Ini Loh Yang Tertunda

Libur Paskah di Indo (28 Mar – 5 April)
Selisih seminggu setelah aku dan Yanita menjenguk mamanya Bertha di RS Carolus, hari Minggu (5 April) kami datang ke Rumah Duka Carolus setelah mendapat kabar dari Bertha lewat whatsapp group kalau mamanya dipanggil Tuhan dini hari itu. Kami semua terguncang. Aku dan Raissa sempat bicara sebentar. Menyadari bahwa kami tidak hanya melihat anak Diderot yang pertama wisuda, yang pertama menikah, tapi juga anak Diderot yang pertama kehilangan orang tuanya, dan dalam hal ini: ibunya. Melihat Bertha yang tegar dan kuat, kami memikirkan apa jadinya jika kami yang di posisinya. Mampukah kami meng-handle itu semua? Dan aku, agaknya tidak siap.
---
Suatu hari gw minta tolong adek bungsu gw buat retsleting dress yang mau gw pake karena retsletingnya di belakang. Dia kemudian memberi komentar, “Makanya retsleting baju jangan di belakang...” yang kemudian disambungnya sendiri dengan “...tapi kalau di depan kayak celana ye.” Gw yang geli sendiri mendengar celotehannya bilang, “Makanya...susah tau, Kai. Jangankan hidup, nentuin retsleting taro mana juga susah.” Katanya “Jangankan hidup, game Kai-Kai juga jadi susah setelah di-update.”
“Nah, hidup kamu susah ga, Kai? Kalo ga, mungkin perlu di-update tuh.”
“Bener juga ye...”
Dan begitulah celotehan kami bermuara pada kata-kata yang (tidak begitu) bijak.
---
Selebihnya liburan gue di Indo berputar sekitar makanan, belanja di Carefour, potong rambut, bersihin karang gigi dan makan di Restoran Angke bareng keluarga. Hanya saja lebih sedikit jalan keluar rumah. Selain si ko2 tidak di Jakarta, gue pun semakin tua, temen2 juga, dan komitmen kami bertambah. Belum lagi kita pun secara alami jadi makin selektif untuk meluangkan waktu ketemu orang karena selain tidak merasa punya bahan pembicaraan yang memadai, kita makin ngerti bahwa waktu itu berharga dan harus dialokasikan buat orang-orang yang berarti. Punya banyak waktu luang untuk ngumpul-ngumpul kontan jadi makin sulit saja. Tapi kita tahu, keterikatan kita terhadap orang-orang tertentu akan tetap sama meski tak lagi sesering dulu bertemu. #12yearsoffriendship and still counting is a blessing.

Credit To My Web Developer (or Designer?)
Melalui postingan ini, gue mau berterima kasih secara khusus sama Stella Anjani, yang sudah rela meluangkan waktunya (dia mungkin akan protes dengan bilang “Ya elah, Ri, gue banyak waktu kosong juga. Kayak gue sibuk aje.”) buat menata tampilan blog gue yang sebelumnya berantakan. Secara gue agak sangat cupu soal programming, Stella membantu gue mempercantik blog gue. Ya, design template dan tampilan profile yang kalian sekarang liat ini ya dia yang urus. Gue ga ngerti apa-apa. Bahkan setelah selesai merampungkannya, ia sempat memberikan penjelasan:


PR Application
Setelah gagal majuin jadwal nyerahin dokumen yang diperlukan buat PR application, akhirnya tanggal 8 April gue ambil cuti setengah hari buat ke kantor ICA. For some unknown reason, things related to government always makes me anxious. I can’t keep calm. Just...can’t. Takut aja kalau ternyata ada salah apa, repot mesti urusnya lagi, and bla3. Apesnya, gue dapet counter yang diurus sama ibu-ibu ngaco. Udah ga ramah, tipe collect documents nya disebut satu-satu. Ga mau langsung terima semua dokumen. Parahnya, ada 2 yang dia kelewatan. Duh. Bagus gue notice dan highlight. Kalau ga, bisa-bisa gue yang dibilang ga submit lengkap.

Semoga semuanya lancar-lancar saja. Menurut informasi tertulis di struk antrian yang kudapatkan, rata-rata butuh empat sampai enam bulan untuk memproses aplikasinya. Jadi selama itu saya akan harap-harap cemas menanti surat dari kantor ICA. #duhkamuyangbikindegdegan

Xavier Mau 1 Tahun
Gue: “Anak umur satu tahun beliin apa ya buat kado ultah?”
Pacar: “Harusnya anak umur satu tahun yang ga kurang apa-apa, beliin apa ya?”
(start googling “What should I give for my rich one year old nephew?”)

