Masih
Hari terakhir bulan ke-4
Malam sebelum tanggal merah
Bukan kali pertama kita berjumpa
Bukan juga kali pertama kita berdua
Bukan di saat itu aku baru menyentuhmu
Namun baru waktu itu kurasakan nikmat bibirmu
Cuma di hari itu kita berbagi lelap dan waktu terjaga
Diselingi dengan cumbu juga tawa
Menyentuh lebih sisi yang tak pernah terbuka
Sembari menjaga akal sehat tetap bekerja
Berjalan di garis etika sekuat tenaga
Menjalani hal yang paling merana
Menolak di bibir tapi dalam hati meminta
Masih dekat di hatiku bagaimana kita bermain dengan situasi
Masih lekat dalam ingatanku kata-kata manismu yang meluluhkanku
Masih rekat di jiwaku bagaimana kita sama-sama tak bisa menahan diri
Masih pekat wangi tubuhmu yang membius dan menghipnotisku
Kawanku mengenalmu sebagai penyejuk mataku
Meski dalam hati aku melihatmu lebih dari itu
Pertama kau ganggu perhatianku dengan lesung pipimu
Kemudian kau buat jantung ketar-ketir dengan balasan pesan-pesan itu
Selalu kau sisakan secuplik kisah yang masih gelap supaya aku ingin tahu
Di kala siang sepi tanpa sautan
Ingin rasanya kutengok saja kau sedang apa
Saat malam berselimut dan kulemparkan pandangan kosongku
Kutangkap diriku mengenang bagaimana kau menarikan jemarimu di pundakku
Bagaimana luwesnya kau kaitkan lenganmu ke pinggangku
Bagaimana manisnya pundakmu memeluk sandaran kepalaku
Aku mau kamu
Tapi untuk sementara
Kamu ingin aku
Namun kurasa tak bisa menjaga
Dirimu akan selalu jadi selingan
Yang manis untuk dikenang sendiri
Kontroversi bila dibagi
Namun jika waktu berulang,
Akan tetap kulakukan sekali lagi
Diselingi dengan cumbu juga tawa
Menyentuh lebih sisi yang tak pernah terbuka
Sembari menjaga akal sehat tetap bekerja
Berjalan di garis etika sekuat tenaga
Menjalani hal yang paling merana
Menolak di bibir tapi dalam hati meminta
Masih dekat di hatiku bagaimana kita bermain dengan situasi
Masih lekat dalam ingatanku kata-kata manismu yang meluluhkanku
Masih rekat di jiwaku bagaimana kita sama-sama tak bisa menahan diri
Masih pekat wangi tubuhmu yang membius dan menghipnotisku
Kawanku mengenalmu sebagai penyejuk mataku
Meski dalam hati aku melihatmu lebih dari itu
Pertama kau ganggu perhatianku dengan lesung pipimu
Kemudian kau buat jantung ketar-ketir dengan balasan pesan-pesan itu
Selalu kau sisakan secuplik kisah yang masih gelap supaya aku ingin tahu
Di kala siang sepi tanpa sautan
Ingin rasanya kutengok saja kau sedang apa
Saat malam berselimut dan kulemparkan pandangan kosongku
Kutangkap diriku mengenang bagaimana kau menarikan jemarimu di pundakku
Bagaimana luwesnya kau kaitkan lenganmu ke pinggangku
Bagaimana manisnya pundakmu memeluk sandaran kepalaku
Aku mau kamu
Tapi untuk sementara
Kamu ingin aku
Namun kurasa tak bisa menjaga
Dirimu akan selalu jadi selingan
Yang manis untuk dikenang sendiri
Kontroversi bila dibagi
Namun jika waktu berulang,
Akan tetap kulakukan sekali lagi
0 comments :
Post a Comment