Kuarter Terakhir Tahun 2015
“Mulai dari tengah,” Raditya menegaskan nasihatnya berkali-kali dalam kelas Kesalahan Penulis Pemula di Conclave Auditorium. Ruangan dengan design interior yang fancy itu menurut Stella sangat umum disewakan bagi para freelancer atau siapa saja yang butuh tempat tenang dan nyaman entah untuk urusan apa saja pada dasarnya. Kami pulang dengan sesuatu tapi tidak sedalam yang dibayangkan. Lebih banyak membahas topik menarik sepanjang jalannya.
Hanya saja kita tidak sedang di tengah, kita berada di tengah dari yang setengah belakang. Kita di kuarter terakhir tahun ini, 2015. Meski kenyataannya omongan Raditya Dika juga bukan soal timeline melainkan soal inti cerita.
Baru kemarin ini, aku mendapati diriku mengira bahwa aku mengenal seseorang sekitar 2-3 bulan lalu. Ia menyanggahnya mengatakan bahwa kami bertemu lebih dari setengah tahun lalu. Hari ini kuperiksa kembali hanya untuk mendapati bahwa ia benar. Ingatanku akan kegiatan berulang rupanya mengganggu pemahamanku akan konsep waktu. Semua yang monoton agaknya dikelompokkan menjadi satu bagian yang menyita jangka waktu pendek di pikiran, namun tidak di kenyataan. Maka sebelum kita tahu, jalanan Jakarta akan ramai dipenuhi orang berjualan terompet untuk meramaikan kegiatan menyambut pergantian tahun di Ancol. 2016.
4 undangan pernikahan, ulang tahun ko2, dan pencarian passion akan meramaikan natal serta tahun baru yang akan terjadi dalam tiga bulan ke depan. Tak terlupa kursus di hari Minggu sampai tengah November nanti. Jatah cutiku (dan pacar) sudah habis dialokasikan untuk Chinese New Year tahun depan. Supaya tidak lagi kami bingung mau makan apa di Singapura masa itu yang seperti kota mati. Apa-apa tutup. Boleh dibilang, pelarianku baru akan datang 10 November nanti di hari Deepavali yang sayangnya jatuh pada hari Selasa. #notlongweekend
---
Kembali ke yang terlewat...
Selamat tinggal, sandal jepit
Tanggal 1 Juni adalah hari terakhir aku memandang si sandal jepit pink yang kubeli entah kapan – tapi yang pasti tidak lebih dulu dari si hitam (2009, sewaktu part time di PRJ). Sebagai orang yang sulit menemukan tipe sandal jepit sesuai kriteria yang aku suka, boleh dibilang aku cukup sulit melepaskannya. Bukan maksud hati mempensiunkannya dini. Apa daya warnanya sudah banyak rontok dan bahannya sudah banyak terkikis memaksa sedikit dari kerangkanya muncul. Tak ayal, tali jepitannya juga ikut sengsara dijadikan tumpuan untuk menggenggam erat si lapisan bawah sandal. Prihatin melihat penderitaannya, kubebaskan ia. Kini aku harus berpuas dengan sandal jepit merk Crocs (yang juga warna pink).
Pesan moral: Punya selera sandal jepit berfitur model sandal jepit cowok tapi berdesign sandal jepit cewek memang menyulitkan.
Ko2 tambah item
Cukup sekali. Asal tau saja. Biar ga norak. Begitulah ungkapan yang biasa disebutkan orang rumahku untuk mencoba suatu hal yang baru – namun tidak untuk dicoba lagi. Pergi ke Bintan salah satunya. Kunjungan ke pulau Indonesia yang bisa dicapai dengan 75 menit perjalanan laut dengan kapal ferry dari sebelah timur Singapura itu menghabiskan biaya yang tidak sebanding, ukurku. Sepakat dengan pacar, kegiatan paling memorable adalah fireflies tour. Sama-sama pengalaman pertama bagi kami. Sisanya: snorkeling, sepedaan, panahan, main freesbie, dan berenang tidak seperti ekspektasi kami. Dan lagi, makanannya tidak segitu menggugahnya. Ia masih kecantol dengan Warung Sate Kendal di Batam. “Kalo ke sini lagi, harus makan lagi.” janjinya.
Pesan moral: Jika ingin (iseng) membuat pacarmu yang seputih Snow White (atau minimal lebih putih dari kamu) menjadi lebih hitam, ajaklah ia ke pantai.
Peringatan: Hasilnya tidak akan bertahan lama.
