(Not So) Simple Random Things

Secara singkat, hal-hal kecil dan acak yang bermunculan di media maupun lewat diskusi atau obrolan yang seharusnya disampaikan dengan ringan rupanya menjejakkan rekam yang cukup kental dalam kepalaku. Ia merengek akan pemikiran yang lebih dalam. Ia menggali rasa ingin tahu dan introspeksi diri. Maka diriku yang baru tak lama sembuh dari sakit sepulang perjalanan 2 hari semalam ke Batam itu terpaksa menjejali diri sendiri dengan lautan emosi yang tak bisa terbendung juga. Dan seperti yang pernah kukatakan sebelumnya, lawan kita adalah waktu, waktu yang berjalan lebih cepat dari yang kita sadari...

Baru kemarin rasanya para caleg wara-wiri kampanye dengan beragam cara inovatif mereka. Sekarang sudah keluar hasilnya, pernyataan politik secara formal sudah dikumandangkan, komentar berdatangan. Media tidak tinggal diam. Mereka menanggapi. Mereka mengomentari orang-orang, mengkritik hasil pesta demokrasi. Masyarakat kecewa, rakyat sedih, bangsa bahagia. Yang kumaksudkan hanyalah bahwa ada banyak perasaan berbeda yang ditangkap tiap-tiap orang. Beberapa orang yang kukenal dan turut berpartisipasi mau memajukan negara dengan jadi caleg, rupanya belum beruntung di putaran ini. Meski demikian "kampanye putih" dan "salam Indonesia Raya" tentu belum surut perjuangannya. Selain itu, ada juga orang yang baru kukenal dalam acara diskusi panel dan kerap bilang ke media mengenai nominal uang yang dikeluarkannya secara gamblang dan terang-terangan karena prinsipnya adalah "jujur saja".

Selanjutnya sekarang ini masanya beralih kepada pemilu presiden. Artikel, video, atau media lainnya yang berguna sebagai sarana kampanye mulai berseliweran. Yang pro Jokowi bilang jangan pilih Prabowo karena urusan hutang, kasus pelanggaran HAM, dan kekhawatiran nanti tidak ada ibu negara. Yang pro Prabowo bilang jangan pilih Jokowi karena ia cuma capres wayang, mencla-mencle, dan tidak bisa memenuhi janji politiknya ke kota Jakarta.

Yang menarik selain politik, setelah sekian banyak film yang diplagiat oleh sinetron Indonesia, sekarang ini sedang panas-panasnya sinetron "Kau Yang Berasal Dari Bintang" yang dipercaya (dan ternyata tak lain) adalah jiplakan sebuah film Korea. Baiklah, sesungguhnya, kalau dipikir-pikir, siapa juga orang Indonesia yang tak tahu kalau sinetron Indonesia itu biasa berkutat hanya pada mertua/orang tua tiri galak, anak tertukar, rebutan harta warisan, dannn...sedikit banyak hasil plagiat film seri negara lain.

And if you really think about it... Sampai paragraf ini, lebih banyak hal negatif yang diumbar. Persis seperti yang dikatakan pastur parokiku (St. Mary of The Angels): tendensi orang lebih kepada bercerita akan hal-hal yang buruk, akan gosip, akan kabar buruk. Bukti nyata dari hal tersebut nampak jelas dalam bacaan Injil tentang Yesus menampakkan diri kepada murid-Nya di Emaus. Selain fakta bahwa mereka tidak bisa mengenali wujud Kristus yang baru karena apa yang mereka harapkan dan ekspektasikan sudah mati, hal lain yang tidak pernah aku sadari dan pertanyakan sebelumnya adalah fakta bahwa yang mereka nyatakan pertama-tama adalah soal kabar kematian. Soal Yesus yang wafat dengan cara hina - di kayu salib - padahal diharapkan untuk datang sebagai Mesias, menyelamatkan mereka. Kenapa? "Because good news don't sell."

