Ia Menyadarinya
Belum sempat kubagikan apa yang telah kulalui saja.
Jiwaku kini terperangkap dalam kerangkeng pembelenggu kemerdekaan.
Dalam dua hari ini.
Selama 48 jam ini.
Kupikir aku cerdik dalam menyimpannya.
Kuanggap aku pintar mengelabuinya.
Tapi tidak juga.
Bukan tempat yang menjadi jarak antara kita.
Bukan selisih saat sebagai perbedaan yang dirasa.
Ia tahu dan menyadari segalanya.
Tentang apa yang kurasa.
Tentang apa yang membahana.
Kenapa tak kubanjiri malam itu dengan tangis sendu di pundaknya?
Kenapa tak kulalui lebih lama untuk sempat mengenalnya?
Ah
aku tidak punya rasa tenang kini-kini.
belum bisa memejamkan mata untuk berharap tulus.
belum bisa menjelaskan apa-apa.
belum bisa menghela nafas lega.
Sampai kapan?
Teriaknya
Sapanya
Katanya
Bisiknya
Lirih menjawab
"malam ini, larut mungkin"
Oh, Tuhan
0 comments :
Post a Comment