Marlo dan Chatty
Yang bukan peliharaan kami. Marlo adalah marmut lucu milik tetanggaku di level satu. Bulunya belang coklat muda-putih dan gemar menatap balik orang yang memandangnya (ya, that’s actually normal. But you know, testimony is like a feeling . It’s subjective...and biased). Marlo juga bukan nama aslinya. Nama catchy itu datang dari si ko2. “Marmut Jomblo”. Yang kusambut dengan tatapan tak percaya. Lalu melihat Marlo yang kesepian seekor diri di kandang dua lantainya, aku pun setuju dengan nama yang disematkan baginya itu. Kami beralih dari fase sekedar tahu Marlo di kandangnya dan berjalan melaluinya begitu saja ke fase di mana kami berhenti sejenak dan menyapa Marlo. Marlo pun demikian. Ia beralih dari fase takut dan bersembunyi setelah melihat kami ke fase diam sejenak dan selanjutnya ke fase menunjukkan dirinya kalau kami mampir.
Sampai suatu ketika, sekembaliku dari libur Idul Adha di Indonesia, kandang Marlo lenyap. Hingga hari ini, kami tak lagi melihatnya. Besar dugaan kami, ia sudah mati. Sepi. Sendiri.
Sama dengan Marlo, Chatty juga sendiri. Ia kucing kurus yang kutemukan dekat tempat pembangunan rumah sakit dalam perjalanan menuju rumah ko2. Seperti yang biasa kulakukan, kusauti meongannya. Tapi tidak seperti biasanya, kucing itu terus menerus mengeong tiada henti sambil terus melangkah ke tempat pejalan kaki. Entah kelaparan, entah mencari kawan atau anak-anaknya. Awalnya aku melangkah melupakannya, namun hatiku agak berat untuk berpura-pura tak peduli. Si ko2 yang menyadarinya bilang “Kamu mau apa, cintakuy? I support you.” Langkahku makin mantap seperti keteguhan hati yang baru kudapatkan dengan dukungannya, aku kembali ke Mal dekat sana, mencari makanan kucing dengan lincahnya. Si ko2 membantu memperhatikan di mana Chatty dan melindunginya dari kucing jahat yang seolah mau menyerangnya. Entah dengan alasan apa.
Tak tahu mana yang akan Chatty suka dan dengan usaha menghindari penolakan, aku membelikannya satu jenis makanan kering dan satunya lagi makanan kaleng yang basah. Kuharap sebagai kucing jalanan, ia tak meminta lebih dari itu. Si ko2 yang sempat bersahut-sahutan dengannya beberapa kali membantuku memberikan makanan pada Chatty. Dan sebagian makanan kering ke si kucing jahat. Setidaknya ada yang dimakan, ia akan diam. Demikianlah manusia menggunakan logikanya untuk memahami perilaku kucing jalanan. Chatty asyik makan dan berhenti mengeong (tentunya). Kami pun pergi dengan hati lebih lega karena setidaknya, kami telah cuma diam dan berlalu. Esoknya, tak ada lagi Chatty di sana, tidak hingga hari ini.
Nilai UAN 100
“Untung nilai UAN Kai-Kai ada yang 100.” Awalnya aku tak paham ada apa dengan nilai 100 untuk ujian nasional SMP. Ibuku menerangkan bahwa adik bungsuku itu ada ketakutan diejek cicinya jika tidak punya, Cici Mei-Mei, bukan aku. Rupanya di antara mereke berdua ada persaingan tersembunyi. Mungkin Mei-Mei merasa kurang yakin akan kemampuan adiknya dan Kai-Kai pun terpojok untuk membuktikan sebaliknya.
Seperti biasa, libur kenaikan kelas selalu terasa lama. Karena hitungan bulan. Karena keluargaku tidak biasa ke mana-mana. Terlebih mengingat bagaimana reaksi ayah kami kalau tahu kami jalan-jalan, yang bahkan hanya sekedar ke mal. Jalan-jalan tidak dekat dengan refreshing buat dia, lekatnya dengan buang-buang duit. Hal itu menjadi lebih ironis karena sehari-harinya yang ia lakukan adalah membakar uang dan mengganggu kesehatan istri serta anak-anaknya.
