekerjaan sampai relasi. Aku mendengar bagaimana orang mengundurkan diri dari perusahaannya, pindah kerja ke tempat lain, dan kembali ke kantor lama kemudian memegang jabatan manager. Aku mengetahui kisah seseorang putus dari mantannya, punya hubungan dengan beberapa orang lain, dan kemudian menikah dengan mantannya. Begitu saja. Sewajar-wajarnya. Semuanya tidak lain menyatakan bahwa melakukan kesalahan adalah bagian dari sifat dasar manusia. Sifat dasar yang lainnya adalah tidak mau mengambil resiko dan takut berbuat kesalahan. Membingungkan? Tidak juga, bukankah kita mengalaminya? Manusia yang takut membuat kesalahan, secara pasti akan membuat kesalahan. Mungkin hanya dengan membuat kesalahan, manusia bisa belajar dengan baik. Mungkin manusia memang harus jatuh dan sakit buat dia bisa bangkit, jalan lagi, dan move on. Dan tidak semua kesalahan bermuara pada akhir yang menyedihkan. Tapi tidak ada garansi juga bahwa penyesalan akan bermuara pada akhir yang bahagia. Semuanya kembali ke seberapa besar kita yakin, seberapa besar kita percaya, seberapa besar usaha kita, seberapa tepat pertimbangan kita, dan mungkin, mungkin saja, seberapa besar nasib berpihak pada kita.

You never know until you try. You only live once. You know what the consequences are. You ask for the sky, you better fly. What you do should reflect what you actually want to achieve.No one makes no mistake. BUT. Think before you act. Be responsible.

PS: For those who are interested to know more, you can check on these ;) 31 Signs You’re An Ex-Convent School Girl and 20 Signs You Went To An All Girls Catholic High School.

0 comments :