Terbuktilah Sudah
Dengan aku kembali menulis di blog ini, sedikit banyak aku menjadi bukti nyata dari perkataan seorang Putu Wijaya, "...mungkin kamu sudah terlalu bahagia, makanya jarang menulis lagi." Mungkin karena penulis adalah seorang ideal yang merasa keadaan sekitarnya selalu ada saja yang bisa dikomentari, mungkin karena penulis adalah seorang pemikir yang tak bisa diam sampai aspirasinya dikenali, mungkin. Tapi mungkin juga tidak. Mungkin karena aku adalah orang Melayu juga yang kata Andrea Hirata memang punya budaya berkisah. Jadi ketika rasa senang, lebih memilih untuk membagi cerita, tetap lewat kata-kata, namun secara langsung dan personal barang kali. Mungkin juga karena itu aku saja. Yang tidak tahu mana waktu dan selalu menemukan alasan atas apa yang aku kerjakan. Yang sekarang meski sudah banyak yang berdemo minta perhatian, aku tetap membiarkan diriku menulis hal tidak jelas yang lewat di kepala. Biasanya aku akan memulai dengan kata "daripada". Kemudian dilanjutkan dengan "...nanti ga konsen pas ngerjain, mendingan bla3" di mana bla3 dapat diganti apa saja sesuai situasi, kondisi, serta suasana hati.
Tapi sungguh,
rasanya ingin sekali bermain gelembung sabun
melihat mereka pergi ke angkasa dengan kilap di permukaannya
atau memburu mereka, menyentuhnya, membiarkannya bergerak sebentar lalu
*blup* pecahlah ia menjadi tetes sabun membasahi tanah
rasanya ingin sekali merebahkan diri di hamparan rumput hijau
di bawah kelip bintang, dimanjakan sepoi angin malam
dihangatkan oleh gelak tawa dan canda
---
Putu Wijaya pernah bilang begini secara garis besar...
"Jangan berhenti menulis ketika kamu sudah merasa buntu, karena tulisan itu tidak akan pernah selesai. Berhentilah menulis ketika kamu sedang sangat ingin menulis karena tulisan itu akan memanggilmu kembali."
dan kesalahan terjadi
dan aku tak bisa melanjutkan apa yang terakhir kutulis itu
dan yang kumiringkan di atas itu
"selesai"lah sudah
:(
0 comments :
Post a Comment