Rumah Pohon
Dulu kalau bukan rumah ber-attick,
ingin rasanya punya rumah pohon cantik.
Disimpanlah harapan itu di laci kayu
supaya dekat dengan materi yang membantu
Dimulanya dari benih pohon yang mungkin tak terbaik
Tapi diusahakan agar bisa tumbuh lebih apik
Dengan tajamnya alat, tanah sekitar digemburkan
Dengan banjir keringat, diairilah si tanaman
Demi masa depan. Demi masa depan
Hanya saja tidak pernah cukup, maka tidak ada henti
Meski tetangga bilang bagus, tetap saja hati mendengus
Yang datang menghias kupu-kupu dari seberang, bukan taman sendiri
Ah sulit sekali
Yang pasti pohon itu tetap tumbuh teratur, tidak pernah tertinggal
Menjadi contoh buat yang lain diharapkan
Tanpa keluhan maupun bantahan
Kini tahun sudah puluhan, ia berdaun lebat sangat indah
Akarnya kuat mencengkram tanah
Rantingnya tegar dan besar-besar
Dipercaya burung-burung kecil bertengger
Yang menemaninya dengan kicauan merdu
Sebagai rasa terima kasih atau bentuk apresiasi
Meski bukan itu yang ia cari
Dan ia tetap berdiri kokoh pada pijakannya
Menantang mentari yang datang di kala pagi
Lalu hilang di waktu petang
Dan ia tetap tersenyum kepada dunia
Terlepas dari apa yang tersembunyi di hati
Atau di kepala ia berkumandang dan terngiang
Kepada yang meminta, ia memberinya, bahkan mungkin lebih
Kepada yang sayang, ia mencinta bukan kepalang
Kepada yang membenci, ia sakit hati lalu membuktikan diri
Bagiku, ia tak pernah mati
Walau dalamnya rapuh dan keropos
Kendati sakit di dalam menggerogoti
Biar sedih meliputi dan pilu beku
Ia pun tahu, dirinya sanggup melewati
Karena untuk itulah ia ada di sini
Kegunaannya menjadi tempat bergantung
Tempat yang ditinggikan
Tempat naungan
Untuk semua orang
Kecuali dirinya sendiri
Untuk itulah ia hidup
Maka ia harus sanggup
Pasti sanggup
0 comments :
Post a Comment