Sebulan Terakhir
Sebulan terakhir cuaca tidak begitu baik, kukatakan ini secara harafiah maupun metaforik. Langit terkadang bersinar terang namun untuk sementara saja karena aku menolak cuaca yang seharusnya terjadi. Kemudian ia menjadi gelap berhari-hari dan terkadang sangat gelap sampai aku mengunci diri serta tak berani makan. Seburuk itu. Senista itu. Kemurkaanku mendatangkan pertanyaan akan ke mana harusnya kaki ini melangkah berikutnya. Ia membawaku pergi dari siapa aku seharusnya dengan ajakan untuk melarikan diri. Ketakutan membuatku luluh lantah akibat keraguan bahwa kakiku yang diharapkan sembuh nantinya akan berani untuk ke depan dan akan diterima oleh orang-orang seperti sebelumnya, seperti sekarang.
Aku berusaha mementahkan pemikiran bahwa aku tidak akan kuat berjalan sendirian. Bahwa tidak ada yang menggenggam tanganku supaya janganlah aku jatuh di saat hujan membuat licin jalanan. Bahwa tidak ada yang siap sedia menyuapiku makan di saat badan lemah karena sakit. Hatiku tetap remuk menatap sejumlah sejoli bertukar senyum dan berbagi kebahagiaan satu sama lain karena sekarang...aku sendiri. Aku berusaha untuk tangguh dan mengangkat tinggi dagu serta kepalaku penuh kepercayaan diri. Bahwa aku bernilai lebih, lebih dari apa yang orang lihat atau hakimi. Terlebih karena mereka tidak pernah melalui jalan yang sama denganku dan tidak tahu apa yang kusesali dan atau kupelajari.
Kepada orang terdekat kusampaikan keadaanku serta penyebabnya. Ada yang bilang masih bisa diusahakan, ada yang bilang jangan lagi dibicarakan, ada lagi yang menanggapi dengan lebih emosi dari pada diriku sendiri, sekaligus tak habis pikir kenapa aku masih saja begini. Ada yang menenangkan dengan halus, ada yang mengingatkan dengan tegas, ada yang memarahi dengan memaki. Semuanya mengambil bagian dalam pemahamanku berusaha menembus tembok perbatasan sekaligus pertahanan diri supaya bisa terinternalisasi. Kadang aku berusaha melupakan kenyataan dengan membuat rasa yang di hati tak lebih pahit dari apa yang dikecap di lidah. Kemudian kepalaku menari dan dengan berat ia jatuh terlelap. Kadang aku berusaha menumpahkan apa yang kurasakan dengan pelumas yang memperlancar supaya tak ada yang terikat untuk keluar dari bibir.
Dua kawanku kembali dengan mantan dan aku tahu pasti itu tidak bisa kulakukan. Perpisahan yang diawali dengan intensi supaya orang tua kedua belah pihak sadar bagaimana anak-anaknya ingin bersama justru menjadi sumber kelegaan dan berita gembira bagi mereka. Aku berusaha percaya lebih lagi bahwa firasat ibuku bicara yang terbaik dan sebisa mungkin menganggap omongan pedas yang ditujukan padaku sebagai omong kosong belaka seperti yang sudah-sudah: sengaja dibuat-buat. Kedatangan ke Singapura, keributan serta keheningan yang terjadi secara tidak langsung memberikan kekecewaan yang tidak kusenangi namun sekaligus menjadi alasan untuk ku pergi menjauh dan menjadi tak acuh. Ketika nilai yang sesungguhnya sedang dipertanyakan, ia mempertunjukan apa yang disembunyikan. Aku bukan disekolahkan tinggi-tinggi dengan susah payah di Santa Ursula dan NUS hanya untuk jadi sapi (perah) yang dicucuk hidungnya untuk tidak punya suara dan ikut saja ke mana-mana. Aku punya hubungan yang gagal dan dari sana aku belajar untuk tahu apa yang aku mau, tidak mengulangi kesalahan yang sama. Sebagai milenial dan orang yang enggan mengamini stereotype, aku menolak dan membela pasanganku supaya ia tidak dihakimi berdasarkan asal muasalnya. Tapi kenyataan bahwa sebelumku juga banyak tak suka dengan mereka, mungkin melahirkan pertanyaan reflektif berikutnya. Aku menghargai seorang musisi karena bakat dan talentanya, bukan menghakiminya atas musibah yang pernah menimpanya. Karena dengan begitu, aku bisa melihat apa yang baik dari orang yang pernah bersalah. Bukan menganggap diri mudah memaafkan tapi tak bisa melihat perbaikan.