Minggu depan godson gue satu-satunya bakal satu tahun. Gue sebenarnya ga inget kapan dia ulang tahun, ingetnya cuma bulan Mei. Memang udah di-plan bakal ada quarterly review mengingat kunjungan terakhir adalah bulan Febuary lalu. Suatu hari Minggu malam waktu gue dan pacar misa di Smota yang jam 7 malem, ga sengaja ketemu Xavier. Gue langsung happy dan tidak seperti biasanya, kami jadi duduk di baris paling belakang. Hehehe. Biasanya si pacar seneng duduk di baris depan, sedekat mungkin dengan altar kalau bisa. Gue duduk di sebelah ko2 sepupu gue yang mangku Xavier. Xavier is very cute! Somehow dia tertarik dengan cincin yang gue pake. Cincin bertuliskan Bapa Kami bahasa Spanyol yang dikasih pacar. Dan dari pertemuan yang tidak direncanakan itulah, ko2 sepupu gue bilang 17 Mei mau rayain ultah Xavier, jadi harap dikosongin. Yay :3 dengan senang hatii~

The Script Concert
Untuk pertama kalinya, pacar gue dateng ke konser musik artis. Buat gue sendiri, mungkin udah ketiga kalinya: NOAH, Kurt Hugo & Sam Tsui, dan Maliq (well, Maliq nya gratis si). Semuanya berawal dari wish list kami yang salah satunya adalah nonton konser. Target kami sih Maroon 5. Tapi apa daya, dari banyak artis yang tahun ini menggelar konser di Singapore (Backstreet Boys, Boyzone, One Direction, Katy Perry, Demi Lovato, etc), Maroon 5 ga ada di list. Suatu waktu si pacar bilang lagu-lagu The Script ternyata bagus-bagus (setelah gue ng-share lagu Superheroes). Lewat HP, gue coba liat available seat konsernya The Script, tapi somehow ga bisa milih, it’s auto generated based on the ticket category that we select. Ternyata...di hari yang random, gue lagi buka laptop dan buka websitenya, gue bisa milih seat. Jadilah gue beli sebagai new year gift :)

Konsernya sendiri digelar di hari Kartini (Selasa, 21 April 2015). Ya, gue juga wonder kenapa ga weekend or Jumat malem. But anyway...gue datang dengan harapan konsernya bisa lebih tertib dan ga ngaret dibanding konser NOAH secara ini Singapura. Tertibnya mungkin memang iya. Sepanjang apapun antriannya, ga ada yang masuk dorong-dorongan. Tapi ngaretnya...yang harusnya si band nongol setengah jam dari jam konser tertulis, jadi 1.5 jam karena layar besar yang berperan sebagai background itu cuma bisa kedip-kedip doank. Kami sampai lelah menunggu dan sempat tidur juga sebentar. Baru setelah 1 jam The Script nyanyi, si layar selesai ngambek dan berfungsi dengan baik. Personel The Script menjelaskan keterlambatan mereka, memerintahkan satu sama lain untuk menghabiskan sebotol bir secara langsung di atas panggung sebagai “hukuman” mereka membuat penonton menunggu, dan mengajak kami buat “give-finger-to-the-not-functioning-huge-screen” sembari meyakinkan kami bahwa kamilah (the audience, the band, and the interaction) yang lebih penting. The concert itself is super fun. Pacar bilang “Emang beda ya artis beneran sama artis kacangan (refer ke penyanyi pembuka). Mau gimana juga suaranya tetep bagus gitu.” Hahaha...you got that right, my sweetheart.

Vokalisnya masuk dengan diiringi orang-orang membawa bendera besar warna hijau neon menyala – konser dimulai dengan lagu “Paint The Town Green”. Kami melihat bagaimana teknologi kamera go pro digunakan di konser: si vokalis keliling stadium indoor, sembari memakai kamera itu untuk merekam jalannya, termasuk dengan para penonton. It’s cool. Ada juga usilnya mereka yang meminta penonton untuk menelpon mantan pacarnya, si vokalis kemudian mengajak bicara seorang mantan pacar dari penonton yang pertama kali berhasil menelpon dan menyerahkannya ke tangan si vokalis.And what’s next? He introduce himself with “I’m Danny from The Script bla3” then sing “Nothing”: She said nothing (nothing, nothing)...I got nothing (nothing, nothing). Well, dia bilang sampai akhir lagu, the person didn’t hang up the phone. I wonder whether it’s true or not... Hahaha xD

Kami terpaksa harus pulang sedikit lebih cepat demi menghindari antrian taxi karena sudah cukup larut dan besok perlu ke kantor. But it was a great experience! Thank you, The Script. Thank you, my dear. *ke konser bareng emang beda, apalagi sama pacar*

NB: salut sama pacar yang bisa tahan emosi setelah si bule di belakang kami 2x menumpahkan bir nya dan membuat bangkunya, bajunya, dan tas gue kena.

Prove Your Love: Respect!
One day, someone saw me using incognito tab for internet browsing. He then made a comment “Searching for porn, is it? That’s why you use incognito.” Not thinking too much, I replied my only intention “Nope, so it won’t take up the PC memory to keep the browsing history.” Now that I think about it, I should reply either one of these answers:
1. Are you telling me that you use incognito to watch porn?
2. Nope. I did watch before. I don’t watch now, especially I’m in a relationship. I respect my boyfriend: your brother! (haha)
3. (answer both #1 and #2)

0 comments :