Sebagai hadiah ulang tahun rangkap nilai UAN nya ada yang 100, kuajak Kai-Kai dan mama ke Singapura tanggal 26-29 Juni. Dari waktu singkat itu, aku melihat adikku kini bukan lagi adik kecil manja yang nempel dengan cicinya. Mainannya sudah beda. Yang dicarinya kini olahraga, ia menikmati waktu bersama si ko2 (pacarku maksudnya) main laser tag, console game di timezone, bowling, dan belajar renang – juga dari si ko2. Bukannya aku tak mau. Aku juga ikutan. Tapi aku bukan jagoan. Mereka terlihat lebih selaras dalam permainan dan kegiatan. Hatiku tentram rasanya melihat demikian.
Hal lain yang kutahu tentang adikku dari SG short trip nya kali ini adalah kesukaannya akan benda laut. Aku mengajaknya untuk ke Arts Science Museum, mendatangi 3 exhibitions: Dreamworks, Deep Sea Creatures, dan pameran seni. Ia terlihat sangat terpana dengan Deep Sea exhibition, dibacanya dengan cermat rangkaian penjelasan yang ada. Aku dan ibuku, terkapar bosan dengan kaki pegal.
Gym class
Fasilitas perusahaan tempatku bekerja sebenarnya termasuk memadai, kami punya kantin, gym, dan clinic di kantor kami. Obat gratis dari klinik, tidak perlu bayar gym membership fee, sedangkan kantinnya...hmm...mungkin lebih baik tidak dikomentari.
Dengan alasan bertambah berat badan dan rasa penasaran, aku mencoba ikut gym class: kpop fitness. Karena kupikir kelas itu satu-satunya yang lebih ng-dance ketimbang kelas lain seperti Zumba, pilate, kickboxing, bla3. Salah paham yang terjadi. Gerakannya yang ada malahan lebih ke aerobic. Lompat-lompat melulu. Meski demikian, tetap banyak berkeringat dan aku berhasil ikut 7 dari 10 pertemuannya. 2 pertemuan pertama diikuti dengan kaki pegal-pegal selama beberapa hari. Sampai perlu kupijat sendiri otot-ototku dengan analgesic balm.
Setelah gym class berakhir, aku jadi ikut si ko2 pergi ng-gym...sampai hari ini! :) Ia sudah berpengalaman, jadi aku tak perlu repot-repot mencari manual. He is my personal gym instructor. Uhuy~ Apa hasilnya? Otot saya merana. Kaki saya menjerit setiap turun tangga. Tidak hanya hilang kekuatannya, tapi juga serasa hilang keberadaannya. Lemah tak berdaya. Dan kini, ia meningkatkan gym set nya dari dua kali menjadi tiga kali. Alamak.
My Godson Turns One
Ruangan masih belum terdekorasi sempurna. Aku dan ko2 membantu memompa balon. Yang membuat kue Xavier adalah ibu (nampaknya) satu orang anak – dan anaknya super anteng luar biasa. Ia bisa dengan tenang di baby stroller dan berinteraksi dengan orang-orang selagi ibu dan ayahnya repot menata kue. Luar biasa.
(Si ko2 menegaskan di caption foto ini “No...not our baby”. Tapi masih saja ada yang mengira itu anak kami. Bahkan menurut Cici Rai, Xavier lebih mirip si ko2 daripada papinya sendiri. Hahaha)
Di sana aku dikenalkan oleh Ko Li Chuang kepada ayahnya dan beberapa tetua dari keluarga papa. Aku tak begitu ingat siapa saja nama dan kedudukan mereka dalam silsilah keluarga kami karena sesungguhnya aku dan Ko Li Chuang pun sepupu jauh. Semua memberikan jawaban yang sama setelah aku dikenalkan, “Ohhh... anaknya Can Can.” (ya, itu nama ayahku)
Senang rasanya melihat Xavier bertumbuh, tetap lucu, dan tetap mau digendongku. Sejak pembaptisannya, aku mengunjunginya tiap tiga bulan sekali. Agustus lalu, ia sudah mulai bisa menolak (digendong), merengek dan terpana dengan gadget. Anak muda zaman sekarang.
Idola Baru: Captain America
Ia tampan. Awet muda. Ia gagah. Badannya bidang. Ototnya kekar. Senyumnya manis. He is a hot guy.
Tapi lebih lagi, tutur katanya sopan. Ia berprinsip. Berjiwa kepemimpinan. Berhati mulia. He is Captain America.