Puncaknya aku bersama dengan keluarga dan kawan baikku melarikan diri dari tempat tinggal kami selama empat hari. Kawanku menjadikan keluargaku sebagai objek pembelajaran dan analisa kehidupannya. Bagaimana dampak memiliki seorang ibu yang mengagumkan - katanya. Perjalanan kami tak menyimpang jauh dari apa yang sudah direncanakan sebelumnya, sekira kurang lebih 85% begitulah adanya. Kami memang melewatkan Gusto Gelato dan Bebek Tepi Sawah, tapi improvisasi yang ada tidak membuat kami berlarut dalam kecewa. Entah karena kurang restu atau hal lainnya, kawanku mendapat musibah bertubi-tubi mulai dari HP mati karena minum air laut terlalu banyak di tepi pantai atau kena jambret kacamata oleh monyet bengal di Pura Uluwatu. Kami dibuat sempat panik dan kelabakan karena ia satu-satunya yang punya keahlian mengemudi. Beruntung karena pembagian tugas dan kerja sama yang kompak, semua baik-baik saja. Hal itu menjadi mungkin karena dibantu pembawaannya yang ringan dan riang. Itu juga alasannya kakak laki-laki ibuku kontan menyukainya dan mau menjodohkan kawanku itu dengan anaknya. Highlight untukku sendiri adalah melihat lumba-lumba di Lovina. Sayangnya, adikku harus mabuk darat dan laut. Kantung plastik dipakai habis untuk alasan yang bisa diterka. Yang mengecewakan adalah snorkel di Tanjong Benoa, belum ada yang mengalahkan Kepulauan Seribu hingga saat ini. Jernihnya jauh ke dalam sampai bisa bertatap dengan penyu sisik. Tapi setidaknya acara snorkel itu diakhiri dengan wisata ke Pulau Penyu dan untuk sekali lagi, ada saja penyu dengan tempurung tidak sempurna :( *sigh*
Kesedihan yang tak begitu tampak karena enggan dipaparkan secara terang benderang menyelami atmosfer di bandara Ngurah Rai. Harapan terpendam keluargaku adalah pesawatku tidak menuju ke Singapura melainkan ke Jakarta bersama mereka. Sudah kubulatkan tekadku untuk menabung cuti biar bisa pulang setengah bulan di akhir tahun. Semoga saja belum menumpuk rindu yang ada sehingga masih bisa tertahankan.
Sekembaliku ke Singapura, aku masih suka jatuh dalam romansa kesedihan pribadi yang diciptakan untuk dinikmati diri sendiri. Enggan melawan dan percaya pada kenyataan. Enggan mengiyakan perkataan masuk akal dari orang-orang. Sampai akhirnya di hari Sabtu kemarin, talk dari Papi Richards yang diorganisir oleh komunitas goddaughter-ku, terpatri kata-kata bahwa hidup kita ini sudah diatur-Nya "in his way, in his time". Dikuatkan lagi dengan hari ini aku melihat kenangan 2 tahun lalu, kata-kata Papi Jovita "God will work on his own time. Why are you forcing God?"
Sebulan terakhir ini aku percaya bahwa kesalahan tidak terletak padanya. Aku membela bahwa ia sama sekali tidak ambil bagian dan masalah yang terjadi antara kami sudah atau dapat dibenahi berdua. Namun keraguan mulai muncul ketika kawanku menceritakan analogi "beda rumah" yang menunjukan bedanya nilai kehidupan (atau core value) yang ditanam dan diimani oleh orang. Yang lantas dimantapkan oleh kata-kata ayah godson-ku. Ini tidak pernah benar-benar perkara yang tua, bukan cuma yang mereka buat-buat karena sudah tidak suka. Mungkin bobot terbesarnya di sana. Namun ia juga turut ambil dalam perkara.
Karena kebenaran tidak ditentukan oleh siapa yang bicara.

1 comments :
Hal yang paling gw suka dari tulisan lw adalah lw bisa menuliskan kepedihan tanpa membuat pembaca merasa iba melainkan bangga karena diperbolehkan mengintip sedikit ketangguhan hati lw, Ri.
#proudofMariana
Post a Comment