Treat People Like They're Dyeing
Video Youtube dari Niga Higa ini mengangkat realita bahwa sekarang ini lebih banyak orang bicara soal sisi negatif orang lain. Kata-kata kasar terlontar dari mulut orang-orang seolah hal yang biasa. Kenyataannya kata-kata seperti "perlakukan orang lain seperti kau mau orang lain memperlakukanmu" menjadi sebuah kalimat yang klise dan tak bermakna lagi. Percayalah, Niga Higa tidak hanya bisa membuat video konyol yang membuat orang tertawa terpingkal, tapi juga video melankolis penuh makna dan inspiratif seperti video Draw My Life ini misalnya. Sejenis dengan - tapi lebih atas daripada - Raditya Dika. Orang mungkin berpikir Raditya dibayar dengan melakukan hal-hal konyol dan menulis hal-hal random, but if you really think about it...he actually brings smile and joy and laughter to a lot of people. Kembali ke Niga Higa, ia menyatakan pandangannya secara terang benderang bahwa andai saja kita bisa bersikap terhadap seseorang seolah mereka sekarat, keadaan akan menjadi lebih baik. Kesantunan, tata krama, etika pergaulan perlahan akan kembali muncul ke tempatnya, ke mana seharusnya ia berada dan berfungsi. Kedamaian, ketentraman serta kehangatan yang muncul dari rasa persaudaraan menjadi hasilnya. Bukan hanya itu, "...when people realize they're dyeing a lot of times that's when people live life to the fullest." Sad to say, but that's the fact. Oleh karenanya kata-kata Fr. Richards soal "Live your life as if today is your last day of life." sungguh benar adanya.

Baru dalam kurun waktu 1x24 jam, aku menemui contoh nyata dari video yang kutonton tanggal 4 Mei kemarin ini. Pasalnya, Michael melihat seorang bapak tua - yang dideskripsikannya - dengan sangat bodohnya membersihkan meja kantin yang masih ada orang makan di situ. Orang-orang jadi perlu mengangkat piring makannya katanya. Bapak tua itu memang petugas kantin. Saat itu waktu hampir pukul delapan malam; barang satu jam lagi kantin akan tutup. Sekejap pikiranku teringat akan video "Treat People Like They're Dyeing". Kenapa harus ada kata-kata kasar seperti itu kepada seorang tua seperti itu? Michael merasa ia hanya menyampaikan apa yang ia rasakan. Sekali lagi kukatakan, aku paham, tapi kata-kata kasar seperti itu agaknya tidak perlu.

If you really think about it... Kita tidak tahu apa alasan orang itu menjalani pekerjaannya dengan demikian. Mungkin ia mau pulang tepat waktu, maka ia menyicil pekerjaannya. Mungkin karena faktor usia juga ia jadi tidak bisa berpikir dengan jernih. Mungkin ini dan mungkin itu. Kutambahkan, "There is a reason why you are here and why he is there." Kalau memang si bapak itu pintar dan berbakat mungkin, tidak pasti, mungkin saja ia tidak perlu jadi tukang bersih-bersih di kantin hostel universitas di masa tuanya. Kamu seharusnya bersyukur. Kita seharusnya bersyukur. Kita punya lebih banyak kesempatan. Yang harus kalian tahu, yang bicara seperti ini adalah seorang yang dulunya seringkali atau hampir selalu memandang segala sesuatunya secara negatif. Beberapa orang terdekatku bahkan memberi masukan bahwa aku harus mengurasi sifat neting (negative thinking)-ku. Aku, seorang yang lekat dengan pandangan sinis akan hal-hal yang seharusnya bisa ditanggapi secara optimis. Percaya atau tidak, terdengar klise atau tidak, apa yang kau rasakan di dalam hati sedikit banyak terpengaruh oleh apa yang ada di kepalamu, dan apa yang ada di kepalamu itu lebih banyak lagi dikendalikan oleh bagaimana kau memandang dunia. Apa sulitnya untuk memberikan lebih banyak senyuman? It wouldn't do any harm, right? Lebih lanjutnya mungkin bisa kita tanyakan kepada diri kita masing-masing: Kenapa begitu sulit bersikap ramah kepada orang lain? Kenapa tanggapanku dengan kata-kata yang kususun semauku, yang kuyakini adalah bentuk dari ekspresi diri, lebih penting daripada menjaga isi hati yang bersih?

