Life Is...

"Life is what happens while you are busy making other plans." - John Lennon
"Life is like riding a bicycle. To keep your balance, you must keep moving.” ― Albert Einstein
"Life is a gamble. Think fast, decide fast, gamble fast." – Yap Lin Kiat
For me? Life is a time game.

Dalam hitungan kurang dari 1x24 jam (malah lebih lagi, kurang dari 1x12 jam), aku akan pergi ke Hongkong. Jadwal liburan yang sudah terencana bahkan mungkin sebelum aku merencanakan ke Lombok. Masih dengan tim proses module-ku yang dahulu – yang notabene masih muda dan belum berkeluarga, sedangkan di tim training-ku yang sekarang, aku dan satu orang lainnya jadi minoritas sebagai yang masih single. Dan yang kumaksudkan di sini adalah keduanya, single sebagai status belum menikah maupun tidak ada gandengan. Beberapa perubahan mengambil tempat dalam kurun waktu selama aku tinggalkan blog-ku. Beberapa cukup krusial hingga menjadi alasan bagiku untuk tidak menulis. Beberapa tidak cukup berperan hingga jadi alasan kenapa ia tidak kutuliskan.

Dann...beberapa postingan terakhirku agaknya menjadi lampion penuntun jalan soal di mana dan akan ke mana sebenarnya kondisi pemikiranku ini. Semuanya menjadi perwujudan nyata. Manifestasinya riil. Keputusan mengambil alih dan begitu saja konsekuensi mengikuti. Tidak akan pernah ada keadaan yang terus menerus baik-baik saja. Peribahasa Indonesia bilang roda itu berputar, ada kalanya di atas, ada kalanya di bawah, sama seperti hidup, dan kutambahkan: itu yang membuatnya berfungsi. Lagipula, bukankah benar adanya bahwa “It takes both sunshine and rain to make a rainbow.”?

So, yup, life is a time game.
Sedikit saja perhitungan waktu meleset, bisa saja ia akan membawa kita ke ujung jalan yang jauh berbeda.

Aku mendapati diriku teringat akan apa kata ibuku. Seandainya saja orang yang pertama kusuka – AiR adalah nama yang kuberikan padanya – bilang kalau ia juga menyukaiku, aku akan meninggalkan (siapa saja) pacarku dengan sukarela. Namun untuk kali itu, aku tidak setuju. Bertahun aku berada di bayang-bayang perasaanku yang terpendam sendiri. Perlahan menurunkan kadar konsentrasinya sedikit demi sedikit. Sedemikian lama sehingga orang lain pun ragu apakah sudah netral betul. Tapi untuk kali ini, aku yakin dengan diriku sendiri. Bahwa waktu yang kualokasikan untuk masa itu sudah habis masa berlaku. Bahwa apa yang kupunya dulu sudah sirna sejadinya.

Lewat perkataan teman kantorku, Daniel, aku diingatkan bahwa hidup itu kadang cuma sekedar permainan waktu. Sekedar menyeleksi siapa yang bisa bertahan saja, bukan semata-mata adu kapasitas dan kapabilitas. Kala itu seorang teman kantorku yang lain mengusung pembicaraan soal seorang pria yang berusaha mendekati seorang wanita, mereka kerja di satu perusahaan, namun tidak ada lanjutannya. Ditambahkan, menurutnya wanita ini memang menetapkan criteria ideal bagi seorang pendamping hidupnya cukup tinggi, menjelaskan sedikit banyak kenyataan ia masih sendiri di usianya yang menjelang kepala tiga. Lantas Daniel berujar santai “It’s just a matter of timing lah...like a time game. If you stay a little bit longer, you might win. That’s all.”

Sekali lagi, aku tak yakin ada orang lain yang terlibat dalam diskusi itu sungguh memikirkan (secara berlebihan) akan makna kalimatnya. Jika itu belum seberapa, sesungguhnya aku ada menanyakan sekali lagi soal apa makna kalimat yang Daniel ucapkan itu. Mungkin saja, aku acap kali tertarik, terusik, dan tertawa akan hal-hal yang pada umumnya tidak begitu digubris oleh orang lain. Pencilan. Karena tanpa kusadari, pemikiran itu masih mondar-mandir di kepala tersangkut dan tersambung lagi dengan topik pembicaraan yang terjadi beberapa hari sesudahnya.

