Mimpi Yang Menjadi

Kurasa SMA, tak ingat kelas berapa. Saat aku melongo menyaksikan kejadian di suatu hari yang telah kulihat dalam mimpi di hari sebelumnya. Hanya saja, untuk hal-hal sepele. Hal-hal bukan luar biasa yang terjadi. Misalnya apa yang ingin dikatakan ibuku, kenapa guruku salah memeriksa kertas ulanganku, atau tentang pengumuman. Tapi, Cuma H-1. Jadi jika yang terjadi esok. Aku akan tahu kemarinnya. Tak sedemikian membantu, tapi cukup menyenangkan. Sejauh ini aku mensyukurinya. Terdengar janggal barangkali. Perihal semacam ini biasa diidentikkan dengan orang-orang tak punya latar belakang pendidikan yang cukup hingga mereka percaya pada hal berbau supranatural atau metafisik. Jangan buru-buru menarik konklusi. Aku dapat A untuk karya tulisku yang mengusung Tarot sebagai sarana psikologi. Pembimbingku? Tak kurang kapasitasnya, dari lingkup biarawati, kepala sekolahku sendiri.

Tidak banyak yang kulakukan untuk mendalami ini. Orang bisa bilang ini kebetulan. Orang bisa anggap aku bicara dusta. Aku sendiri terganggu seandainya tanggapan orang mendengar ini adalah “Kalau begitu, loe ngimpiin gue *ini* donk!” Hhh :( Mungkin kadang, jika ditambah mood yang tak baik, aku benci dengan orang itu dan pernyataannya. Aku tak bisa (atau setidaknya, belum sampai tingkat) mengatur mimpiku. Pernah juga ada buku berjudul “Dreams” karangan Theressa Cheung yang kubaca. Di sana ada deskripsi macam-macam mimpi dan lainnya. Ya, memang ada metode tersendiri mengatur mimpi. Tapi tak ku kuasai. Dan jika kalian bertanya dari mana aku bisa punya demikian? Aku tak tahu. Semuanya itu datang begitu saja dan jadi nyata saja esoknya. Harusnya hal ini tak ada sangkut pautnya bukan dengan puasa Senin-Kamis yang diajarkan ibuku sejak aku duduk di kelas 6. Toh sudah lama tak kujalankan. Toh, lagi, aku mengenal puasa itu sebagai bantuan untuk harapan dikabulkan. Percaya tak percaya, aku menggunakannya juga untuk masuk NUS. Maka lihatlah sekarang, aku terdaftar sebagai mahasiswi NUS bukan?

Sebenarnya, dalam diriku sendiri ada keinginan untuk melihat dalam jangka waktu yang agak jauh lagi. Maksudku, misalnya saja, seminggu sebelum kejadiannya? Atau sebulan? Hmm, dalam pemikiranku, nampaknya sebagai manusia, aku bisa-bisa suatu ketika terdampar di titik ketakutan jika benar-benar punya kemampuan tersebut. Kembali, sebagai manusia, aku menginginkan yang tak ada padaku sekarang ini. Fenomena wajar. (ya bukan?!) Selain itu, aku ingin seseorang! Aku ingin seseorang yang bisa mempercayaiku 100% dalam hal ini. Hal yang menurut logikaku sendiri cukup sulit diterima akal sehat. Oh, andai saja ada orang itu...

Tulisan ini ditulis dalam himpunan rasa senangku atas e-mail balasan yang mengabarkan bahwa seorang Indonesia boleh mengambil module LAB. Sesuatu yang telah lebih dahulu kulihat dalam mimpi, ya, bahwa aku menerima e-mail balasan berbunyi demikian.

0 comments :