Seingatku ibuku mengajarkanku untuk bertutur kata santun
Sepahamku di sekolah, aku dididik pendidikan moral yang baik
Seimanku, Tuhanku mengajarkan ilmu paling dasar yaitu cinta kasih
Lalu ke mana perginya mereka?


Note to myself: saatnya mengurangi kata "damn it", meskipun itu bukan ditujukan bagi orang lain, tapi tidak enak didengar juga. Thanks for the reminder, Michael :)

If you really think about it... Tahun ini, tiga bulan lagi, aku akan berumur 23 tahun. Sekejap pernyataan bernada ngasalku ke Tommy bahwa selama 22 (hampir 23) tahun aku tidak pernah bikin mie goreng di cup, menjadi pernyataan yang membuat diriku tertegun sendiri. DUA PULUH TIGA TAHUN. Dua tahun lagi aku sudah bisa bilang kalau aku merayakan ulang tahun perakku: seperempat abad lamanya aku hidup. Sekali lagi, pemikiran itu membawaku pergi lebih jauh lagi kepada hal yang pernah kutetapkan pada diriku sendiri. Ke mana rencana dan angan-angan untuk punya buku sebelum umur 25? Temanku yang satu ambil master di USA, seniorku yang satu akan ambil MBA, orang-orang yang kukenal dan teman-teman di SMA jadi Miss di sana-sini, sahabat geng-ku empat bulan mendatang akan nikah! Alamak. Ingin rasanya aku menegur, "My achievement, how are you?" Ji bilang, orang biasanya kalau bukan pusing mikirin kerjaan, pusing mikirin relationship (I translate it as a love/romantic relationship) atau finance. Kukatakan padanya tidak demikian denganku, aku bahagia dan bersyukur akan relationship yang aku miliki, yang Tuhan anugerahkan bagiku. Dan soal finance, agaknya sampai sekarang aku tidak begitu ambil pusing perihal tersebut. Aku sekarang ini lebih berkutat dengan diriku sendiri. Soal pernyataan-pernyataan terkait seputar keadaan ini. Winston pernah bilang, "Orang kayak gitu (refer to one of my seniors) keliatan bisa sukses. Karena dia tahu apa yang ia mau capai, karena dia udah punya plan gimana untuk mencapai itu." And I'm still stuck here. Keep thinking and thinking. Meratapi nasib dan berkutat dengan pikiran sendiri tanpa henti. Tidak maju-maju. Ibarat kuda, jangan tanya kenapa analoginya harus kuda, aku belum punya pecut yang bisa membuatku untuk bergerak. So, guys, have you ever thought of what you want to achieve in your life? And if God ask you: 'If you need to mention what makes you different from other people, what will your answer be?' If you don't know, you might want to start to think about it.

Aku percaya bahwa manusia perlu waktu untuk menarik dirinya, memeriksa batinnya, melihat ke belakang soal hidupnya, dan jujur pada dirinya sendiri untuk menjawab pertanyaan yang menyangkut isi hatinya dan hal-hal majoritas yang ia lakukan. Aku sendiri merasa perlu untuk menyusun jawaban yang jujur dan pantas guna memuaskan pertanyaan orang menyangkut pekerjaanku yang baru. Belum kutemukan keseluruhannya, tapi kau tahu, perlahan aku mulai bisa menghargai pekerjaanku yang sekarang. Aku bertemu dengan orang baru dan membawanya berkembang. Aku lebih banyak berinteraksi dengan manusia, mahkluk hidup, yang tidak cuma punya kepala tapi juga punya hati.

