Sedang Butuh Waktu Sendiri
Aku sedang merasa paling bodoh sedunia. Yang sedih sampai mata basah dan hati tak tentram cuma karena anggapan atau persepsiku belaka. Yang belum tentu benar, yang kuingin untuk tidak benar.
Dulu, aku selalu percaya akan roda hari.
Ketika aku harus membayar hari yang gembira ini
dengan sedih di esoknya.
Kemudian aku membelot.
Kubilang pada diriku sendiri bahwa pemikiranku ekstrimis.
Tapi sekarang ini aku dihadapkan kembali.
Saat tak perlu ada yang cemburu
dengan pergiku menonton bersama teman-teman yang semua beda gender.
Setiap kali kudengar suara dan lihat senyum di wajahnya.
Sewaktu ia memperhatikanku dengan hal yang sederhana.
Hari ini
Aku tengah menunggunya mendongeng.
Pagi ini
Hujan yang turun bisa saja mengisyaratkan terjadinya.
Namun aku tak waspada
Hatiku jadi tak siap dikacaukan.
Terbentuklah dingin di hatiku.
Bikin susah nafas tenang.
Pandanganku menerawang dari balik kaca kendaraan berjalan.
Melayang dan melanglang.
Hilang.
Terpaksa rencana semula bergeser.
Baiklah,
aku merasa jadi orang yang tak dianggap dalam jajaran itu sekarang.
Terasing.
Pencilan.
Meski di balik itu semua tidak begitu adanya.
Hanya, untuk profesionalisme,
tak bisa kupungkiri perasaan itu.
Apa salahku hingga tak kau sampaikan?
Aku mengerti kau pengertian.
Kau tak ingin ganggu aku.
Tak mau bikin aku uring-uringan.
Menambahi beban pikiran.
Tapi yang juga senasib denganku ternyata ada pula di situ.
Ah, aku makin merasa tak diperhitungkan.
Ya, ya, mungkin kapasitasku sungguh-sungguh tak cukup?
Baiklah.
Aku sakit mendengar namanya bersamamu, bersama kalian.
Seandainya ia kau anggap lebih layak.
Toh aku bisa buat apa?
Usai kabar itu,
lantas ku alihkan rencanaku.
Tadinya mau berteduh dari dingin sembari membaca.
Sebelumnya berusaha jadi anak rajin yang buat soal di mana-mana.
Sirna jadinya.
Sebab mood-ku tak bertemu jalannya.
Mengembalikanku ke kamar tanpa mau menunjukkan diri.
Terpaksa menjaga gorden yang tetap tertutup.
Memeluk boneka kesayanganku.
Terbaca pesanmu yang tertunda.
Mengisyaratkan ketakutanku kalau ditinggal.
Menuliskan untuk meredamnya sedikit.
Begitu kosong pikiranku sampai kulit tangan terkelupas tidak tahu.
Kukira kau malas membalas pesanku.
Lalu kenapa di tengah yang kulakukan ini.
Justru masuk yang kau kirimkan.
Yang bikin aku merasa perlu menenangkanmu.
Yang bikin aku merasa diperdulikanmu.
Biarpun mungkin itu sekedar basa-basi.
Maaf, aku tak bisa menjawabnya.
Setidaknya sekarang ini.
Sedang butuh waktu sendiri
Jika sekarang saja sudah dijadikannya sakit begini.
Bagaimana dengan nanti?
Aku jadi takut mencintaimu.
Terima kasih, Bill, atas info-nya. Buat semangatnya. Tak perlu kau sampaikan pada siapa-siapa, aku sedang kenapa.
*******
PM Howard, "Love is so funny when you get hurt and you're starting to laugh.."
but for this time, I'm starting to cry, I believe..."
0 comments :
Post a Comment