(Terser+Pasr)ah

Idealisme berapa kali ini tergoncang. Bukan persoalannya pada jarak atau ruang atau waktu saat kami akan kembali bertemu. Tapi soal fakta, berita, cerita, dan yang dikisahkan pada kesehariannya kita. Tadinya ak sok tangguh, merasa bahwa idealisme yang kuusung ini cukup beralasan, punya fundamental yang kuat sebagai penyebab aku mempertahankannya. Munafiklah engkau, nyatanya semua yang di hadapan lebih hebat lagi buat menampik kenaifanku sendiri. Tangisku sudah leleh dan kembali beku, tiada habisnya. Hatiku sudah rancu akan sesuatu. Yang kupahami tadinya hanya aku sayang sahabatku, kami solid. Yang kuyakinin awalnya cuma aku sayang dia, kami bahagia. Sekarang? Aku hendak menyembunyikan mukaku di hadapan para senior, yang telah di muka memberikan wejangannya. Dan aku bantah. Dan aku sanggah. Dan tak mau aku dengar. Mungkin keadaan tak sedemikian kompleksnya. Segalanya karena aku yang menuntunnya ke arah demikian.

Sekali ini, barang kali aku akan membawa yang kupikirkan mengenainya, kami maksudku.
Manusia dituntut berkomitmen, dalam banyak hal. Aku sendiri tak paham betul pemikiranku kenapa sebegitu. Tidak ada yang bisa dijanjikan harusnya. Tidak ada yang menjadi pegangan. Setahuku itu hanya bayang-bayang impian yang disegelkan dengan nama cinta atau kasih sayang. Hingga kini jadi berat. (aku tak yakin bisa melanjutkannya, belum cukup siap). Payah kau, Mai!

Jadi biarkan aku membuka lembar kelamku. Biar.
Pernah kau dengar orang stress berucap mereka tak selera makan? Pernah kau dengar orang stress tak betah di rumah berlama-lama? Tak kerasan bahasanya. Lalu, pernah kau kenal aku? Atau jangan-jangan kau masuk dalam deretan orang-orang yang prihatin hingga senang memperingatkan aku untuk makan. Ups, aku berlebihan.
Kembalilah aku ke sini. Senyum yang enggan beranjak setibanya aku di bandara sekejap luluh lantah. Berantakan. Hancur. Berserakan. Ada lagi perasaan enggan berlama di rumah sndiri. Barusan malah aku melarikan diri, kembali pukul stnga 12 malam bersama teman lektrisku. Belum cukup disibukkan dengan pemilihan berpertimbangan memusingkan soal bidding atau module, aku masih harus menghadapi tekanan. Kuperingatkan kembali, alasan terbesarku mengejar kuliah adalah tinggal di luar rumah dan harapan terbesarku untuk ke NUS adalah membahagiakan orang tua. Setidaknya itu yang kuyakinin sekarang. Baiklah, bukan sepenuhnya dan segala-galanya. Tapi itu, yang kuperjuangkan.

... (bersambung)

Apa boleh buat? Tidak banyak yang bisa aku lakukan, sebagai objek. Terserah pada semua, aku sekedar pasrah.

*di tengah sesaknya pikiran, terbersit bayang pada otakku. Seorang wanita mengurai rambutnya yang agak panjang-cukup berantakan, duduk di meja, di balik laptopnya-dengan kaca matanya. Sayang, merokok! Tapi membuat ia terlihat bergaya. Sayang lagi, alkohol! Atau luar biasa? Hahaha. Penulis hebat! Hanya saja, pikirku*
-->entah kenapa, aku senang saja rasanya mendapati diriku menulis ini^^

0 comments :