Berkorban Dan Atau Dikorbankan
Jika Anda punya kelemahan dalam mengontrol emosi, pikiran, dan atau perasaan Anda, kemungkinan karena Anda butuh asupan gula.
Kemarin ini saja, di kepalaku ini berantakan.
Dan mungkin jika sedikit saja tak ada asupan gula,
aku bisa membahana, tak tertolong.
Argh, kenapa tiba-tiba semua keluar lagi.
Hal yang sudah kusimpan dalam peti.
Maksudku, sungguh, fase-fase seperti ini memang tidak begitu (baca : sangat) tidak baik untuk kenapa-kenapa, ada apa-apa. Jika satu saja hembusan ketidakberesan menampakkan wujudnya, ia bisa mengacaukan segalanya. Memancing pemikiran bergeliat-geliat keluar mengaburkan pandangan logis serta akal sehat. Lalu, hari ini, kudapati topik yang sama. Pengorbanan.
Singkat kata, bacaan yang jadi sarapanku hari ini adalah soal savior siblings. Mereka, yang hidupnya diciptakan lebih karena dibutuhkan ketimbang diinginkan. Untuk apa? Untuk menyelamatkan nyawa saudaranya yang tengah berada dalam bahaya. Maka hal ini pun kemudian menjadi sedemikian kontroversialnya.
Waktu ku tak cukup berlimpah membahas segala aspeknya. Namun perhatianku terkonsentris pada "pengorbanan", karena tak lain tak bukan, hal itu yang setipikal.
Bagiku, dalam konteks ini, manusia terbagi dalam dua kasus ekstreme (ada juga yang berada di antara keduanya memang). Ada yang hidupnya "gemar" berkorban. Ada yang sebaliknya. Bukan egois juga yang disebutkan nomer dua ini. Tapi memang demikian, lebih enggan mengalah.
Aku sendiri entah masuk mana. Baiklah, ini penyangkalan. Kalian bisa menyebutnya demikian. Namun aku bersikukuh bahwa yang pertama juga bukan penyakit. Baiklah, harus kuakui, untuk kali pertama atau beberapa kali di awal mungkin akan sakit luar biasa. Hingga tetes air matamu pun jatuhnya bukan di pipi, tapi di dalam hati. Dan jeritan hatimu tidak bisa didengar lagi, karena lengkingannya yang tinggi. Namun bukankah itu membahagiakan melihat orang yang kau sayang bisa lebih diperhatikan? Bukankah sungguh indah melihat pengorbananmu tidak sia-sia, meski sakit itu perih, tapi kau tidak inginkan orang lain yang merasakannya bukan? Ah, aku kehilangan kata-kataku. Pasalnya, ketimbang ia, mereka, atau kalian, lebih baik aku yang menanggungnya.
Hentikan! Aku sudah jenuh, hapal, jemu, untuk mendengar serangkaian kata klise yang sudah kuhafal bahkan sebelum mereka terlontar. Aku tahu ini tidak baik, aku tahu ini tak sehat, aku tahu ini tak boleh. Hanya saja aku tak menemukan yang lebih baik dari pilihan ini dan keadaaan yang terjadi sekarang sudah baik-baik saja.
Dalam argumenku, kujelaskan, kita tidak pernah tahu bagaimana manusia bereaksi. Bisa saja ia akan senang pada kenyataan bahwa hidupnya bisa bikin saudaranya selamat. Andai kata ia seorang yang punya tendensi untuk berkorban. Bisa saja ia marah dan berontak pada kenyataan bahwa hidupnya dibuat karena sebuah tujuan. Kalau ia hidup bukan karena ia diinginkan sebagai suatu individu personal. Andai kata ia seorang yang punya tendensi sebaliknya.
Seorang pernah bilang padaku, "Kamu gak tahu kalo dengan kamu begitu, kamu juga nyakitin orang-orang yang sayang dan peduli sama kamu. Kamu mau orang yang kamu sayang bahagia, mereka juga pengen kamu begitu." Sayangnya, sudah dari dasarnya aku keras kepala, seperti kata beberapa orang. Lagipula, aku tak bicara sedemikian dalamnya sampai kepada yang bernama "kebahagiaan". Minimal ketenangan saja sudah cukup.
Seorang lagi bilang, "Kamu harus berhenti nyakitin dan nyiksa diri sendiri."
Seorang lagi bilang, "Gimana bisa tahu kalau kamu gak pernah cerita?"
Aku memilih bungkam. Aku tak lagi sakit. Aku bisa menghadapinya.
Aku sudah terbiasa. Aku ingin mengalihkan pemikiranku.
Pada satu tujuan yang lebih baik, kepentingan orang lain.
Lalu semua yang ada di sini sudah kuketahui sebagai bangunan yang megah luarnya, namun rapuh pondasinya. Seketika ia bisa hancur luluh lantah, seketika ia bisa sirna begitu saja.
Lihat? Aku bukan bodoh. Aku tahu. Aku hanya pura-pura bodoh.
Ah, tenang, aku hanya membesar-besarkan masalah, eh, suatu hal saja nampaknya.
Tak perlulah kau khawatir karena sebenarnya TIDAK ADA APA-APA.
Aku baik-baik saja, s.u.n.g.g.u.h.
"Ssst...Mai, berhentilah di sini sebelum semuanya menjadi semakin dalam.
Sebelum tulisanmu berantakan karena gelembung-gelembung pemikirannya berpencar ke mana-mana."
Dulu, aku menolak tersenyum. Jarang sekali kuberikan. Kataku, untuk apa tersenyum kalau kau tak rasa perlu? Kalau kau tak rasakan hatimu tersenyum. Sekarang, aku memilih tersenyum. Jika senyum itu bisa menghadirkan rasa tenang bagi dirimu. Jika dengan senyum yang meski palsu itu, aku bisa membahagiakan kalian tanpa perlu memikirkanku.
*******
"Gile elo sih filosofis abis ... haha i dunno whether filosofis itu kata yang bener buat describe sih haha menurut gw sih kayak semua dipikir, semua di cari esensinya haha," Kak Abram.
0 comments :
Post a Comment