Kembalinya Seorang Blogger Murtad

Dan, di sinilah aku sekarang. Dalam ketidakberadaanku dalam kerjaan-kerjaan yang menumpuk, aku merasa harus kembali ke dunia yang membesarkanku, menulis maksudku di sini. Sesungguhnya, yang dianggap dengan pekerjaan itu bukan berarti tak ada. Ada, jelas. Hanya saja tak mendesak atau paling tidak kudefinisikan dengan bisa di-pending. Sudah banyak yang kulalui, hal yang pasti. Keterpurukan, kesunyian, kesepian, tapi juga kebahagiaan, keceriaan, kesukaan. Atau bahkan dosa! Ya, manusia. Entahlah masih ada yang tercatat atau tidak. Rasanya terjejal di sini semua dan jika tak segera kumulai akan padam api semangatnya. Terlalu lemah jiwa penulis ini asal sudah ketemu dengan satu dua ketikannya.

Aku bosan meneriakkan tumpukan tugas sana sini atau aktivitas atau kegiatan ini itu. Sudah biasa. Dan bukan perkara aku ini adalah anak, ups, mahasiswi NUS atau apa. Namun lebih kepada, kurasa, semua orang punya kesibukannya masing-masing. Tak bisa diganggu gugat.

Ada yang dinamakan rekaman lalu. Teringat kembali padaku kejadian masa SMP rasanya. Hal ini dinamakan perasaan cemburu antar kawan. Hmm, baiklah, mungkin tidak juga. Didefinisikan sebagai perasaan memiliki otoritas atas hubungan pertemanan yang cenderung memonopoli. Tenang, baik, kita akan segera menuju ke contoh kasus. Ketika A dan B tengah berteman dekat. Kemudian suatu saat, si A bertemu teman baru si C (yang barangkali lebih cocok atau apa) dengannya hingga punya aktivitas baru, berikutnya si A “tertarik” dalam komunitas persahabatan si C dan kawan-kawannya. Hingga si B pun merasa marah, entah pada A entah pada C. Maaf, saya memang punya banyak teman calon psikolog, tapi saya sendiri bukan salah satu di antaranya. Jadi tidak paham betul apa istilah untuk membahasakan kondisi demikian. Aku sendiri hanya akan memandang ini sebagai suatu kejadian berulang. Ada sejarah bersifat linear, ada berupa siklis. Ya, siklis. Selayaknya bagaimana pemerintahan Orde Lama digulingkan, demikian juga dengan Orde Baru, dan seterusnya dan berikutnya. Secara tenang hal ini juga bisa dinetralisir dengan kesalahpahaman. Maksudku, sungguh, kenapa juga harus menyalahkan dan disalahkan. Bukankah tidak ada yang salah? Omong kosong jika ada orang yang bilang tak boleh main geng-gengan atau apapun lah itu namanya. Pasalnya, manusia adalah makhluk istimewa yang sifatnya secara ilmiah memaksa untuk secara sadar maupun tak sadar menyeleksi orang-orang di sekitarnya hingga berada dalam tingkat kedekatan masing-masing. Maka, dalam perkembangannya dan seiring berjalannya waktu pun, manusia akan terus bertemu dengan lagi dan lain orang. Bertambah dan memiliki satu satuan skala baru. Sesuatu yang wajar, yang alamiah. Kupertegas di sini, bukan hukum rimba yang berlaku. Memangnya dunia ini perang atau persoalan persaingan sajalah? Manusia akan mencari comfort zone-nya sendiri. Atau jika ia tak mampu menemukan, ia akan sedemikian rupa berusaha menciptakannya. Di atas semuanya itu, manusia punya kebebasan. Kebebasan yang bertanggung jawab bahkan secara terang benderang sudah diberi dasar hukum konstitusional.

0 comments :