Jakarta

Jakarta makin panas!
Dan seperti yang temanku bilang, cuma dua komentar dari pertanyaan dia kepada yang sudah kembali ke Indo : panas, macet.
Aku mulai sesak dan aku mulai penat.
Lalu aku mulai berpikir bahwa ini alasan orang yang sudah mencicip udara luar, enggan balik lagi ke Indonesia.
Sudah beradaptasi, sudah terbiasa.
Dan segalanya menjadi lebih tertata bagi dirinya.
Aku juga.
Aku memulai kembali ke Indonesia untuk pertama kali dengan senyum merekah.
Sampai orang bandara mungkin mengira aku gila.
Aku kembali ke Indonesia yang kedua kalinya.
Dengan gembira.
Tapi hanya itu saja.
Aku balik lagi ke Indonesia buat ketiga kalinya.
Dan aku merasakannya sebagai rutinitas atau sesuatu yang harus dilakukan belaka.
Kini, aku di Indonesia lagi, yang keempat tentu saja.
Dengan rasa hampa dan menangis meninggalkan Singapura.
Sebentar lagi, barangkali aku sudah bisa diberi titel "calon ga balik Indo after graduation". Wew.
Sebab aku tak suka dengan bau asap rokok.
Tak suka dengan bentakan dan perbandingan antara manusia dengan hewan.
Tak suka dengan keluhan yang diteriakkan terus menerus.
Bukan aku saja tidak suka.
Adik-adikku juga.
Sampai muncul rasa yang sama yang tak terelakkan.
Rasa yang memicuku untuk kuliah di luar kota.
Jauh dari rumah.
Rasa yang menumbuhkanku untuk segera keluar dari penyiksaan psikis.
Dan dengan keadaan demikian.
Jika terus menerus, bukan mustahil adik-adikku akan menggantikan posisiku.
Hanya perkara waktu.

-----------------------------------------------------------------------------------

Pergi

Aku tak suka bepergian.
Karena aku tak suka bandara.
Aku tak suka repot-repot mengatur barang,
membawanya berat-berat untuk dilihat orang lewat mesin penerawang.
Aku tak suka petugas imigrasi yang tak pernah tersenyum.
Tak suka mereka yang memintaku membuang air minumku.
Menyita barang-barangku.
Membuangnya begitu saja.
Atau mungkin mempergunakan seenaknya.
Tapi sebenarnya yang paling tak kusukai ya perpisahan itu sendiri.
Dan lainnya hanya pemeriah saja.

0 comments :