Yang Katanya Evangelisasi
-izinkan saya untuk sedikit tidak baku dan kaku-
Kemarin ini ceritanya gue ke West Mal, mal kecil deket rumah yang actually not so bad. Ada bioskop Cathay di sana. Dengan tujuan beli frozen yoghurt Llao Llao buat terakhir kalinya sebelum masa prapaskah (=Lent), gue pun membawa satu cup froyo di tangan ke food court di atas. Emang dasar males bolak balik aja, jadi gue makan froyo nya dulu sebelum order makanan. Gue sendirian. Pacar lagi di Indo. Karena ga ada meja makan buat sendiri, gw meng-occupy meja dengan empat tempat duduk. Datenglah seorang tante-hampir-nenek ke meja gue dan nanya ada yang duduk ga di depan gue. Setelah gue bilang ga ada, dia kemudian meletakkan barang-barangnya dan pergi beli makan. Ga lama, dia duduk lagi dengan makanannya dan memulai pembicaraan dengan nanya apakah gue masih sekolah atau udah kerja, dulu kuliah di mana, udah berapa lama kerja. Terus dia kasih compliment dengan bilang gue masih keliatan muda. Terima kasih. Mungkin karena umur dan dia perempuan, jadi gue don’t mind ngladenin pertanyaannya dia. Sampai akhirnya dia bilang, “Why don’t you continue to study? I’m not saying full time study ya...but study to learn more...about our God, our creator.” Yeah, right. I see where it goes already. Maka dengan bermaksud menghentikan upaya lebih lanjutnya, gue ngomong dengan kalimat pendek dan tegas – berharap bisa tepat sasaran “I’m a Catholic already.” Jadi ga perlu susah-susah berusaha convert gue lagi. Tapi ga bisa. Dia bilang doesn’t matter Catholic ato apa, “...but do you read The Bible?” Mann...I understand kalo banyak Katolik diidentikkan dengan ga baca Bible sesering our lost brothers and sisters in Christ (di Gereja lain), but I don’t think the way you respond will lead to any good discussion. From that time, I’m pretty sure she is not a Catholic. She is a Protestant. Why? She emphasize the (only) most important thing is The Bible, she approached stranger and can freely talk about God, she didn’t show any happy expression after I said “I’m a Catholic” and never asked me “Where is your Church?” I’m pretty sure if she is a Catholic she will smile and said “Me too, where is your Church?” seperti yang biasa terjadi, salah satunya di HR Summit at Suntec last year. It’s just too obvious. Duh.
Setelah gue whatsapp pacar buat cerita apa yang barusan kejadian, sit ante-hampir-nenek ini melanjutkan omongannya. Menyebutkan beberapa Gereja Katolik yang dia tahu. Not bad. Dia tahu kalau St. Mary of The Angels ada di deket sana, tahu kalau Good Shepherd Catedral lagi dalam major renovation, dan gereja Katolik banyak yang udah tua, contoh lainnya Gereja St. Joseph di Bugis. So, I thought it was going to be better. But it wasn’t. Setelah itu dia bilang kalau “Actually I’m ok go to Catholic Church...but I cannot tahan to pray Hail Mary. Aiya, so long winded. Some more pray dunno how many time. Die lah.” Errr...again? Sorry, but...
Pertama, doa Salam Maria itu lebih pendek dari doa Bapa Kami. Dan memang ga ditulis di Bible dalam satu bab secara langsung kayak Bapa Kami, tapi tetep semuanya dari Bible. Ga harus doa Salam Maria aja, semua doa juga bakal terkesan long winded kalau yang ngucapin ga tau maknanya apa. Empty phrases.
Matthew 6:7 Revised Standard Version Catholic Edition (RSVCE)
7 “And in praying do not heap up empty phrases as the Gentiles do; for they think that they will be heard for their many words.
Lebih lagi, misconception yang dia punya terhadap bagaimana Katolik treat Mary makin memperkeruh suasana. Katanya di Bible ditulis buat doa Cuma ke God, directly to God. I tried to approach her in a subtle manner dengan nyebutin kan kita juga kadang suka minta doain orang tua kita. Kalo itu aja bisa dilakuin, apalagi Mary yang lebih deket sama Yesus, yang dipilih Allah buat jadi our God’s mother. She said “It’s different. Our parents is still alive. Mary is already up there.” Wadeheck. Eh, Our God is also already up there leh. Then how? But anyway...kalau mau dilanjutin lagi, soal siapa bisa doain siapa, ga akan bisa ketemu. Karena Protestant ga punya kitab Deuterokanonika. Konsep mereka yang uda “meninggal” ga bisa doain yang di dunia. Dan kenapa gue kasih tanda kutip, karena menurut kepercayaan Katolik, Maria itu diangkat ke Surga. Which again, kalau dilanjutin lagi itu pembicaraan, ga akan ketemu titik tengahnya. Pondasinya udah beda.
Dia sempet argue kalau gitu kenapa ga minta sama St. Peter ato St. Joseph? Too bad, man.. Jawaban gue “Of course can. We can always say ‘St Peter, pray for us’, any Saints also can. We never worship Mary. We pray to God. We ask Mary to pray for us, together with us.” Karena ga expect jawaban itu, dia ngasih muka asem dan bilang we pray only to God. Err...halo, that’s what I just said. Ga ada yang pernah bilang kalo kita bisa minta St. Peter or St. Joseph doain juga ya? Haha. Oh, wells... Actually it’s not the first time I encounter such thing. Sebelumnya malah di MRT station, ngomongin yang lebih absurd. Soal angka 666 dan siapa yang punya. Katanya di dunia cuma ada satu, dan itu dimilikin sama Pope -__________-“ Pas di rumah, gue nyeritain tentang si tante-hampir-nenek di whatsapp group family. Ngingetin ke adek pentingnya punya pacar (=calon suami) yang seagama. Bisa ke gereja bareng, ga perlu argue soal faith, uda jelas anaknya mau dididik dengan agama apa, de-el-el. Karena cukup cicinya yang meski sekolah 14 tahun di sekolah Katolik tetep sempet gelagapan dan frustrasi ngadepin challenge dari mantan pacarnya. Mungkin ini bukan pertama kali gue omongin, tapi rasanya pertama kali gue dokumentasiin di blog. Seperti apa yang pacar gue sekarang bisa bilang juga “Jangan mengulangi kesalahan cicinya, ntar sedih.” Yup. It’s such a blessing bisa punya pacar yang seagama. Ke gereja ga perlu sendiri, that feeling ketika sign of peace dan orang pertama yang lu salamin adalah your other half, ngerti soal practice and faith karena you both have a same faith and it’s under Catholic Church, bisa saling meneguhkan satu sama lain selama pantang dan puasa – apalagi kalau pantangnya sama. It’s awesome. Dan ketika lu punya anak, lu ga usah khawatir akan kerinduan untuk sekeluarga ke Gereja bareng karena (kalau lu menjalankan agama lu dengan baik) tiap Minggu lu akan ke Gereja bareng, sekeluarga. Malem sebelum tidur lu bisa doa dan baca Alkitab bareng juga. Those things yang gue missed out pas kecil dan gue harapkan bisa ada di keluarga gue...dan juga adik-adik gue. Satu lagi, ga perlu takut ketika lu meninggal, ga ada yang tahu harus doain lu dengan cara apa.
(and in this case...is specific to a certain criteria)
0 comments :
Post a Comment