Jatuh hati ku dibuatnya di film Avengers: Age of Ultron. Film Captain America pertama kulewatkan karena terlalu banyak orang bilang itu Captain (L)America. Sebagai orang yang bukan movie-goer pada masa itu, aku tidak ada dorongan tersendiri untuk tahu jalan ceritanya. Namun film Avengers ini mencitrakan Captain sebagai sosok pria idaman para wanita. Salut kuberikan kepadanya. Kalau Ironman dicitrakan sebagai jagoan nyebelin yang tetap disukai banyak orang meski gayanya yang arogan, Captain adalah orang sederhana yang berhati tulus dan mementingkan banyak orang. Satu lagi, perangainya sungguh gentleman! Pantaslah ia diberikan gelar pria teladan #meleleh. Si ko2 sangat supportive dengan antusiasmeku terhadap si idola baru, ia menawarkan “Mau nonton Captain America, cintakuy?” yang kuangguk dengan anggukan mantap nan mesra. Selanjutnya aku dibuat gundah gulana karena bimbang memilih siapa nanti di film The Civil War. #FirstWorldProblem.
Tapi sekarang, aku bisa bilang, “Usahlah kau risau, Captain. Aku akan mendukungmu.”
Tulus ke SG
Dalam rangka Music Matters 2015 yang diadakan di Timbre. And...it’s everyone favourite: free. Bertha yang pertama kali memperkenalkanku dengan lagu Sepatu dari Tulus, dari situ aku mulai tahu beberapa lagunya yang lain. Karena lumayan asyik dan lagipula bebas biaya, aku pun terdorong untuk nonton. Sedangkan si pacar – yang introvert dan bukan concert person – ikut menemaniku. Meski ia hanya familiar dengan lagu Sepatu. Awww~
Ada sejumlah anak NUS (dan lainnya) yang kukenal datang juga. Dan dari situlah aku ngeh bahwa kami lebih sering bertemu kenalan NUS ku di public event ketimbang kenalannya. Tipe social circle kami berbeda. Mungkin dipengaruhi letak NUS dan NTU. Mungkin juga karena preference orang semata. Yang satu datang ke museum, konser musik atau festival. Yang satunya lebih memilih browsing atau main game.
Mungkin kau punya reaksi yang sama dengan temanku yang baru saja menikah awal bulan ini “Kog dia (yang introvert) bisa dapet lu (yang extrovert)?” atau teman kerjaku “How can he be introvert with you (who are extrovert) around.” Sejujurnya, aku belum merakit jawaban singkat-jelas-dan-padatku soal kenapa hal tersebut memungkinkan. Tapia da beberapa analogi sederhana yang bisa kubagikan sejenak.
1. Opposites attract. Sama dengan magnet. Kutub utara dan selatan Tarik menarik, kutub sejenis tolak menolak
2. Neither is better. Introvert dan extrovert beda tipe. Bukan tipe yang satu lebih baik dari yang lain. That’s how a puzzle works. One piece is not better than the other. But when they are together – one part is in, one part is out – they become better.
3. Finding someone like yourself may not be a good idea. A couple is a team. Same traits in one team might be redundant. Seperti halnya survival test, ketika kau memilih barang apa yang akan kau bawa atau sejumlah orang yang akan kau pilih. No redundant traits/function, isn’t it?
Intinya, “Buat gue sih ga akan ada deh dua orang yang bener-bener sama.” (Agus dalam film Jomblo) . “But like everything else in a long-term relationship, mutual respect, compromise, compassion, and empathy are essential.” (For more articlen on introvert and extrovert relationship. You may click here or here).
We Celebrate
Monthiversary. Some people might see it as something that a new overly attached couple do. Something cheesy. But that’s okay. Like what my ko2 said, we can’t stop people from what they think. Sadly, this is our society.
So, don’t be confused. You should know what and whose opinion matter. Who are having the relationship here, again? xD This year June is so special. I receive a gift on my wish list! A painted handmade shoes. Aaaaa~
My boyfriend is really a born artist. Natural talent sia. I was super excited when I saw it. I can find minions, McQueen “The Cars”, Groot Baymax, Toothless, and obviously...Stitch! He knows me best.
The flower bouquet he gives me also got significance. The date! Exactly what I usually do. Symbols and representation. Oh...oh...one more. I got a balloon!
I wear the shoes and I brought the flower bouquet complete with my big balloon the whole day. Until night. We went to Timbre for dinner. Roasted Duck pizza (his first time try this Timbre famous dish!), truffle fries, chicken wings, and of course...alcohol. xD my boyfriend knows how to pamper me...so well.
PS: Ladies, some of guys feel reluctant to give you balloon and flowers because they think you won’t really carry it. So, maybe, you can show them that you appreciate what they give, you are really happy and you’d like to feel like a princess. HAHAHA!
0 comments :
Post a Comment