Liburan (1)
Hi, sudah lama sekali rasanya sejak kali pertama aku menulis untuk blog ku sendiri atau juga blog bersama itu. Sampai-sampai aku lupa rasanya bagaimana pacaran dengan tulisanku sendiri, memandangi layar monitor laptop-ku sampai lupa waktu begitu. Ya, kadang aku merasa sedemikiannya kumenghabiskan waktu – dalam hal ini, tak kurang hitungan jam – sedangkan yang membacanya cuma butuh waktu beberapa menit. Hmm~ tapi selalu menyenangkan mengetahui kalau ada yang menghargai karyamu, bukankah demikian? Dan perasaan itupun tak bisa dijelaskan.
Yeah, sama tidak bisa dijelaskannya kenapa ada perasaan tidak dihargai atas eksistensi diri sendiri ketika orang memanggilmu dengan sebutan yang disebabkan oleh hubunganmu dengan orang lain, lagi, dan bukan karena dirimu sendiri. Harus kuakui ini terdengar agak berlebihan. Tapi kalau mau dilihat, yang pernah merasakan seperti ini bukan cuma aku saja, minimal Ko2 Juan juga pernah. Jadi ini tidak bisa dikatakan sebagai suara seorang yang feminis. Kemudian, tak bisa juga menunjuk kepada almamaterku. Sebab bagaimanapun juga memang ada sisi dalam diri manusia yang ingin diakui secara pribadi, tanpa sangkut pautannya ke mana-mana. Ok, aku mengerti hal ini muncul karena kelelahanku, kemuakanku karena kepenuhan atas apa yang perlu untuk diurus serta dibenahi. Akibatnya hal yang seharusnya sepele menjadi terlalu dimaknai, berlebih.
Sebenarnya ada beberapa kali sudah aku ingin menulis. Namun tiap kali kubuka halaman-halaman internet, kudapati puluhan email yang mengantre untuk dibaca (juga dibalas), minimal belasan. Lalu mood-ku yang memang sudah turun jadi turun lagi. Baiklah, mungkin tidak turun, tetapi bertranslasi ke tempat lain. Yeah, selalu ada kelegaan ketika mood-ku sedang drop lalu menulis. Sebab kudapati bahwa tak ada orang yang perlu kususahkan dan atau kurepotkan dengan urusan remeh temeh yang kuciptakan dari khayalan serta emosi sesaatku sendiri.
Andrea Hirata telah kembali meluncurkan dwilogi yang menggugah. Harus kuakui, lewat cover buku itu saja ada semacam gambaran “menjual nama pengarang”. Namanya sebesar judul diletakkan persis di tengah, bagian atas. Malahan yang menjadi judul buku ada di bagian gambar ilustrasi cover buku tersebut. Aku sendiri menyadari keberadaan buku itu dan semata-mata membelinya karena namanya, Andrea Hirata. Agaknya ia adalah penulis pertama yang membuatku jatuh cinta pada tulisannya, membius bisa juga, sebab aku tak bergeming membaca bukunya. Asyik sekali. Sampai air mata mengalir lalu mengering dan berganti dengan tawa. Mabuk aku dibuatnya. Ohh...
Aku termasuk seorang pembaca yang gemar membaca ucapan terima kasih, biasanya disertakan dalam kata pengantar. Alasannya? Selalu ada hal menarik yang kudapati di sana, sekecil apapun, sesederhana apapun, yang kadang tak mudah disadari. Kalimat demi kalimat yang menguraikan bidang kuliah Andrea membuat bulu kudukku bergidik. Jelas di sana ditulis, matematis sekali. Dilanjutkan dengan begini, “...tidak menemukan kebahagiaan dari dua bidang itu.” Ya, selanjutnya ia sekarang sukses luar biasa di dunia sastra. Menulis, yang membawanya tenar sekarang ini. Tulisannya, yang bisa mengubah pandangan dan bahkan hidup orang banyak. Luar biasa. Ah, andai saja aku bisa sepertinya. *bintang jatuh*
Marsmallow
Mei-Mei, adikku yang perempuan berceletuk, “Kai (nama adik bungsuku), kan kalo marshmallow yang bentuk semangka, rasanya semangka tuh. Kalau marshmallow bentuk...”
Dan aku sudah tahu apa kelanjutannya, maka aku bicara, “Marshmallow bentuk bebek, rasanya bebek”
Manja
Sebagai anak sulung, seperti kebanyakan, aku dekat dengan adik bungsuku. Selama aku di Singapura pun, ia yang menanyaiku pada ibu kapan cicinya ini pulang. Selama liburan, tentunya, ia bertingkah manja padaku : minta peluk, gandeng tangan, tidur di sampingku. Lucu juga. Padahal ia sudah mau naik ke kelas 5 SD. Hahaha :D tapi biar bagaimana aku tetap senang. Istilah Bertha, “Siapa seh yang gak seneng disayang?” Ada benarnya juga. Hmm~
Suatu waktu ia berceletuk. Ibu menyuruhnya mandi, “Kai, mandi gih.”
Kai-Kai : “Ahh...Kai-Kai bosen tau mandi.”
Mama : “Loh?! Kamu udah mandi berapa kali emangnya hari ini?”
Kai-Kai : “Sekali.”
Mama : “Nah, mandi kan 2x sehari biasanya.”
Kai-Kai : “Aduh, Kai-Kai kemaren tuh mandi sampe 4x tau. 2 hari kan mestinya 4x. Hari ini Kai-Kai udah mandi 1x, jadi 2 hari ini udah 5x. Udah lebih tuh. Dituker aja yang kemarin sama hari ini.”
Aku (yang hanya mendengar) : “...” *entah darimana adikku belajar soal substitusi jatah mandi*
2 comments :
ckkck...
yang Liburan (2) mana????
cepat!!!!!!!!!
*gaya fans fanatik mulai jadi anarkis*
-noskill-
haiz, g sabaran..
napas, boss..
ngerjain yg lain dulu kek..
baca blog org lain misalnya..
wkwkwk
btw, loe sk baca kn?!
sk Andrea Hirata g?
gw bakal bawa bk Andrea it k SG kykna..
gw ngejar ntn DVD2 yg dh gw beli dulu di sini.. Bukunya yg gw bawa..
lalala~
Post a Comment