Akan Sering-Sering
Nikmatilah masa SMA. jangan ada keluh kesah di sana atau anggap tidak berguna karena pelajaran satu dua yang kau sebut akan sia-sia jadinya. telah kualami dan kulewatkan. Tiada lagi rasa nyaman bercengkrama dengan sahabat kental. Sama-sama duduk di bawah melingkar mnyalami dengan tawa serta canda. Lenyap sudah kehangatan bak keluarga juga rasa senasib sepenanggungan. Ingatlah, akan jadi sulit menemukan orang yang benar-benar mempedulikan keadaannmu layaknya saudara, menyadari eksistensimu dan menghargainya. Yang ada cuma individualisme dan tembok ego berlapis baja, tangguh, kokoh, sampai sulit diterobos karena persaingan penuh ancaman.
Tak seorang pun tahu siapa lawan siapa kawan.
Maka, jangan tumpukan kepercayaan pada sesiapapun.
Penudinganku berharap tak beralasan! Tiada dasar fundamental!
ya, aku juga boleh berharap demikian.
Ingin rasanya. Malaikatku menitip pesan.
Masa pertama memang akan selalu jadi masa yang lebih sukar dibanding berikut dan seterusnya. Tapi aku belum menemukan pijakku sekarang ini.
Sepekan berlalu dengan hampa. Ada rasa senang, ada.
Sejenak ketika aku coba lupakan apapun yang berkecamuk dan kabur lari dari kamar emo ku. Ada bahagia, ada. Dalam hitungan jam ketika aku berjumpa dengan dirinya.
Meski cuma begitu bisanya. Tidak langsung tatap muka.
Tapi sudahlah,, semua sudah kupertimbangkan sebelum pengambilan keputusan.
Yang ada sekarang tinggal tuntutan menjalanan dan menghadapinya.
Ini konsekuensi, aku kenal betul dengan dirinya, dekat malah.
Orang bilang aku kurang bersyukur. Rasa rinduku yang mengukur. Atau aku menolak ditegur. Cuma dalam bisu ini aku bicara. Hingga meninggalkan lara supaya tak meningkat hingga duka. Pelarian rasa sedihku ya hanya ini. Jadi kusadari akan sering-sering mampir. Ke rumah yang sebenarnya. Di mana aku berasal. Kata. Mulai ada dari sana. Jika tidak, aku tak mungkin dikenal juga. Haha, bodohnya, jangan sampai kau lepaskan lagi cangkangmu! Ini sarangmu, tempatmu jadi bisa. Bahkan lebih lagi, ini IMPIAN! Kau tidak cukup bodoh untuk lalai hingga menghapusnya dari ingatan! Harus bisa, tolak kompromi. Banyak orang menunggu dan menanti, menumpu harap pada diri. Kau boleh kecewa mungkin, tapi tidak mereka, orang-orang yang kepadanya tak kau beri rasa sayang.
Jadi begini.
Diriku memahat biar muat dengan kondisi yang ada.
Kalau gagal, tinggal tidak nyaman.
Ada janggal yang terlihat cukup dipaksa.
Ssst, yang pegang kendali harus orang yang lebih stabil.
Mengalah bukan berarti kalah apalagi salah.
Baru kali ini aku manut rasanya soal itu.
Benarkah ingatanku?
Nampaknya
Sekejap saja aku jadi enggan untuk bedebat dan angkat suara.
Biar kata tak jadi saling adu dan buat naik darah.
Ya nda sampai segitunya.
Hanya lucu saja.
Manusia berubah karena cinta.
Bertahan, diam, dan berkorban juga dengan alasan yang sama.
0 comments :
Post a Comment