Barangkali aku bukan benar-benar seorang pemain game, jadi sangatlah masuk akal seandainya analogi yang kupakai tidak begitu tepat sasaran. Tapi soal “time game” ini membawaku ke masa di mana aku masih main Play Station, mungkin saat aku SMP (atau bahkan SD?). Di setiap genre game yang disebut adventure , akan ada level tertentu yang diperlakukan lebih istimewa dan muncul setiap sejumlah level-level biasa, beberapa orang menyebutnya “lawan bos gede”. Dan karena level ini tidak biasa, chance seseorang untuk gagal melewatinya kontan relatif jadi lebih tinggi dibanding level yang lain. Again, life is a time game. Level bos gede ini ibarat moment-moment utama dalam hidup di mana ketika kita berhasil melewatinya, secara tak tertulis ia bertransformasi menjadi momentum hidup. Penanda bahwa kita sudah berangkat dari fase yang satu ke fase yang lainnya, yang lebih tinggi lagi, yang lebih luas lagi. Kelulusan misalnya, karena level-level yang biasa lainnya cuma disebut “naik kelas” dan bukan “lulus”. Naik kelas tidak membuat seragam seorang murid laki-laki yang tadinya celana pendek warna merah atau biru jadi celana panjang abu-abu. Tapi kelulusan membuat itu terjadi. Naik tingkat/semester tidak membut kita harus susah payah bikin skripsi sampai pagi. Tapi kelulusan harus terjadi dengan itu supaya bisa afdol. Lulus kuliah buat mahasiswa luar negeri itu membuat “tinggal di luar kampus” dari yang tadinya “apes karena ga dapet akomodasi” jadi “emang udah waktunya, mau ga mau tinggal di luar”. Contoh momentum berikutnya tentu bisa kau pikirkan dan sebutkan sendiri.

Beberapa level boss gede ini mungkin sebenarnya tidak sedemikian sulitnya. Tapi kita harus tahu, sedikit banyak itu karena kita sudah dilatih di beberapa level biasa sebelumnya. Dan setelah kita menjalani beberapa level boss gede, kita akan sadar bahwa kebanyakan sebenarnya bukan suatu hal yang mengejutkan. Banyak hal sudah terencana atau setidaknya kita tahu itu akan terjadi. Kita tahu suatu saat kita perlu lulus, perlu kerja, perlu nikah. Tidak ada kejadian di mana malam ini seseorang tertidur dan esok ia sudah bangun di seminari dan hidup selibat. Hidup sesungguhnya mayoritas adalah akumulatif dari pilihan dan sejumput takdir, mereka yang membawa kita ke titik sekarang, dan akan di mana kita nanti di masa depan, kembalilah ke premis awal.

Tidak bisa dipungkiri bahwa tak-tik dan skill mempengaruhi penentuan gugur tidaknya seseorang di sebuah level, tapi yang kita seringkali abaikan, pengalaman juga merupakan faktor yang lainnya. Dan pengalaman itu menyita waktu. Selama orang itu bertahan, selama itu juga pengalaman yang ia dapatkan, sebanyak itu keterampilan yang ia peroleh, dan sebanyak itu latihan yang ia jalani. Maka, kadang, seseorang yang berhasil mengalahkan si boss gede itu mungkin bukan orang yang benar-benar punya skill. Kadang, yang dibutuhkan cuma seseorang yang punya tekad, mau bertahan, dan mengatakan pada dirinya “Sedikit lagi...coba lagi...” Dan kadang, seberapa lama waktu yang kita alokasikan untuk bertahan menjadi indikasi seberapa besar kita menginginkan hal tersebut.

“If you love something you can never let it go. Not even for a second or it's gone forever. ” — Ted



Ada kalanya waktu, hal yang tidak kembali itu, menyebabkan kita kehilangan banyak hal
Kehilangan kesempatan, kehilangan kepercayaan, kehilangan keberanian
Dan kemampuan untuk bertahan
Ada kalanya waktu, hal yang berharga itu, menjadi penanda akan masa-masa yang ingin dikenang
Masa di mana kita berjaya, masa di mana kita bahagia, masa di mana kita bersama
Dan keinginan untuk tetap di sana
Ada kalanya waktu, hal yang menjadi penentu itu
Membuat pernyataan beku dan membisu
Sebab katanya semuanya sudah terlambat
Sebab katanya andai saja lebih awal kau bicara
Sebab katanya mungkin seharusnya tidak begini jadinya
Ada kalanya waktu, hal yang menjadi penunjuk itu
Membedakan manusia yang satu dan lainnya mengenai keteguhan
Mengenai keyakinan, mengenai mimpi dan angan
Hanya saja yang kita, manusia, butuhkan adalah keseimbangan antara mimpi dan realita
Ada kalanya waktu, harus bicara padaku
Menyodorkan pilihan yang menunggu
Dengan caranya sendiri
Bahwa aku harus kembali
Entah melepaskan atau mengejar dan meraih mimpi

1 comments :

Anonymous said...

Teruslah berenang, hai ikan kecil :')