Yang menarik adalah mendapati bahwa manusia punya kapasitas terbatas untuk mengenang masa-masa penuh kenangan di hidup mereka. Keisenganku mengoprek timeline pribadi, membaca status dan komentar yang pernah ada, foto-foto, semuanya, kembali mengetuk laci ingatanku. Ada senyum itu, ada rasa terharu, ada cerita dan ada nostalgia. Yang menarik adalah mendapati bahwa media yang kita pakai sebagai bahan dokumentasi - baik disengaja maupun tidak - akan serta merta membawa pikiran kita melayang ke lamunan di masa lalu. Yang juga menarik adalah orang yang berkembang sesungguhnya adalah orang yang bisa belajar dari apa yang ia alami, yang meresapi apa yang terjadi dalam hidupnya dan tidak sekedar memandangnya sebagai angin lalu begitu saja. Yang lebih menarik lagi adalah membuat diri kita sadar, percaya, diingatkan sekali lagi bahwa kapasitas manusia yang terbatas secara tidak langsung menyeleksi apa yang mau dan perlu mereka simpan baik-baik. Lantas pertanyaan sampingan lainnya adalah seberapa banyak hal yang kau lakukan yang diingat orang? Tidakkah kau mau hal-hal yang diingat mereka adalah hal baik?

Belum berhenti di situ, pertanyaan Michael lainnya juga menstimulasiku untuk berpikir lebih lanjut: "Do you want - some day, one day - stop working for other people?" dan "What's your opinion about someone who works just for the sake of money?" Untuk pertanyaan pertama, jawabanku untuknya adalah kurasa tidak. Aku tidak bisa menerima gagasan akan pemberhentian rasa keterikatan akan suatu komunitas. Di kepalaku aku mungkin saja kemudian berada dalam posisi tertentu dengan beberapa orang bekerja di bawahku, tapi untuk punya sekedar bisnis sederhana yang kuurus sendiri, agaknya aku tak menginginkannya. Aku butuh komunitas. Aku butuh perasaan menjadi bagian dari sebuah hal yang besar.

Untuk pertanyaan kedua, aku merasa biasa saja. Kupandang itu sebagai suatu hal yang biasa. Maksudku, sungguh, banyak orang tidak bisa memenuhi idealisme masyarakat kita. Ya, orang mudah saja bilang bekerja (dan belajar, sebelumnya) seharusnya mengikuti minat kita. Follow your passion. Kamu harus bekerja dengan bahagia. Jika pekerjaanmu tidak membawa kebahagiaan, maka berhentilah bekerja. Baiklah, kutanyakan sekarang, berapa orang yang beruntung - dan dengan usaha serta kerja kerasnya - bisa demikian? Sedikit tentu saja. Kita harus mengerti bahwa tidak semua hal yang kita inginkan, citakan, harapkan dapat tercapai dalam hidup ini. Ambil contoh seorang ibu yang bekerja dengan penghasilan mencukupi di sebuah perusahaan. Sebenarnya ia tidak tahu apa yang ia lakukan, sebenarnya ia tidak merasa berkembang, ia tidak begitu menjiwai apa yang ia lakukan. Ia suka membuat kue. Tapi ia tidak mungkin begitu saja berhenti dari pekerjaan tetapnya karena salah-salah, hal itu bisa membuat anaknya berhenti sekolah (atau jika tidak separah itu, tidak bisa bersekolah di sekolah idamannya). Maka demikianlah, mimpi manusia bertubrukan dengan cinta mereka kepada sesamanya. Dan kadang, manusia harus mengorbankan dirinya, harus menomorsekiankan yang ia kehendaki. Sebab semuanya kemudian kembali kepada pertanyaan dasar: "What do you really want?" bersama persamaan penegasnya "Is it really what I want?" Ajaibnya, sifat dasar manusia sebagai makhluk sosial dan humanistik kemudian menyebabkan dua pertanyaan itu menjadi tidak inklusif ditujukan terhadap diri sendiri saja, tapi juga dalam kaitan serta pemikirannya terhadap orang lain.

And you can talk...
And keep talking...
Only if you really think about it...
Really think about it...


It's 2.30am in the morning now. I've stated that I will sleep by 3am. I keep my words. So, yup...please don't tell me that I think too much. Please don't tell me that what's inside my head is wayyy too complicated and too much for a small girl like me. Because since the beginning, you will draw a wrong conclusion if you judge me by my appearance. I'm more than what you think. Same thing applies to you, I believe. And you know what? Cogito ergo sum.

Good nite!

0 comments :